(Ilustrasi) Ruangan kamar beraroma
bunga melati. Bunganya menggantung di sudut-sudut tiang tempat tidur yang
terbuat dari besi. Sedikit berkarat. Kelambunya tersingkap bagai awan tertiup
angin. Puluhan kado berwarna-warni tergeletak di atas kasur bersprei merah
bunga mawar.
Namun tak mengubah posisi dua bantal dan satu guling di
tengahnya.
Foto akad nikah sudah di cetak dan di beri pigura terpampang
di meja kecil di depan kaca. Sepatu sandal dan baju pengantin adat jawa terkulai
lemah setelah seharian berdiri. Hanya ada dua jiwa yang resah setelah semua
orang pergi.
Lalu mereka masuk ke dalam kamar dan menanggalkan penat di
tubuh mereka dan bercakap di atas kasur dengan hasrat yang halal.
X. Aku mendengar gemuruh di langit dan tak lama gemericik
hujan terdengar jatuh. Sepuluh menit setelah usai bercumbu denganmu. Lalu kamu
bangkit dari pelukku dan menangis sesegukan hingga gemericik hujan terdengar
samar.
Tiba-tiba gelegar halillintar menyambar dan cahayanya
menembus celah ventilasi kamar dan terlihat wajahmu menunduk berpelukan bantal.
Aku dekati kamu lalu berbisik di telingamu.
Berhentilah untuk menangis dan dengarkanlah hujan malam ini.
Tidakkah kau sadar musim kemarau sudah berganti dan ciumlah bau tanah kering
yang tersiram air dari langit.
Kamu menatapku diam entah apa yang kamu pikirkan. Mungkin
banjir atau tanah longsor.
Lalu kubisikan lagi di telingamu. Bukankan kamu senang
dengan hujan. Getar suaraku yang terakhir menggelitik telingamu dan membuat
mulutmu terbuka.
Y. Iya. Kamu benar. Dulu aku sering berlama-lama diam hanya
untuk mendengarkan rintik-rintik hujan yang jatuh di atas tanah.
Lalu merasakan tetes airnya dan kubiarkan membasahi seluruh
tubuhku. Namun hujan terkadang membuatku gelisah bahkan terlalu hingga aku tak
ingin mendengarkannya lagi. Atau merasakan tetes airnya. Apa kau ingat malam
itu? Enam bulan lalu saat kau antar aku ke dokter 24 jam. Kita duduk lama di
beranda depan menunggu antrian.
Tak lama hujan turun. Aku eratkan pelukku di tubuhmu dan
kubiarkan rebah kepalaku di dadamu.
Kau berbisik padaku. Kau bilang tak usah khawatikan benih
yang kau tanam untukku. Bila Tuhan belum merencanakan, hujan pun tak akan
pernah turun.
Tidakkah kau dengar sayang. Detak benih di perutku semakin
melemah.
Begitu aku sangat mencintai sosok dirimu. Dan kurelakan
sebelumnya untukmu.
X. Aku kembali merebahkan seluruh tubuhku namun tetap
disampingmu. Aku tak pernah terlalu jauh darimu. Karena kutahu kamu rapuh. Aku
menyadari kegelisahanmu. Namun hujan begitu deras. Tidakkah kau ingat sebelum
kita menikah.
Kita pergi berdua ke Kebun Raya Bogor. Kita melewati
jembatan merah yang di percaya bisa memisahkan cinta. Kau naik diatas pundakku
dan waktu itu hujan. Sebentar lagi senja. Kita tak percaya tentang jembatan
merah itu.
Ternyata cinta kita terlalu kuat hanya untuk di hancurkan
kepercayaan seperti itu. Kita diam meneduh di pohon akasia yang paling besar.
Rintik hujan yang jatuh mengenai ranting-ranting pohon
seperti alunan musik berirama lembut dan kau pun bernyanyi untukku.
Y. Iya. Aku bernyanyi di depan mulutmu. Tatapan matamu
menusuk kedua bola mataku. Aku berharap kau lumat semua bibirku. Dan hentikan
nyanyian cintaku untukmu.
Aku menunggu setan pohon itu merasuk jiwamu. Lalu merabaku
dan membiarkan leherku terangkat hingga tetes hujan membasahi mulut dan wajahku.
Namun tidak. Justru kamu menanti malaikat datang. Kau
seorang lelaki yang susah ku tebak. Aroma birahimu seperti wangi pohon hujan
ketika basah.
Aku masih berharap kau meraba keinginanku saat itu. Senja
itu sepi. Dan hanya gemericik hujan yang terdengar bersama burung-burung
Perkutut dan Puter yang sesekali melompat di dahan-dahan pohon yang keras.
Lalu ku bertanya. Jadi kau berniat duduk di taman itu dengan
pancuran air di tengahnya?
Bajuku basah begitupun celanaku.
X. Ehm. Aku masih ingat. Aku malah mengutuki malaikat itu
datang. Padahal aku tahu setelah hidupku di dunia berakhir aku berteman neraka.
Aku tidak berfikir sejauh itu. Malah aku hapus titik-titik
air yang menempel di rambutmu yang tebal. Aku hanya ingin mendengarkan hujan.
Tidak desahanmu yang mengundang iblis datang. Lalu hujanpun
mulai reda. Kita lanjutkan perjalanan menuju danau kecil buatan yang ada di
tengah Kebun Raya Bogor.
Burung-burung pemakan ikan sudah lebih dulu hadir disana.
Hinggap bergayut di akar-akar pohon rambat yang besar. Titik
air masih terasa jatuh mengenai kulit lenganku.
Y. Sayang. Aku merasa seperti burung-burung itu. Pergi di musim
kemarau dan datang di kala musim penghujan. Karena aku tahu kau hadir saat
gemuruh langit terdengar.
Bukankah itu nyanyian Tuhan. Kali ini akan kurawat benihmu
baik-baik di dalam rahimku.
Tak usah khawatir.
Karena aku akan menjadi wanita yang sempurna setelah ini.
Tuhan pun tahu. Surganya telah di tempatkan di telapak kakiku. Buat anak-anakku
nanti.
X. Lalu. Apakah anak-anak itu nanti akan berlari-larian di
saat hujan datang seperti masa kecil ibunya dulu. Atau diam mendengarkan hujan
di dalam kamar sambil berhayal bercinta dengan sang pangeran. Aku tak berharap
hidup berlama-lama dan melihat anak-anakku tumbuh.
Aku tak ingin mereka tahu apa yang di perbuat orang tuanya
dahulu.
Y. Hahaha. Apakah kau tak mengajakku serta di saat
kematianmu. Bukankah lebih nikmat mendengar hujan di dalam gundukan tanah dan
kita berdua di dalamnya.
Tak usah khawatir tentang neraka yang akan membakar.
Bukankan hujan datang untuk memadamkan semua.
X. Pasti. Karena aku menyadari sangat mencintaimu. Dan Tuhan
pun tahu. Bagaimana bisa aku hidup tanpamu.
Sedangkan segala cobaan telah kita tempuh bersama. Kini kau
adalah istriku. Bila kamu mengandung nanti.
Setiap pagi akan ku dengarkan gemericikan tetesan hujan di
rahimmu yang ku rekam lewat MP4 samsungku.
Dan bila malam kusebatkan doa-doa hingga iblis bertekut
lutut di depanmu.
(Ilustrasi). Malam kian larut dan hujan pun
belum usai berhenti. Sang pengantin masih berpelukan dalam selimut yang tebal
menutupi hasratnya yang liar.
Sesekali gemuruh kilat menyambar.
Hingga pagi. Menunggu datangnya para malaikat memberi salam.
HandyPranowo
Makasih buat cigarette.
No comments:
Post a Comment