December 31, 2013

Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu.

Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang hujan yang kau hayati
Aku ingin beranjak pergi setelah ini atau setelah usai hujan berhenti dan mungkin aku ingin sendiri
Ku tahu betapa rindunya kamu pada diriku, dan aku tidak akan lupa pada lembut bibirmu yang ku resapi
Saat musim hujan baru saja tiba dan ia baru saja meletakkan tumpukan mendung di langit tua

Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang senja yang kau senangi
Aku ingin beranjak pergi setelah ini atau setelah usai senja menutup hari dan mungkin aku berjalan sendiri
Ku tahu betap rindunya kamu pada diriku, dan aku tidak akan lupa pada gelombang rambutmu yang ku selami
Saat kita asyik berbincang tentang senja yang maroon dan semilir angin bawa harum lembut luka.

Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang purnama yang kau harapkan.
Aku ingin beranjak pergi setelah bulan tertidur di pekarangan atau mungkin mengendap dalam kegalauan
Ku tahu betapa rindunya kamu pada diriku, dan aku tidak akan lupa saat pertama kali menjamah dadamu dalam gelap.
Saat kita menunggu purnama datang di puncak bukit di antara hutan pinus yang rindang, burung hantu merayap di atas ranting hatimu yang rapuh serta bimbang.

Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang Desember yang sebentar lagi akan hilang.
Aku ingin beranjak pergi setelah tahun berganti dan menelanjangi sendiri semua rasa ini
Ku tahu betapa rindunya kamu pada diriku dan aku pun begitu pada lenguh pertamamu di telinga dan pelukan erat di pinggangku
Saat kita terasing oleh hujan, senja, dan purnama hingga kita melewati Desember ini dengan kesedihan dan luka yang sama lalu aku bertanya di mana lautan, di mana cakrawala, di mana segala debur resah akan terpecah bila ternyata kita masih saling merindukan.

Aku tidak ingin lagi menulis puisi, aku ingin diam saja dan sepi bersama semua rasa ini.

Handy Pranowo 311213

December 10, 2013

Sajak Orang-Orang Terlantar.

Kita adalah biji mata dari sang malam

Yang buta melangkah dalam kegelapan

Yang selalu di bidik kesepian

Kita adalah paru-paru yang berebut udara dalam ruang yang pengap

Yang di cemarkan oleh keadaan dan kenyataan

Yang selalu di buru kesedihan


Kita adalah tangan-tangan yang terbiasa terikat dalam lingkaran kekuasaan

Yang dapat di politisasi kaum birokrat bila kehabisan akal-akalan

Kita adalah suara-suara lantang yang terus meneriakan kebosanan

Yang selalu di jebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan-tuduhan makar


Oh aku menghirup bau udara pengap memabukkan

Aku mencium bau anyir pengkhianatan

Aku mencium bau busuk korupsi di tiap-tiap sudut instansi pemerintahan

Di tengah hiruk pikuk pembangunan yang atas nama kesejahteraan


Aku bilang tidak ada kesejahteraan

Kesejahteraan adalah biang kerok dari janji-janji politisi murahan

Yang di jejalkan kepada telinga-telinga rakyat terlantar

Aku bilang kemewahan yang sesat sebab hanya untuk mereka saja yang bergelimpangan kekuasaan

Kekuasaan yang di putar-putar dalam lingkaran persaudaraan


Kita adalah biji mata dari sang malam

Yang buta melangkah dalam kegelapan

Yang selalu di bidik kesepian


Kita adalah paru-paru yang berebut udara dalam ruang yang pengap

Yang di cemarkan oleh keadaan dan kenyataan

Yang selalu di buru kesedihan




December 09, 2013

Ballada Petani Tua

Kepada siapa Tuhan alamatkan rintik-rintik hujanNya.

Sedang engkau tak mau lagi menerima datangnya hujan bahkan di musim tanam.

Tanah-tanah yang kering yang dulu biasa kamu olah dengan kesabaran kini hilang dan beraspal.

Sedangkan kamu telah lenyap tersambar halilintar kehidupan yang tak masuk akal.



Aku memang sedikit kecewa dengan keputusanmu

untuk menggadaikan sebidang tanah  yang dulu pernah engkau harapkan.

Kebun sayur mayur yang segar.

Ternak-ternak yang gemuk dan menggembirakan.

Kini hanyalah sepenggalan kenangan yang usang.



Aku tidak menyalahkanmu sepenuhnya.

Meski aku tahu kamu mencoba untuk bertahan.

Namun para cukong-cukong itu teramat kuat untuk di lawan.

Sedangkan kamu tak pernah sedikitpun dapat bantuan.

Kecuali menjelang pemilu atau lebaran.


Padahal mereka tahu kamu tak bisa bekerja di pabrik.

Sebab kamu renta dan anak-anak lelakimu meninggalkanmu jauh ke kota

menjadi pedagang kaki lima dan buruh upah yang mesti pintar-pintar mengelola pendapatan.

Kamu juga tidak dapat mengetik surat dan membuat laporan administrasi

Sebab untuk sekolah jaman dahulu hanya bagi orang yang berduit.


Kini kamu hanya diam dan merenung di  dalam rumahmu.

Sambil menikmati secangkir kopi dengan pemandangan yang tidak lagi hijau.

Di temani  istri yang tidak lagi mampu melihat wajahmu yang berkerut.
Semua nampak berkabut  sebab asap pabrik angkuh mengepul.


Bulan demi bulan uang hasil menjual tanah pun mulai surut

Tak ada lagi yang kamu harapkan kecuali bantuan anak-anakmu untuk sekedar makan.

Kini otot-ototmu mulai kendur dan tidak sanggup seperti dahulu.

Guyuran hujan tidak lagi kamu syukuri sebagai kenikmatan.

Justru tragedi yang kamu sesalkan sebab air hujan tidak lagi meresap.

Yang ada hanyalah limbah-limbah pencemaran yang mengalir di depan kali rumahmu.

Pada siapa lagi kamu mengadu sebab gelisahmu terantuk birokrasi yang kusut.







December 04, 2013

Jakarta Fucking City ( Macetnya Jakarta, Jakartanya Macet )


Pagi hari 6.30 belum juga mandi dan sarapan
tapi bunyi klakson dan knalpot kendaraan
bikin telinga pekak jadi nggak sabaran
lihat tuh di depan rumah
kendaraan antri panjang bikin rusak pemandangan
bikin polusi asap mengganggu pernafasan
bikin gang dan jalan raya macet nggak karuan
yang naik motor nguber kreditan
yang naik mobil nyari obyekan
yang didalam bus dan angkot teriak nguber setoran

Jakarta macet, macetnya Jakarta
yang jalan kaki ngesot di trotoar
sebab sudah keduluan sama parkir-parkir liar
pedagang-pedagang kaki lima ya sama saja berebutan
sama dengan saya tidak tahu harus bagaimana
tidak tahu lewat jalan yang mana

Tolong Pak Gubernur bikin solusi untuk Jakarta
Biar aman dan nyaman sejahtera
Selain waduk dan sampah yang di keruk
Keruk juga otak dan hati para penduduk
Biar kagak kotor, biar kagak ngeres
Biar kagak adu jotos kalau lagi di jalanan
Biar pade tertib dan nggak melanggar peraturan

Jakarta macet, macetnya Jakarta
Jalannya sempit dan banyak lubangnya
Kendaraannya banyak tapi kredit semuanya
Yang untung yang punya pabrik
Yang bingung yang pada nyicil
sebab gajinya habis buat beli bahan bakar percuma
maka dari itu mereka demo minta kenaikan upah
bakar-bakar ban di jalan bikin macet
berharap dapat tambahan  biar ngebul dapur di rumah

Jakarta macet, macetnya Jakarta
Pak Gubernur  kan tau kalo Jakarta isinya bukan orang kaya saja
mall dan plaza tolong jangan lagi di bangun
apalagi apartemen yang gua sendiri kagak sanggup tinggal disana
wujudkan taman-taman dan hutan-hutan kota buat pernafasan
wujudkan alat-alat transportasi yang murah
bangun rumah-rumah hunian yang ramah
yang bisa juga terjangkau rakyat menengah ke bawah

Jangan melulu mikirin proyek yang gedean dari pengusaha-pengusaha celamitan
Mending mikirin bagaimana Jakarta nggak kebanjiran.
Ingetin penduduknya supaya buang sampah jangan sembarangan
Sungai dan kali bersihin biar kagak banyak sumbatan
Biar jangan pada bingung dan belingsatan
Kalo hujan turun jadi nggak kebanjiran

Macetnya Jakarta, Jakartanya Macet
Udah dulu sekian dari sana
Pak Gubernur yang baik tolong Jakarta di jaga
Sebab apapun ceritanya Jakarta tetap aye setia

Handy Pranowo


August 16, 2013

Nasionalisme di atas kapal pesiar.

Ini tahun kedua saya merayakan hari kemerdekaan Indonesia di negeri sendiri.  Beberapa tahun yang lalu tepatnya sejak 2008 sampai 2011 saya selalu merayakan hari kemerdekaan di negeri . Saya adalah mantan Tenaga Kerja Indonesia yang pernah bekerja di kapal pesiar. Selama saya bekerja di kapal pesiar dulu, saya pernah merayakan hari kemerdekaan di tiga negara yang berbeda di tiap tahunnya. Pertama kali saya merayakan hari kemerdekaan di Dubrovnik, Croatia di atas kapal Nordam, lalu Dublin, Irlandia di atas kapal Westerdam dan terkahir di Warnemunde, Jerman di atas kapal Rotterdam. Ada sesuatu yang berbeda bagi diri saya pribadi, sesuatu yang lebih khidmat dan sakral saat saya merayakan hari kemerdekaan di negeri orang lain.

Mungkin karena jauh dari negeri sendiri jadi rindu nasionalisme itu sangat menggebu, terlebih lagi saya selalu terlibat dalam kepanitiaan tujuh belasan.  Namun meskipun jauh dari negeri sendiri perayaan hari kemerdekaan berlangsung sangat-sangat meriah.  Para awak kapal pesiar khususnya warna negara Indonesia sangat antusias menyambut hari kemerdekaan Indonesia.

Begitu banyak acara dan jenis-jenis pertandingan yang di selenggarakan di atas kapal layaknya perayaan hari kemerdekaan di negeri sendiri. Antara lain adu gaple, catur, PlayStasion soccer, tarik tambang, balap karung, makan kerupuk, masukan paku ke dalam botol, lomba bakiak dan masih banyak lagi. Seluruh awak kapal khususnya warga negara Indonesia di wajibkan ikut serta, tentu saja mereka sangat senang mengikuti segala perlombaan yang di selenggarakan.  

Juga untuk mengobati kerinduan akan tanah air Indonesia di samping itu hadiah-hadiah para pemenang lomba lumayan bagus. Namun tidak menutup kemungkinan bagi peserta lain di luar warga negara Indonesia pun boleh ikut serta.

Sebulan sebelum hari 17 biasanya kita bentuk kepanitiaan, seksi lomba sampai team akomodasi pun di bentuk, tidak main-main kita bekerja bahkan dana yang di habiskan pun bisa sampai jutaan rupiah.  Tapi memang ada budget khusus buat hal itu dari pihak perusahaan kapal kami. Saya pun tidak tahu pasti jumlahnya namun cukup lah untuk mengobati rasa rindu kemerdekaan.

Kita juga membentuk team paskriba dan menunjuk pemimpin upacara. Biasanya untuk pemimpin upacara selalu pilih dari awak kapal yang bertugas sebagai  Sailor. Dan untuk team paskibra kita rekrut dari crew yang bekerja di restoran atau housekeeping.  Lima atau tiga hari sebelum hari 17 team paskibra berlatih satu jam di dek anjungan.


Sebab sudah menjadi kebiasaan upacara bendera di langsungkan di dek anjungan kapal. Kita juga membuat kaos untuk kepanitian dan sisanya kita jual untuk awak kapal yang ingin membeli. Satu kaos di hargai 30 dolar US.

Yang paling mengasyikan dan tidak kalah menarik ialah hanya di hari kemerdekaan sajalah tersaji makanan-makanan tradisonal Indonesia seperti lontong sayur, bakwan goreng, kentang balado dengan teri, tahu tempe di samping  menu makanan eropa dan amerika pun tetap di sediakan. Restoran khusus crew kapal di desain sedemikian mungkin dengan warna-warna merah putih, bak jamuan makan malam di istana negara. Dan itu terjadi di atas kapal pesiar. Sunguh-sungguh sangat menyenangkan tetapi juga mengharukan.

Bila hari 17 tiba biasanya ada pengumuman langsung dari kapten kapal agar seluruh awak kapal yang berkebangsaan Indonesia di wajibkan mengikuti upacara bendera tentu juga tidak semuanya karena ada juga beberapa dari mereka yang bekerja. Upacara di selenggarakan tepat jam tujuh pagi. Ada juga beberapa tamu kapal ( orang asing ) yang meliput upacara bendera tersebut. Tentu saja kebanyakan dari mereka orang-orang Belanda termasuk kapten dan jajaran staff-staffnya.

Setelah upacara bendera selesai biasanya di adakan perlombaaan sekitar pukul sepuluh siang sampai jam 3 atau jam 4 sore. Untuk perlombaan seperti balap karung,  tarik tambang dan bakiak biasanya kita adakan di luar atau di pelabuhan tempat kapal bersandar. Terakhir kemarin saya berada di kota Warnemunde, Jerman. Ada juga beberapa tamu kapal yang ikut serta dalam acara perlombaan. Sungguh-sungguh sangat menyenangkan dan tak kalah meriah dengan perlombaan di negeri sendiri.

Dan pada malam harinya di adakanlah pesta yang sangat meriah di atas kapal, ada band atau alat-alat musik yang mengiringi, siapa saja boleh tampil. Ada juga DJ ( music house ). Seluruh awak kapal boleh ikut serta baik Indonesia, Filipina, India, Amerika, Belanda, Inggris,Jerman, Australia semua  berkumpul dan merayakan hari kemerdekaan Indonesia.






August 12, 2013

Nyanyian Sumbang Burung Garuda.

Setelah kalian bakar dan merusak rumah tempat ibadah kami, kalian bantai juga keluarga kami.
Entah apa yang merasuki kalian hingga amarah dan kebrutalan bagai gerombolan serigala yang lapar.
Atas nama apa?
Dan bagaimana kalian mempertanggung jawabkan semua.
Apakah hal yang salah bila kami meyakini keimanan yang bukan kalian yakini.
Apakah itu mengganggu hidup kalian?
Ataukah juga mengganggu mata pencaharian kalian?
Apakah dengan melempari batu, membakar rumah ibadah, menyeret-nyeret,
dan memukul-mukul orang yang kalian anggap sesat di katakan benar dan menurut ajaran Tuhan?

Bukankah perbedaan adalah sesuatu hal untuk saling mengenal.
Dan bukannya saling menjegal.
Bukankah perbedaan adalah karunia dan bukannya malapetaka.
Dan ingatlah Tuhan tidak pernah menurunkan azabnya hanya karena berbeda keyakinan.
Kalau sebab itu, sudah dari dulu peradaban musnah.

Aku bimbang dan ragu atas semua ini.
Hidup di negeri Indonesia mengapa seperti ini.
Seperti sebuah siasat busuk namun aku tak mengerti.
Aku terenyuh, murung menatap langit yang diam,
sementara saudaraku terus di pasung di biarkan terlantar tanpa keadilan.

Di mana negara yang katanya berdaulat sedangkan hak paling dasar manusia tak bisa di rawat.
Di mana pemimpin yang bijaksana yang sanggup menyelesaikan penderitaan rakyatnya.
Di mana?
Kini kami meminta perlindungan.
Kami seperti terasing di tanah kelahiran kami sendiri.
Kami seperti tak punya tempat di negeri ini.
Padahal leluhur kami berjuang demi bumi pertiwi.
Tak mengenal siang dan malam dan tak memperdulikan perbedaan.
Demi kejayaan tanah Indonesia Raya.

Apa gunanya hidup tanpa keyakinan.
Apa artinya keyakinan bila harus di paksakan.
Bukankah daulat hidup manusia untuk berkeyakinan di berikan Tuhan tanpa paksaan.
Tetapi kalian kok berani-beraninya melebihi Tuhan.

Di mana negara yang katanya berdaulat dan mengedepankan hak asasi manusia.
Di mana pemimpin yang bijaksana yang katanya menjunjung bhineka tunggal ika.
Berbeda-beda tetapi satu juga.
Di mana?
Kini kami meminta perlindungan.
Kami seperti terasing di tanah kelahiran kami sendiri.
Kami seperti tak punya tempat di negeri ini.
Padahal leluhur kami berjuang demi bumi pertiwi.
Tak mengenal siang dan malam dan tak memperdulikan perbedaan.
Demi kejayaan tanah Indonesia Raya.









July 29, 2013

Mbah Pardi.

Apabila malam telah datang menuruni lembah langit
Bayang rembulan koyak melengkung di dinding dan atap genting.
Dan gerombolan kelelawar dengan sayap compang-camping menyerang gelap.
Mulailah Mbah Pardi memainkan gamelannya di temani,
secangkir kopi hitam dengan sejuta masa silam.
Asap mengepul dari mulutnya, harum tembakau lokal mengingatkannya pada masa perjuangan.

Lampu di dalam rumahnya redup, bagai raut mukanya yang memasuki senja.
Biru, kelabu, abu-abu warna-warna yang telah tertempuh.
Kenangan-kenangan terdampar berjejal sambil mendengarkan syahdu tembangmu.
Menggemalah sampai ke langit hingga malaikat menyempatkan diri untuk singgah.

Semua diam , terlalu diam untuk menyimak tembang yang di mainkan, hanya sesekali malaikat terlihat gelisah sambil mengusap dada pandangannya kian lemah ke arah pemain gamelan.
Lukisan-lukisan,
kursi dan meja ukiran dari Jepara, 
sebuah pigura dengan foto diri  bersama istri,
serta senapan yang tergantung di samping seragam militermu
seakan penonton setia yang tak pernah beranjak dari tempat duduknya.

Istrinya telah mangkat terlebih dahulu karena stroke.
Seorang wanita yang lagi lembut dan bermata teduh telah menamatkan perjalanannya sebelum ia.
Tinggallah Mbah Pardi sendiri sebab ia tanpa keturunan, pensiunan militer yang kesepian.
Menempuh segala sepi dan sunyi di masa akhir hidupnya

Lalu masuklah aku tanpa mengetuk pintumu menyerobot tempat malaikat yang sudah duduk di sampingmu sedari tadi.
Kataku tunggu, tahanlah barang sebentar sebab belum waktunya sang pejuang pasrah.
Sebab tak kah kau rasakan gairah pemberontakan masa silam yang terus berkobar.
Berjuang demi hidup dan kehidupan untuk tanah air nan gemilang.
Atau tak juga kah kau dengarkan kerinduan yang mendalam akan istri tercinta yang pasrah dalam hidupnya.
Bau tembakau kian melekat memenuhi paru-paru yang sesak.
Kopi hitam mengental , gamelan terus berbunyi sesuai tembang.
Oh sungguh ini malam tenteram.

handypranowo

July 27, 2013

Cirebon ( 27 July 2005 ).

Tepat jam 11 siang setelah usai upacara pemakaman ayahmu aku pamit pulang. Sebenarnya tak kuasa juga meninggalkanmu sendiri di saat seperti ini,  tapi bagaimana pun aku harus kembali ke Jakarta. 

Tatapan matamu tak lagi berair seperti tadi malam atau saat kau lihat jenazah ayahmu masuk ke liang lahat. Wajahmu terlihat semakin cerah di balik kerudung hitammu. Namun tetap kau cengeng kekasihku. Bagiku ini lebih dari tanda kesetiaan cintaku untukmu. Ini adalah penghormatan terakhir kepada ayahmu yang ku kenal baik sebelum aku memacari putri kesayangannya. 

Suara mimi menyadarkan aku kalau waktu sudah bergerak setengah jam dari pukul sebelas tadi. Ia menyarankan untuk segera berangkat sebelum nanti ketinggalan kereta.  Aku harus pergi, jam enam sore nanti aku harus sudah di Jakarta dan masuk kerja.
Dengan menumpang elf kau antarkan aku sampai stasiun. Jam 12 siang tepat kita sudah sampai di stasiun Cirebon. Sebenarnya aku tak ingin kau antarkan aku namun tetap kau memaksa dan mimi menginjinkanmu. Segera ku datangi loket pembelian karcis kereta yang menuju Jakarta (Cirebon Express ). Ternyata menurut informasi petugas tiket kereta berangkat jam dua siang. Masih ada waktu dua jam bersamamu di sini untuk bicara. 

Tadi malam kau menangis hebat saat kau mendengar ayahmu telah tiada. Aku di sampingmu, memegang erat tanganmu. Bulan terlihat cekung malam itu. Kita baru saja selesai bertengkar. Kamu menangis seperti biasa dan memaki diriku kalau aku lelaki yang tak bertanggung jawab dan tak sungguh-sungguh. Namun tetap kau cengeng kekasihku. Bukankah sudah kita tahu kalau perbedaan keyakinan ini akan membuat jurang di antara cinta kita. Tapi inilah cinta. Dan kita sedang menikmatinya. Kedangkalan berfikir untuk bersama dibatasi oleh sebuah perbedaan yang dalam. Nafsu dan amarah sering kita bagi dalam pelukan.

Stasiun ini terlihat begitu lengang. Hanya ada beberapa orang yang menunggu duduk di kursi plastik berwarna merah yang sejajar dengan jalur-jalur sepur. Beberapa pedagang asongan terlihat mengantuk di pojok-pojok bangku stasiun kereta. Kau dekap aku. Kau bisikan padaku. Apakah aku masih sayang padamu. Aku jawab iya. Kini semakin aku tak bisa meninggalkanmu. Aku tak mungkin bisa. Sekeras apapun yang menghantam bagaimana aku bisa meninggalkanmu. Ku alami kelumpuhan di dalam hatiku saat ku lihat wajahmu memelas. Kau ciumi ujung-ujung jariku. Aku menoleh dan memperhatikan kesibukanmu. Kerudung hitam tak lagi kau kenakan. Kesedihan telah pergi bersama dengan malaikat yang datang. Kini iblis merasuki dirimu. Namun tetap kau cengeng kekasihku. 

Bukankah dua tahun kita lewati dengan sembunyi-sembunyi dan menyelinap bersama kecoa dan nyamuk di dalam kamarmu yang sempit. Lalu telanjang dan menari bersama bulan. Meski kita tahu semua hanyalah sekedar nafsu. Gelegak jiwa muda yang mudah oleng bila terbentur peristiwa dan kita telah jauh mengalaminya.

Aku berdiri sejenak meluruskan penatku, tiba-tiba mataku tertuju ke sebuah menara yang tidak begitu jauh dari stasiun ini. Ya itu menara gedung Grage. Setahun yang lalu kita berkunjung ke sana, sambil menyantap masakan khas Cirebon yaitu Empal Gentong. Kau tambah nasimu dan kau terlihat rakus dan gendut saat itu. Kita memang mempunyai hobi yang sama yaitu kuliner ke suatu daerah yang kita kunjungi.
Matamu bulat indah, kulitmu kuning langsat membungkus daging di tubuhmu. Kau memang cantik. Aku sangat mencintaimu. 
Bukan lantaran buah dadamu yang montok atau pantatmu yang gempal seperti biji salak. Namun jujur aku mencintaimu. Saat pertama kali aku melihatmu. Kau terlihat sederhana dari wanita-wanita yang pernah ku pacari. Kau terlihat lugu, polos dan ikhlas. Entah seperti magnet kau menarikku masuk ke dalam keterasingan dirimu. Kamu perawan cantik. 

Tiba-tiba suara mikrofon stasiun terdengar. Pemberitahuan dari kepala stasiun kalau dari arah utara masuk kereta Bima menuju Jakarta. “Abang, kapan abang ajak aku naik kereta? Tiba-tiba terdengar suaramu memecahkan kegaduhan suara mikrofon stasiun. 
“Naik kereta? Mau kemana?. Aku tak tahu. Aku tak punya ide untuk itu. 
Kita diam sejenak sambil terus memperhatikan kereta yang datang. Gemuruh kereta semakin terdengar dan melintas di depan kita duduk. Tanpa permisi menghantam semua keresahan sepasang kekasih. Satu detik, dua detik, tiga detik dan hitungan ke enam kereta mulai menjauh dan gemuruhnya mulai terdengar samar. Pertanyaan mu tak kujawab ku biarkan pergi bersama kereta itu ke Jakarta.

Setelah jauh kereta berjalan kau bicara lagi padaku. Ini terdengar serius. Wajahmu pun terlihat seperti tadi malam saat kau marah padaku. Satu-persatu penumpang kereta yang menuju Jakarta mulai berdatangan. Jam satu kurang sepuluh menit. “Bapak ingin sekali melihat aku menikah. 
Tapi bapak takut, jangan-jangan aku menikah bukan dengan abang”. 
Tiba-tiba detak jangtungku seperti berhenti mendengarkan ucapanmu. Apa yang kamu harapkan dan bapakmu inginkan aku tak tahu. Mulutku terekat. Beberapa kali aku menelan ludahku. Kemudian dingin menggumpal di dalam tubuhku. Bukankah kita sudah tahu setelah setahun berjalan. Kita berbeda keyakinan. Justru belakangan ini, itulah yang membuat kita sering bertengkar. Namun tetap kau cengeng kekasihku. 

Aku memang terburu-buru. Aku memang salah mengawali semua ini. Namun penyesalan ini tidak seperti pasang judi nomor dan melesat tembakannya. Aku sering menghitungnya di tiap malam. Dan tiap malam itu pula kau merobek angka pasangan ku. Aku bilang kamu diam saja. Mending kamu hitung angka kesuburanmu sebelum aku menciummi bulan di perutmu. Kamu menangis. Kamu selalu menangis.

Aku kembali teringat saat terakhir melihat kondisi ayahmu. Setahun yang lalu sebelum penyakit stroke benar-benar melumpuhkan hidupnya. Jalannya tak lagi gagah, kakinya menyeret tanah merah yang kini telah menguburnya dalam-dalam. Aku terharu, pandangan matanya berair saat melihat anaknya bersama pemuda brengsek yang sering mencuri tempat belakang warungnya untuk mabuk-mabukan. Namun ku lihat beliau pasrah. Tak berharap banyak apa yang di lihat. Beliau tersenyum aneh. Aku duduk di samping beliau. Wajahnya lesu dan lelah. Nafasnya tersenggal sesekali terbatuk. Belum juga genap 50 tahun. Beliau sudah letih untuk berjalan. Aku tak menyangka kalau beliau yang seumur ayahku itu mempunyai anak yang cantik. Beliau tak pernah mengenalkan anaknya padaku. Maka dari itu ia terkejut dan semakin lumpuh hidupnya. Ketika beliau tahu anaknya dalam cengkramanku.

Sebentar lagi waktu untuk berangkat. Rangkaian gerbong kereta Cirebon Express terlihat di tarik lokomotif memasuki stasiun. Kehangatan mulai menjalar kembali diantara denyut nadi yang bersentuhan. Di tanganmu kurasakan getaran itu. Pedagang-pedagang asongan mulai bangun dari tidur siangnya. Berjalan kesana kemari menawarkan dagangannya. Jam setengah dua. Suara mikrofon stasiun terdengar kembali. Mengingatkan para penumpang yang menuju Jakarta untuk bersiap-siap. Ku seka butiran keringat di dahimu. Wajahmu seperti enggan ku tinggalkan. Ku perlihatkan kembali lembaran kertas putih kepadamu. Gerbong D.26. Detak jarum jam cepat berlalu tak perduli kegelisahanku saat bersamamu. Sejuta ragu dan pertanyaan menyumbat kepalaku. Aku lalu membanting pertanyaan itu dan menghancurkannya berkeping-keping. 
Di ujung bibirmu yang merah basah keluar suara. “Hati-hati bang.” sambil berdiri pandanganku jauh mencari gerbong yang sesuai tertera di lembaran karcis. Beberapa penumpang sudah berebut naik ke dalam gerbong kereta api. Aku masih di luar berdiri di sampingmu duduk. Lima belas menit lagi perpisahan ini datang. Stop. 

Tak bisakah berhenti waktu ini sejenak. Untukku menyelami kegelisahan dan kesedihan hatinya.
Kurasakan getaran tanganmu makin tegas saat kau bangkit. Sejuta rasa berbaur resah dengan bunyi peluit kereta yang tak ingin menunggu lama untuk bergerak. Meninggalkan stasiun ini dan dirimu yang sedih. Tubuhku limbung. Kau menangkap pinggangku. Aku tersentak lalu mencium jidatmu. Kamu memang cengeng kekasihku. 
Sudahlah jangan terlalu di pikirkan semua. Aku tunggu kamu di Jakarta. Lalu perlahan ku berjalan mendekati pintu gerbong kereta. Bagiku ini adalah keberanian untuk mencintaimu dan juga meninggalkanmu. Seperti apa hukumannya. Kamu dan aku suatu saat akan terpisah. 
Aku tak meyakini apa yang kamu yakinkan begitupun kamu tak meyakini apa yang ku yakinkan.

Aku sudah di dalam gerbong. Kau berdiri dengan wajah yang lemah memandangku dalam. Rasa sakit kembali mengurungku saat meninggalkanmu sendiri. Tuhan aku tak ingin jauh darinya. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkannya. Hasratku adalah dirinya yang setengah telanjang tergeletak di pangkuannya. Kelembutan dan kesabarannya yang menohok tenggorokkanku untuk lepas dari kecanduanku terhadap alkohol dan narkoba. Hingga pernah ku muntah dan tergeletak dan kau yang menolong nyawaku.

Semalam kita bertengkar lagi dan pertengkaran yang paling hebat di antara pertengkaran yang terjadi. Aku menyesal sungguh sangat menyesal. Aku berjanji dirimu tak mungkin pernah ku lupakan meski apapun yang terjadi nanti. Bunyi derit roda besi terdengar. Kereta bergerak perlahan. Aku mulai mengukur jarak tempat dudukku di dalam gerbong ini dengan dirinya yang berdiri di luar. Satu meter, dua meter, tiga meter. Hanya terlihat tangannya terus melambai ke arah tempat dudukku. Sambil pelan langkah kakinya berjalan. Masih dengan senyumnya yang getir. 
Mataku tak lepas melihatnya hingga jauh dan ia tak terlihat lagi. Kereta ini telah menceraikan semua kesedihan dan rasa inginku padanya yang berlebih.

Makasih buat cigarette, my little sweet.






July 26, 2013

Tentang Suatu Maksud.

Kemarin malam kita duduk bersama di bibir pantai.
Dekat bebatuan karang dan mata kita menatap bintang.
Angin laut dan cahaya bulan meresap ke dalam pori-pori.
Kita saling bergenggaman tangan meski jarak aku dan kamu tak lagi berdekatan.
Ombak sesekali datang berhamburan menyeret kenangan masa lampau yang tak pernah usai gemercik buih meletup di ujung jari-jari kaki.
Hasrat kita terdesak oleh sejuta rindu yang angkuh dan sepi.

Hmm harum rambut dan tubuhmu masih sama sejak ku tinggalkan kamu tiga tahun yang lalu. Harum yang membuatku bergairah dan selalu berakhir gemetar di sampingmu.
Namun kini tak ingin lagi ku beringas,
meski ku tahu tanda di matamu mengatakan setuju.

Sambil terus menatap bintang kita terjerumus dalam haru biru.
Lalu dingin merayap dari tengah lautan.
Memaksa kita untuk beranjak pergi meski maksud-maksud dalam hati belum lagi di utarakan. Maksud-maksud yang dulu pernah kita impikan.
Harus hilang dan lenyap sebab suatu perbedaan.

Pertemuan kita saat ini hanyalah ketiadaan belaka.
Hanya membuka teka-teki yang sudah terjawab.
Tak ada maksud tak pula bermakna.
Hanya saja aku bimbang untuk apa pula kita di sini.

 handypranowo

July 25, 2013

Rayuan Sedap

Bolehlah kau bilang aku cantik dan muda.
Tubuhku indah semampai, dadaku bulat dan kenyal.
Sedang ku tahu kemana arah pikiranmu.
Aku ingin sekali menebaknya.
Tiada satu kata pun darimu aku tersanjung.
Sebab pujianmu mengandung racun dan kita baru saja berkenalan.

Oh sungguh lelaki tampan jangan lagi engkau teruskan.
Apalagi matamu terus menghujam ke arah bibirku sepertinya ingin kau lumatkan.
Apakah kau kira wanita hanya bahan gunjingan.
Bahan rayuan yang ujung-ujungnya hanyalah sekedar kenikmatan.
Begitukah kau nilai kaumku dan kau pikir mudah mendapatkan.

Jiwamu teramat muda dan gampang sekali pudar haluan.
Terlebih kamu lelaki
seharusnya pikiran dan perkataanmu
jauh lebih berpendidikan.
Maka sebelum kamu belingsatan dan bermain sendiri dengan alat vitalmu.

Cobalah istighfar barangkali ada yang terlewat sebelum penyesalan membuat hidupmu tak karuan.
Sebab perasaan cinta dan suka yang kau kandung hanyalah bualan belaka.
Yang kau inginkan dariku hanyalah bercinta setelah itu pergilah engkau entah kemana.

handypranowo


July 20, 2013

Sendiriku

ku hisap kerinduan di malam yang sepi.
asap mengepul melingkar di sela-sela jari yang terbiasa melinting pengap.
gelisah dan gelisah bagai menikam kenyataan.
hidup terbawa arus dunia sampai ku sadar fatamorgana
ohhh pengap hampa udara terasa sesak

Kerinduan adalah

Kerinduan adalah bahasa yang susah kita terjemahkan sendiri. 
Meskipun kau terlatih mengungkapkannya dalam syair-syair senja dan rembulan. 
Kerinduan tetap tersembunyi di hati.



Ku harap.

Kalau bulan datang jangan bilang aku sembunyi di balik awan.
Sebab aku menunggu hujan dan aku butuh airnya tuk basahi kerongkongan.
Hatiku telah hangus membiru.
Jiwaku sesak tak beraturan.
Maka kenanglah aku kawan sebagai seorang yang sendirian.

handypranowo

Gelisah

Matanya sayu menjadi bulan.
Pikirannya sejajar dengan bintang fajar.
Waktu mengental menjadi sejuta persoalan.
Bukan karena mendung yang sebentar lagi datang.
Menyeret hujan menggenangi mimpi.
Melainkan sunyi kerap menggeledahi diri.
Pucuk-pucuk kematian di ujung-ujung jari.
Menjadi ranting yang kering dan terbakar.
Menjadi abu dan teman di jalan.
Adakah sunyi, adakah mimpi.
Semenjak waktu menjadi buih.

Langit dan impian di bungkus kabut.
Di larikan ke dalam hati dan jiwa yang mulai surut.
Membangunkan gelisah cakrawala.
Membalut luka yang tersiram cuka.
Masih saja diam dan termenung dalam sejuta harap.
Adakah hidup dan mati sama saja.
Sama-sama dalam bentuk dan rupa.

handypranowo

Duka Devina.

Duka Devina.

Kepedihan menyusuri dua dadanya bagai papaya muda belum lagi manis namun pahit telah di tuai.
Mulutnya lebam penuh protes dan maki pada seribu janji sesaat setelah regang urat-uratnya di belai sepi.
Oh dunia hampa, dunia hitam menjulur lidah sampai ke buaian
hidup yang indah menjadi kelabu dan harapan menjadi gersang.
Ia menolak subuh meski malam ia di hantam kecemasan.
Menunggu di balik jeruji, dunia yang terbentang di kuburnya dalam-dalam.

Devina menyimpan dendam, merangkainya menjadi jalang di usianya terbilang muda.
Kepada seseorang lelaki yang di kenalnya dua tahun yang lalu saat musim hujan baru saja tiba.
Merontokan bunga-bunga jambu yang tumbuh di depan halaman rumahnya.
Dan awal sebuah dendam adalah begini.
Devina gadis remaja yang manja hidup bermewah-mewahan sebab ayahnya pejabat negeri yang kaya.
Hingga suatu hari ayahnya di tangkap karena dugaan kasus korupsi.
Saat itu umurnya memasuki dewasa dan pergaulannya setaraf sosialita.
Ia berfoya-foya, tempat kuliahnya yang mahal dan ternama di luar negeri di abaikan begitu saja.
Seketika apa yang mudah di dapat kini sulit di raih.
Hidupnya sudah terlanjur mewah hingga bunga teratai yang belum mekar di paksanya merekah.
Pertemuannya pada seorang lelaki di sebuah klub menjadi malapetaka
Hingar bingar segala candu sudah di coba
Orang tuanya tidak pernah tahu karena sudah di bui dan Devina pun terpaksa menjual diri.
Ia masih inginkan kemewahan dan tak mau miskin pulang ke negeri sendiri.
Meski keluarganya membujuk namun ia paksakan hati.
Sebab malu dan Devina pun hancur bertubi-tubi.

Maka di suatu malam di sebuah apartemen ketika asyik berduaan sambil menghisap kokain,
Datanglah segerombolan polisi dengan persenjataan lengkap bak menggerebek teroris dan sarang narkoba.
Devina di tangkap dan di jebloskan dalam penjara di negeri yang jauh dari tempat ia di lahirkan.
Ia merasa di jebak karena sebelumnya tak pernah ada apa-apa.
Lalu tanpa bersalah dan tanpa memikirkan apa-apa.
Ia menggantung dengan jiwa yang gelisah.

pranowohandy

Kosong

Sudah lama aku tidak menulis
Menulis puisi ataupun kata-kata maki
Kosong
Sudah lama aku tidak menulis
Bingung mau menulis apa
Kosong
Sudah lama aku tidak menulis
Terakhir kali saat ku di kereta
Itupun kosong
Beberapa kata hanya menjadi sampah dan tak berguna
Lalu ku buang 
Harus ada yang ku ungkapan
Apapun itu dan tak ingin kosong

handypranowo

Senja di Alesund 2

satu botol bir dan senja yang merayap.
dingin dalam kehangatan, sunyi dalam geliat.
camar-camar turun merendah, kapal-kapal bersandar lemah
kemudian dari arah tebing angin datang menyusup ke dermaga
menggerakan naluriku untuk katakan

aku rindu tanah airku
aku rindu rumahku yang sempit dan kumuh
aku rindu ibuku
aku rindu menjenguk makam ayahku
aku rindu istriku 

lalu kota menjadi malam
lampu-lampu menghias 
orang-orang saling berpelukan dalam baju woll yang hangat dan tebal
aku sendiri belum habis bir yang aku tenggak
aku mulai terkapar dan ingin beranjak
namun aku harus bertahan untuk beberapa bulan
semua nafsu aku pendam

aku rindu padamu
aku rindu puting susumu
aku rindu halus kulitmu
aku rindu merayapi selangkanganmu
aku rindu mencium harum rambutmu
aku rindu gemuruh suaramu di telingaku

senja di alesund.Norwegia

July 17, 2013

Senja di Alesund. ( Norwegia )

Di suatu senja di sebuah dermaga yang sepi.
Aku duduk mengenang perjalanan yang membawaku sampai di sini.
Orang-orang pulang dan mengunci diri.
Hanya ada angin yang membuatku menggigil.

Rumah-rumah bagaikan terapung dalam kebisuan.
Kapal-kapal nelayan sudah di sandarkan pada keletihan.
Camar-camar terbang entah kemana.
Dari balik sepi aku merasa kehilangan diriku.
Entah berada di mana tanah kelahiranku.

Lalu perlahan warna langit memudar.
Beriak gelombang makin kencang.
Dadaku sesak tubuhku gentar.
Pada siapa akan ku tanyakan selusin rinduku membentur karang.

Barangkali aku mesti beranjak dan melupakan semua kenangan.
Atau berlari sejauh mungkin hingga nafasku berserakan. 
Setelah itu akan ku kirim pesan kepadamu lewat secarik kerinduan tentang aroma senja di Alesund. 

handypranowo


July 13, 2013

Di Negeri Ini.

Di negeri ini orang tak lagi bisa menyeberang jalan.
apalagi bersebrangan aliran bisa di bantai.
Hiruk-pikuk reformasi membunuh akal sehat.
seribu janji telah menjadi laknat dari mulut tikus pengerat.

Propaganda-proganda sesat di sebar meracuni rakyat.
melalui udara melalui jalan darat.
mencari keuntungan mencari kambing hitam.
demikian yang di kerjakan sambil melipat-lipat uang haram.

Sedangkan hukum menjadi bara api panas memanggang.
daging dan tulang-tulang kemiskinan.
Cita-cita mereka di abaikan.
Kepercayaan mereka di selewengkan.

Aku lahir di sini.
Aku besar di negeri ini.
Namun beras yang ku makan hasil impor luar negeri.
sebab barisan petani telah terkubur di tanahnya yang subur.
Di berondong peluru tirani demi kepentingan pribadi.

Aku protes, orasi di depan gedung telanjang kaki.
namun tak bergeming telinga mereka tersumbat materi.
Sementara anak-anak sekolah bergelantungan menjadi tarzan.
Menuntut ilmu dalam gedung-gedung tembus langit. kepanasan kehujanan.

Janji-janji kesejahteraan menjadi kabur.
seperti buronan korupsi yang bebas ke luar negeri.
Reformasi seperti bermain layang-layang di tarik dan di ulur.
Benangnya di lumuri darah dan tangisan.

Aku menulis gelisah ini.
tapi apalah diriku bukanlah superman.
Cuma sandal jepit yang terpojok dan hilang.
di sapu tsunami keserakahan negeri ini.

Masih adakah yang tersisa?


handypranowo

July 12, 2013

Bukan Sajak Cinta.

fotomu masih kusimpan
namun tidak untuk menakuti tikus
karena sejarah cinta telah membius
karma yang panjang dan lamban

waktu itu purnama sedang
menggelayut sinarnya di ujung pohon rindang
aku mencintaimu bukan karena dadamu yang penuh
namun pernah sejuta kali muntah kau seduh

dalam gelas campuran arak dan madu
bergumul di lautan biru
dalam ruang hitam berpadu satu
malaikat diam, iblis membisu


handypranowo

Ballada Penyanyi Dangdut Organ Tunggal

Sebagai penyanyi dangdut organ tunggal.
Karier nomor empat.
Nomor satu biaya makan
Nomor dua bayar kontrakkan
Nomor tiga kebutuhan menjadi remang-remang
Sebab keperluan hidup meningkat.
Oleh sebab itu sesekali waktu panggilan bergoyang bisa di lain tempat
Dengan siapa saja yang penting kebutuhan nomor tiga tercukupi
Yaitu pergi ke salon, beli baju panggung dan alat make up
Tidak semua tetapi memang begitu sebagian ceritanya
Hidup itu adalah pilihan dan sebagai penyanyi organ tunggal tidak juga rendah
Maka dengan segala letih dan hidup yang kau punya
Bumi terus berputar, Tuhan menjadi saksi meski sedikit kau khianati.
Sambil lalu ku coba mengerti tentang hidupmu namun teruslah bergoyang
Jangan kau hiraukan berbagai macam ormas yang selalu ingin membubarkan panggungmu
Bukankah mereka sama saja?
Dibayar untuk sesuatu yang tak halal
Maling teriak maling itu sih bukan cuma lagunya Fals saja
Dari jaman mbahmu dan mbahku sudah ada
Maka yang terpenting keikhlasan dan mau berjuang tanpa harus menjilat atau merampok uang rakyat.
Dari waktu ke waktu pun penontonmu tak pernah surut
Meski sering di warnai baku hantam tetapi tenang sebab kamu tahu mana yang mesti di goyang.
Maka ayo Mawar, Dewi, Indah, perlihatkan dada dan pantatmu
Gemakan suara cengkok dangdutmu
Sebab yang terpenting kebutuhan nomor satu, dua dan tiga terpenuhi
Dan nomor empat serahkan saja pada manajer kamu
atau para juri pencari bakat yang duduk santai di layar televisi.



pranowohandy.

Mendengar hujan ( percakapan malam pengantin )

(Ilustrasi)  Ruangan kamar beraroma bunga melati. Bunganya menggantung di sudut-sudut tiang tempat tidur yang terbuat dari besi. Sedikit berkarat. Kelambunya tersingkap bagai awan tertiup angin. Puluhan kado berwarna-warni tergeletak di atas kasur bersprei merah bunga mawar.
Namun tak mengubah posisi dua bantal dan satu guling di tengahnya. 
Foto akad nikah sudah di cetak dan di beri pigura terpampang di meja kecil di depan kaca. Sepatu sandal dan baju pengantin adat jawa terkulai lemah setelah seharian berdiri. Hanya ada dua jiwa yang resah setelah semua orang pergi. 
Lalu mereka masuk ke dalam kamar dan menanggalkan penat di tubuh mereka dan bercakap di atas kasur dengan hasrat yang halal.

X. Aku mendengar gemuruh di langit dan tak lama gemericik hujan terdengar jatuh. Sepuluh menit setelah usai bercumbu denganmu. Lalu kamu bangkit dari pelukku dan menangis sesegukan hingga gemericik hujan terdengar samar.
Tiba-tiba gelegar halillintar menyambar dan cahayanya menembus celah ventilasi kamar dan terlihat wajahmu menunduk berpelukan bantal. Aku dekati kamu lalu berbisik di telingamu.
Berhentilah untuk menangis dan dengarkanlah hujan malam ini. Tidakkah kau sadar musim kemarau sudah berganti dan ciumlah bau tanah kering yang tersiram air dari langit.
Kamu menatapku diam entah apa yang kamu pikirkan. Mungkin banjir atau tanah longsor.
Lalu kubisikan lagi di telingamu. Bukankan kamu senang dengan hujan. Getar suaraku yang terakhir menggelitik telingamu dan membuat mulutmu terbuka.

Y. Iya. Kamu benar. Dulu aku sering berlama-lama diam hanya untuk mendengarkan rintik-rintik hujan yang jatuh di atas tanah.
Lalu merasakan tetes airnya dan kubiarkan membasahi seluruh tubuhku. Namun hujan terkadang membuatku gelisah bahkan terlalu hingga aku tak ingin mendengarkannya lagi. Atau merasakan tetes airnya. Apa kau ingat malam itu? Enam bulan lalu saat kau antar aku ke dokter 24 jam. Kita duduk lama di beranda depan menunggu antrian.
Tak lama hujan turun. Aku eratkan pelukku di tubuhmu dan kubiarkan rebah kepalaku di dadamu.
Kau berbisik padaku. Kau bilang tak usah khawatikan benih yang kau tanam untukku. Bila Tuhan belum merencanakan, hujan pun tak akan pernah turun.
Tidakkah kau dengar sayang. Detak benih di perutku semakin melemah.
Begitu aku sangat mencintai sosok dirimu. Dan kurelakan sebelumnya untukmu.

X. Aku kembali merebahkan seluruh tubuhku namun tetap disampingmu. Aku tak pernah terlalu jauh darimu. Karena kutahu kamu rapuh. Aku menyadari kegelisahanmu. Namun hujan begitu deras. Tidakkah kau ingat sebelum kita menikah.
Kita pergi berdua ke Kebun Raya Bogor. Kita melewati jembatan merah yang di percaya bisa memisahkan cinta. Kau naik diatas pundakku dan waktu itu hujan. Sebentar lagi senja. Kita tak percaya tentang jembatan merah itu.
Ternyata cinta kita terlalu kuat hanya untuk di hancurkan kepercayaan seperti itu. Kita diam meneduh di pohon akasia yang paling besar.
Rintik hujan yang jatuh mengenai ranting-ranting pohon seperti alunan musik berirama lembut dan kau pun bernyanyi untukku.

Y. Iya. Aku bernyanyi di depan mulutmu. Tatapan matamu menusuk kedua bola mataku. Aku berharap kau lumat semua bibirku. Dan hentikan nyanyian cintaku untukmu.
Aku menunggu setan pohon itu merasuk jiwamu. Lalu merabaku dan membiarkan leherku terangkat hingga tetes hujan membasahi mulut dan wajahku.
Namun tidak. Justru kamu menanti malaikat datang. Kau seorang lelaki yang susah ku tebak. Aroma birahimu seperti wangi pohon hujan ketika basah.
Aku masih berharap kau meraba keinginanku saat itu. Senja itu sepi. Dan hanya gemericik hujan yang terdengar bersama burung-burung Perkutut dan Puter yang sesekali melompat di dahan-dahan pohon yang keras.
Lalu ku bertanya. Jadi kau berniat duduk di taman itu dengan pancuran air di tengahnya?
Bajuku basah begitupun celanaku.

X. Ehm. Aku masih ingat. Aku malah mengutuki malaikat itu datang. Padahal aku tahu setelah hidupku di dunia berakhir aku berteman neraka.
Aku tidak berfikir sejauh itu. Malah aku hapus titik-titik air yang menempel di rambutmu yang tebal. Aku hanya ingin mendengarkan hujan.
Tidak desahanmu yang mengundang iblis datang. Lalu hujanpun mulai reda. Kita lanjutkan perjalanan menuju danau kecil buatan yang ada di tengah Kebun Raya Bogor.
Burung-burung pemakan ikan sudah lebih dulu hadir disana.
Hinggap bergayut di akar-akar pohon rambat yang besar. Titik air masih terasa jatuh mengenai kulit lenganku. 

Y. Sayang. Aku merasa seperti burung-burung itu. Pergi di musim kemarau dan datang di kala musim penghujan. Karena aku tahu kau hadir saat gemuruh langit terdengar.
Bukankah itu nyanyian Tuhan. Kali ini akan kurawat benihmu baik-baik di dalam rahimku.
Tak usah khawatir.
Karena aku akan menjadi wanita yang sempurna setelah ini. Tuhan pun tahu. Surganya telah di tempatkan di telapak kakiku. Buat anak-anakku nanti. 

X. Lalu. Apakah anak-anak itu nanti akan berlari-larian di saat hujan datang seperti masa kecil ibunya dulu. Atau diam mendengarkan hujan di dalam kamar sambil berhayal bercinta dengan sang pangeran. Aku tak berharap hidup berlama-lama dan melihat anak-anakku tumbuh.
Aku tak ingin mereka tahu apa yang di perbuat orang tuanya dahulu.

Y. Hahaha. Apakah kau tak mengajakku serta di saat kematianmu. Bukankah lebih nikmat mendengar hujan di dalam gundukan tanah dan kita berdua di dalamnya.
Tak usah khawatir tentang neraka yang akan membakar. Bukankan hujan datang untuk memadamkan semua. 

X. Pasti. Karena aku menyadari sangat mencintaimu. Dan Tuhan pun tahu. Bagaimana bisa aku hidup tanpamu.
Sedangkan segala cobaan telah kita tempuh bersama. Kini kau adalah istriku. Bila kamu mengandung nanti.
Setiap pagi akan ku dengarkan gemericikan tetesan hujan di rahimmu yang ku rekam lewat MP4 samsungku.
Dan bila malam kusebatkan doa-doa hingga iblis bertekut lutut di depanmu.

(Ilustrasi). Malam kian larut dan hujan pun belum usai berhenti. Sang pengantin masih berpelukan dalam selimut yang tebal menutupi hasratnya yang liar.
Sesekali gemuruh kilat menyambar.
Hingga pagi. Menunggu datangnya para malaikat memberi salam.

HandyPranowo
Makasih buat cigarette.