March 26, 2014

Hujan malam ini.

Hujan kembali datang malam ini.
Mengetuki pintu tanah yang kering dan sepi.
Mengisi lumbung-lumbung air sumur tanah yang terkontaminasi.
Akar-akar ilalang di pekarangan berebut air meski akhirnya mati.

Pengap, lalu ku buka jendela.
Perlahan hawa hujan menyergap tubuhku.
Memberi isyarat di dalam keheningan yang pulas tertidur.
Kerisauan bangkit sejenak dan aku merenung.

Tuhan, sebenarnya mataku ingin berpamitan.
Namun rintik-rintik hujan malam ini mengingatkan aku pada suatu jarak
yang lama tertempuh.
Yang tak pernah aku kira meski jatuh jumpalitan aku melewatinya.
Entah di mana meski ku tempatkan.
Sedangkan jiwaku pernah beku dalam lautan kelabu.

Ku rebahkan kembali tubuhku memasuki lorong-lorong yang lusuh.
Gemericik hujan belum berhenti, burung-burung malam bersahutan.
Bayanganku luntur, memercik di tanah menjadi buih.
Lalu terinjak si pemabuk yang nyanyikan kesedihan.

Sementara jiwaku sempoyongan merobek semua kenangan-kenangan yang tersiram hujan.
Ku langitkan kembali semua kepadamu Tuhan.
Selamat malam















March 25, 2014

Lintas membara.

Berhenti di jalan senyap ketika bulan sepenggalan naik ke punggung.
Wajahmu pecah di udara dalam lintas kenangan.
Meninggalkan jejak luka yang tersiram arak.
Bagiku kau dewi dalam gumpalan hitam.
Yang ku jamah dalam ruang yang pengap.

Betapa telah puas ku tiduri ranjang tubuhmu yang berduka.
Berlelehan amis dari koyak yang meronta di paksa.
Bau keringatmu ku jilat bagai anggur di gelas terakhir.
Dari mana kita bertemu kasih.
Dari mata yang hilang kesadaran jiwa.

Kita sembunyi-sembunyi berbagi udara di malam yang rapuh, desahmu membentur kaca jendela.
Asa yang lahir di pucuk-pucuk cinta tumbuh subur menggeliat resah.
Seperti semak belukar di pekarangan basah.
Tanganmu di punggungku melukis bunga.
Dan aku bagai kumbang menghisap dadamu yang menawan.

Pada apa yang terjadi mengalirlah.
Sebab mendung masih melahirkan tanya.
Apa hujan atau tidak.
Dan di tanah yang becek kau lumuri aku dengan gegap gempita.
Nafasmu berserakan menjadi lumpur-lumpur yang liat susah di terka.

Hingga akhirnya kita diam dan terhentak di persimpangan jalan yang senyap.
Saat hujan mulai reda dan hanya rintik-rintik yang tersisa.
Lalu kata perpisahan bagai ajimat ampuh tak berkarat.
Ku gosok-gosokkan dalam hati.
Semoga segala kecewa terpisah di sini.










March 24, 2014

Tuuuuuuuuuuttttttt, preeeeeeeeeetttttttt

Tuuuuuuutttt, preeeeeeeeettttttt
kentut-kentut terdengar nyaring di mana-mana.
Di tengah-tengah kota di keramaian lalu lintas jalan.
Di pelosok-pelosok desa di heningnya suara alam.
Suara kentut membahana di iringi orkes dangdut dan artis-artis pengumbar syahwat.
Mau yang nasionalis maupun yang agamais habis orasi obral kentut lalu di goyang pantatnya.

Ini pesta demokrasi katanya, pesta pora para politisi kentuti rakyat.
Atribut-atribut dari bendera hingga pamflet seliweran.
Di atas panggung para jargon politik berbicara.
Tuuuuuuuttttt,preeeeeeettttt, brebebettttttttt brot.
Kamu kenal suara kentut siapa itu?
Baunya sedap membuat orang terpana dan lupa.

Kentut hijau, kentut kuning, kentut merah.
Kentut biru makin bau saja.

Kentut-kentut di kemas manis, di bungkus rapi jadi bahan buat di bagikan.
Rakyat tergoda, rakyat tak tahu maksud dan tujuannya.
Kamu tahu kentut, kentut itu berbau busuk.
Kentut politisi berbau tipu-menipu sama dengan kentut maling.
Artis-artis pun ikut-ikutan kentut, berbau materi dan tidak tahu diri.

Kentut hijau, kentut kuning, kentut merah.
Kentut biru makin di hina-hina.

Kentut semakin nyaring, sebentar lagi orang-orang akan memilih kentut yang nyaring dan sedap.
Dan kamu tahu kentut itu baunya busuk.
Kentut hijau, kentut kuning, kentut merah, kentut biru.
Tuuuuuuutttt, preeeeeetttt, brebebeeeeetttttt, brot, brot.
Kentut di panggung dan di mimbar.
Ayo mari rakyat dengar kentut-kentut kami niscaya kalian terpana, dan akan tergoda.
Bila nanti kentut kami yang menang dan partai kami juara.
Anda yang milih pasti saya berakin sebab kentut berbau busuk dan kentut melahirkan berak.


March 15, 2014

Untuk W.S Rendra.

Di dalam sepi aku membaca puisi-puisimu.
Kegalauan dan kelaparan serta demonstrasi pada kekuasaan yang brutal
menjadi nyanyian merak yang tak mau di pasung.
Kebebasan adalah hak katamu, namun kebebasan yang berguna dan baik bagi sesama manusia.

Engkau setia dan ikhlas pada hidupmu menyuarakan arus bawah yang kental penindasan.
Engkau tegar tak goyah sebab tahu mana yang mesti di perjuangkan mana yang mesti di hancurkan.
Goresan tanganmu keras bersaksi pada kehidupan.
Namun lembut menyentuh dinding-dinding kalbu sebagai peringatan.

Muncrat air ludahmu saat suaramu menggelegar membasahi sendi-sendi ketimpangan.
Kamu berjingkrak dan menari mengajak semua orang untuk tak bersedih dan menyerah.
Memahami hidup sebagai anugrah meski tak sepele namun jangan goyah.
Sebab di dalam puisimu hidup adalah mengolah, membajak, memutar balikkan tanah.
Akal dan pikiran sehat harus terus di kedepankan.

Tapi sebagai manusia kamu juga tidak sempurna.
Maka kamu berdoa di dalam puisimu meminta Tuhan menutupi kekurangan-kekuranganmu.
Aku terenyuh menatap pesona hidupmu yang liat, liar dan bersahaja.
Sambil terus mengepak sayap-sayap indah warna merak yang terus di buru.

Kamu cinta pada kehidupanmu yang singkat, kamu cinta pada alam raya.
Kamu cinta pada tanah airmu yang subur.
Maka bagai pepohonan yang tumbuh di halaman rumahmu.
Kamu memberi nafas dan udara segar.

Ini puisiku yang tak berarti dan aku bukanlah siapa-siapa.
Hanya ingin mengenangmu sambil terus memahami puisi-puisimu yang kasar dan lembut.
Di malam yang setengah telanjang ketika bulan dan bintang bersetubuh.
Lalu setelah ini ku kirimkan doa semoga Tuhan memberikan tempat untukmu.

handypranowo




Di dalam kamar kesendirian.

Lampu kamarku terlihat buram dan nampak bosan.
Dinding kamarku meriang dan batuk terkena angin malam.
Kabut asap dari mulutku berputar-putar, mabuk dan terkapar.
Aku rebahkan tubuhku.
Aku di cekik dalam kesendirian.

Nyanyian burung malam melengking menyayat kepedihan bagi mereka yang tertidur di trotoar, di kolong jembatan.
Sementara hura-hura muncul dari orang-orang yang terbiasa memperkosa.
Yang tidak pernah berbagi atas sesama.
Aku di tengah jaman yang semakin pudar rasa keimanan.
Hati nurani tidak ada lagi kecuali kalah dan menang.

Lampu kamarku semakin buram.
Dinding-dinding kamarku beku.
Bola mataku pecah dan berair.
Di mana mesti ku sandarkan mimpi.

Orang-orang di luar sana ramai bicara politik, bicara kesejahteraan.
Orang-orang di luar sana saling menggugat meminta keadilan.
Mereka saling bertengkar, saling berdebat.
Sementara waktu di ujung mulai bergeser kepada kepunahan.
Masih adakah dalam pikiran mereka untuk saling berpegangan tangan.

Entah apa yang ada dalam benakku saat ini.
Aku amati misteri hidup pelan-pelan mulai terkuak.
Bagai bongkahan batu-batu letusan gunung yang tergerus lahar.
Pecah terbelah dua dan terlihat dalamnya.

Ketakutan muncul meski jiwa harusnya tegar.
Rasa kalut dan bingung tak mungkin di pungkiri.
Di tengah euforia dunia yang menggebu-gebu kepada kuasa dan materi.
Aku ada di pihak mana, aku harus memilih apa.

Sementara Tuhan di jalan becek menunggu sambil menggigil.
Tak ada yang memberi santunan, tak ada belas kasihan.
Oh malapetaka, kacau balau isi dunia.
Dan aku bersaksi di dalam kesendirian pada mata hati yang mulai goyah.
Sebentar saja semua angan-angan dan kesombongan akan di luluh lantahkan.








March 06, 2014

Pertemuan pertama

Kemanakah perginya jalan angin.
Ke utara ataukah ke selatan.
Duhai Adinda adikku tersayang.
Di hatimu pulalah rinduku yang kau ingin.

Sebab di dadamu yang kini tumbuh daging.
Tumbuh pula hasratmu yang membara.
Sejak pertemuan pertama membuka jendela.
Mata hatimu bertautan dan kesunyian tidak lagi kau bagi dengan bintang.





Waktu di dalam cermin.

Waktu di dalam cermin berputar-putar.
Mengitari bias-bias parodi kehidupan.
Merekayasa bentuk hidup, nyawa yang di sewakan megap-megap.
Mengukur sampai di mana, sejauh mana engkau berjalan.

Menapaki kesunyian.
Memanjati tiang-tiang gelisah.
Mengukur pucuk-pucuk keberhasilan.
Dan ternyata segala suka dan duka bertempat dalam satu atap.

Raga yang goyah, jiwa yang lemah.
Sejatinya bukanlah apa-apa tanpa karunia.
Waktu di dalam cermin terus berputar.
Membayangi kehadiran Tuhan tanpa makna, tanpa sesalan.

Sementara kita terus melinting pengap.
Membakarnya dalam naluri yang berjejal sesat.
Mengelabui akal sehat.
Kita terjebak dalam kemacetan nurani.

Waktu di dalam cermin retak.
Melukai hati hingga darah tumpah membasahi bumi yang belum juga di mengerti
Untuk apa di buat.
Untuk apa berotasi.



March 03, 2014

Dimensi Baru.

Kenapa masih saja kau ingat, lembayung senja dan warna pelangi.
Sedangkan warna fajar telah memberimu jalan untuk kehidupan.

Kenapa masih saja kau resapi sepasang mata yang tak pernah kau cukil.
Sedangkan mata hati kau biarkan galau menggigil

Tanyakanlah pada dirimu ketika rasa gundah menyerap semua pikiranmu.
Bukankah kau telah hilang bentuk dalam perjalanan waktu yang membelenggu.

Kau berenang di samudera yang tak kau kenal, menyelami kedalaman yang gelap.
Maka menepilah ke bibir pantai, rasakan sentuhan angin dan hangatnya butiran pasir.

Tinggalkan semua partikel-partikel rindu yang lain, yang telah membentuk warna hidupmu.
Menjadi asing dan larut dalam kesendirian, bukankah itu fatamorgana!

Maka berhentilah bertanya dan diamlah.
Tak usah kau mencari lagi, sebab diam-diam rasa itu pun pergi.