July 09, 2013

Waktu Senja.

Aku bertemu kamu ketika warna langit oranye dan kesepian.
Di saat angin sedang dan air pasang menenggelamkan lagi batu-batu karang.
Matamu lepas ke tengah lautan dan bermain dengan gelombang.
Mata dan gelombang saling berkejaran hingga berserak ke bibir pantai.
Camar-camar hitam berterbangan saling-silang.
Menukik bersama angin dan nyiur melambaikan tangan.
Sebab hari menunggu di tiduri di ujung cakrawala.
Aku berjalan menghampirimu mengendap-endap bagai kepiting karang.
Membuat jarak lebih dekat dengan kesendirianmu.
Seperti butir-butir pasir yang melekat di telapak kakimu.
Namun tak ada bahasa aku hanya diam.
Kalimatku tenggelam di air pasang.

Sementara senja terus merayap melintas di rambutmu.
Ku coba raih tanganmu erat.
Namun tak sempat langkahmu kian ke ujung barat.
Memecah ombak di pinggulmu, terus kau dekati cakrawala.
Mungkin inilah waktunya ku berteriak, tapi tidak aku tak sanggup berteriak.
Percuma, dirimu pun terus terseret ombak. Camar-camar hitam terus berterbangan.
Aku semakin gelisah. Kau kian menjauh air lautan di atas dadamu.
Putingmu menyembul lalu perlahan tenggelam.
Aku termangu, aku terdiam.
Aku hanya bisa diam dan membiarkan kau pergi.
Meski ku masih ingin menikmati wajahmu namun ku rela, pergilah.
Lalu bintang-bintang bermunculan.
Segenap semesta hitam.

handypranowo 2012.

No comments:

Post a Comment