December 30, 2014

Tak Menjadi Bayang.

Kau tak ada di mataku saat aku butuh penglihatan dalam gelap kabut.
Kau pergi menjauh namun lupa kemana jejak langkahmu.
Kau tak hadir dalam hatiku saat aku butuh jawaban dalam sunyi yang kalut.
Kau sembunyi di tengah ilalang berduri hingga kulit halusmu tergores pedih.

Hasratku memberontak, jiwaku pucat merekah dalam karat.
Bibirku tertindas mengecup kenangan yang kian tenggelam ke dalam lidahmu.
Aku merintih, terkapar sendiri mencumbui denyut nadimu.
Yang sedari awal ku tahu kamu menyimpan lipatan yang sama karat.

Tapi kini kuarungi waktu sendiri.
Kau tak ada lagi, tak ada di mataku juga di hati.
Kamu seperti sisa hujan, mengalir dan menghilang.
Seperti genggaman tangan kita yang renggang di akhir musim.
Dan tak lagi mengenal sentuhan meski seujung jari.

Sebab kita adalah angin atau kabut atau pelangi dalam satu waktu hilang dan datang.
Tak pernah menjadi bayang, tak pernah menjadi kenangan.
Yang kekal hanyalah batas di mana kita pernah di temukan dalam satu ruang.
Dan itu cukup, cukup untuk mengenal setiap lekuk ujung rambut hingga kaki mu.

30122014

December 08, 2014

Membuka Lembaran Pagi Di Dalam Kereta Senja.

Setiap jengkal jarimu menghitung,
arah angin yang bergerak mendahuluimu.
Di rentang fajar ketika bintang timur masih berkilauan.
Dan kabut-kabut menari gemulai di atas dahan-dahan padi.
Gunung tenang di selimuti awan, engkau menatap tertegun.

Di dalam kereta yang terus bergerak mengajak kita merangkum jejak.
Serpihan-serpihan embun di balik jendela terhisap angin dalam satu lintasan.
Yang pernah retak bersama kenangan sebelum kau datang menyapa malam.
Pohon-pohon berlarian melawan arah memburu sisa-sisa masa lalu.
Yang telah lama kubuang bersama muntah di awal musim lalu.
Dan sekarang aku di sampingmu tenang.

Kereta terus bergerak melampaui batas jenuh kita yang duduk menghadap jendela.
Warna pagi yang semakin terang tak lekas membuat kita bertanya.
Apakah ada kabut atau kenangan kah yang tertinggal di setiap jarak yang berlalu.
Kita masih saja diam sambil memeluk tubuh.
Batu-batu kerikil diluar terlempar jauh di perlintasan.

Tiba-tiba mulutmu berkata menyebut dua nama gunung yang sedari tadi menatap kita.
Diam, tenang namun seakan terus bergerak gunung itu seakan tinggalkan pertanyaan yang banyak.
Kepada kita yang sedari tadi tak bergerak.
Sayang, ketika kita paham arti bersatu sesungguhnya maka di puncak gunung itulah jawaban dari semua kesetiaan.
Dan ketahuilah perjalanan ini hanyalah sebuah kisah yang pasti akan hilang.

Meski sempat kau menulisnya dalam sejengkal puisi di lembar kertas putih.
Seperti kereta ini yang membawa kita pergi jauh melintasi kota-kota.
Semakin jauh kita pergi, semakin hilanglah segala rindu dan sepi.
Maka selagi deru kereta yang nyaring berlari dan pagi yang kian mengembang melahirkan matahari.
Ku kecup keningmu setengah ragu sambil menyeka lembaran air mata yang menetes di pipimu.


Menulis Dirimu Dalam Sebuah Puisi.

Waktu terus berjalan dan berputar 
mengandung mimpi, mengandung sejuta harapan. 
Meski tanpa pintu dan jendela waktu selalu membuka celah untuk selalu bisa mengenal diri 
lalu di mana kamu, di mana kamu yang selama ini pernah menemani 
duhai kekasih bunga candu rindu yang bermukim dalam kalbu.
                                  
Ku kira samar namun ku coba menatapmu jauh lebih dalam. 
Kamu rindu di dalam cawan rindu yang terus mengalir. 
Kamu nyanyian dari bunga-bunga yang bermekaran di taman sepi. 
Maka segala puisi telah luruh dan ku kira kamu tahu aku tak pandai untuk itu. 

Tetaplah begitu sayang, kamu yang terbaik yang pernah ku kenal.
Aku akan terus menulis, sampai nanti, otak di kepalaku ini,, lupa mengingat kata. 
Aku akan terus menulis, sampai nanti, otak di kepalaku ini..lupa mengingat semua wajah. 
Dan aku akan terus menulis, sampai nanti, otak di kepalaku ini..
lupa mengingat senja, bulan, hujan yang pernah bermukim di kedua matamu yang merona bahagia.