Hujan kembali datang malam ini.
Mengetuki pintu tanah yang kering dan sepi.
Mengisi lumbung-lumbung air sumur tanah yang terkontaminasi.
Akar-akar ilalang di pekarangan berebut air meski akhirnya mati.
Pengap, lalu ku buka jendela.
Perlahan hawa hujan menyergap tubuhku.
Memberi isyarat di dalam keheningan yang pulas tertidur.
Kerisauan bangkit sejenak dan aku merenung.
Tuhan, sebenarnya mataku ingin berpamitan.
Namun rintik-rintik hujan malam ini mengingatkan aku pada suatu jarak
yang lama tertempuh.
Yang tak pernah aku kira meski jatuh jumpalitan aku melewatinya.
Entah di mana meski ku tempatkan.
Sedangkan jiwaku pernah beku dalam lautan kelabu.
Ku rebahkan kembali tubuhku memasuki lorong-lorong yang lusuh.
Gemericik hujan belum berhenti, burung-burung malam bersahutan.
Bayanganku luntur, memercik di tanah menjadi buih.
Lalu terinjak si pemabuk yang nyanyikan kesedihan.
Sementara jiwaku sempoyongan merobek semua kenangan-kenangan yang tersiram hujan.
Ku langitkan kembali semua kepadamu Tuhan.
Selamat malam
Mengetuki pintu tanah yang kering dan sepi.
Mengisi lumbung-lumbung air sumur tanah yang terkontaminasi.
Akar-akar ilalang di pekarangan berebut air meski akhirnya mati.
Pengap, lalu ku buka jendela.
Perlahan hawa hujan menyergap tubuhku.
Memberi isyarat di dalam keheningan yang pulas tertidur.
Kerisauan bangkit sejenak dan aku merenung.
Tuhan, sebenarnya mataku ingin berpamitan.
Namun rintik-rintik hujan malam ini mengingatkan aku pada suatu jarak
yang lama tertempuh.
Yang tak pernah aku kira meski jatuh jumpalitan aku melewatinya.
Entah di mana meski ku tempatkan.
Sedangkan jiwaku pernah beku dalam lautan kelabu.
Ku rebahkan kembali tubuhku memasuki lorong-lorong yang lusuh.
Gemericik hujan belum berhenti, burung-burung malam bersahutan.
Bayanganku luntur, memercik di tanah menjadi buih.
Lalu terinjak si pemabuk yang nyanyikan kesedihan.
Sementara jiwaku sempoyongan merobek semua kenangan-kenangan yang tersiram hujan.
Ku langitkan kembali semua kepadamu Tuhan.
Selamat malam