Datang dari hutan belantara.
Di kerangkeng dan di ikat kakinya.
Di jadikan alat pencari nafkah.
Di ajar menari dan beraksi.
Tak tahu bagi hasil yang penting pisang dan kacang tersedia.
Manusia serakah tak puas dengan kayu dan tanahnya.
Kini monyet ada di jalan menari diantara asap-asap knalpot.
Di perempatan jalan di bawah lampu merah.
Bersama anak-anak hitam dengan gitar kecil sambil bernyanyi.
Tak terasa gundah atau resah.
Di tarik dan diulur kakinya di ikat rantai.
Sesekali tersenyum, sesekali diam atau beringas amarah.
Sang tuan mengadahkan tangan, sekeping uang di masukan ke dalam topi.
Seperti mengerti si Monyet tersenyum namun tak tahu pasti berapa nilainya.
Musik terus bertalu namun tak seperti dulu waktu ku masih lucu.
Tak ada lagi anjing, karena di konsumsi atau jadi pengaman rumah menteri.
Tak ada lagi ular karena kulitnya di jadikan sepatu dan tas para selebritis.
Yang tersisa tinggal monyet, ya monyet.
Monyet yang dulu bergelantungan di pohon.
Kini di jalan menyetir mobil memakai dasi berkacamata hitam.
Tersenyum dan berlaga dengan sang tuan mencari uang untuk makan.
Monyet yang akrab dan tidur bersama di bawah jembatan layang.
Karena letih siang tadi beraksi.
Tak ada lagi anjing, karena di konsumsi atau jadi pengaman rumah menteri.
Tak ada lagi ular karena kulitnya di jadikan sepatu dan tas para selebritis.
Yang terisa tinggal monyet, ya monyet.
Monyet yang dulu bergelantungan di pohon.
Kini duduk di kursi di depan komputer di gedung-gedung tinggi.
Monyet jadi manusia atau manusia jadi monyet.
Woi monyet………..
handypranowo
Di kerangkeng dan di ikat kakinya.
Di jadikan alat pencari nafkah.
Di ajar menari dan beraksi.
Tak tahu bagi hasil yang penting pisang dan kacang tersedia.
Manusia serakah tak puas dengan kayu dan tanahnya.
Kini monyet ada di jalan menari diantara asap-asap knalpot.
Di perempatan jalan di bawah lampu merah.
Bersama anak-anak hitam dengan gitar kecil sambil bernyanyi.
Tak terasa gundah atau resah.
Di tarik dan diulur kakinya di ikat rantai.
Sesekali tersenyum, sesekali diam atau beringas amarah.
Sang tuan mengadahkan tangan, sekeping uang di masukan ke dalam topi.
Seperti mengerti si Monyet tersenyum namun tak tahu pasti berapa nilainya.
Musik terus bertalu namun tak seperti dulu waktu ku masih lucu.
Tak ada lagi anjing, karena di konsumsi atau jadi pengaman rumah menteri.
Tak ada lagi ular karena kulitnya di jadikan sepatu dan tas para selebritis.
Yang tersisa tinggal monyet, ya monyet.
Monyet yang dulu bergelantungan di pohon.
Kini di jalan menyetir mobil memakai dasi berkacamata hitam.
Tersenyum dan berlaga dengan sang tuan mencari uang untuk makan.
Monyet yang akrab dan tidur bersama di bawah jembatan layang.
Karena letih siang tadi beraksi.
Tak ada lagi anjing, karena di konsumsi atau jadi pengaman rumah menteri.
Tak ada lagi ular karena kulitnya di jadikan sepatu dan tas para selebritis.
Yang terisa tinggal monyet, ya monyet.
Monyet yang dulu bergelantungan di pohon.
Kini duduk di kursi di depan komputer di gedung-gedung tinggi.
Monyet jadi manusia atau manusia jadi monyet.
Woi monyet………..
handypranowo
No comments:
Post a Comment