Masih ku kenali lampu-lampu jalan yang redup menggigil di antara kabut malam.
Wajah-wajah yang lelah memeluk sepi mendengkur di pelataran.
Bulan melengkung menyabit sejuta kenangan.
Seolah waktu tak mau kompromi dan terus berjalan.
Aku ragu, aku di hantam kebimbangan.
Langkahku terhenti sejenak di awal persimpangan.
Berbaringan jiwaku dan jiwamu di aspal hitam.
Tak ada bayang yang ada hanya kerinduan.
Aku harus pergi, tak bisakah kau mengerti.
Sebab tangisan tak urung meniadakan langkahku tuk menepi.
Karena pada bentangan cakrawala kakiku terus mengembara.
Dan kau jadilah matahari yang terus hidup biarpun senja.
Lupakan pertemuan, lupakan kecupan manis di jidatmu.
Sebab di awal pertemuan dan akhir adalah perpisahan.
Ku harap kau mau mengerti meski berat ku harus lepaskan.
Mungkin di suatu masa kita akan bertemu sambil berteduh dalam rindu yang menggebu.
untuk Rani 1979-1999. Handy Pranowo.
Wajah-wajah yang lelah memeluk sepi mendengkur di pelataran.
Bulan melengkung menyabit sejuta kenangan.
Seolah waktu tak mau kompromi dan terus berjalan.
Aku ragu, aku di hantam kebimbangan.
Langkahku terhenti sejenak di awal persimpangan.
Berbaringan jiwaku dan jiwamu di aspal hitam.
Tak ada bayang yang ada hanya kerinduan.
Aku harus pergi, tak bisakah kau mengerti.
Sebab tangisan tak urung meniadakan langkahku tuk menepi.
Karena pada bentangan cakrawala kakiku terus mengembara.
Dan kau jadilah matahari yang terus hidup biarpun senja.
Lupakan pertemuan, lupakan kecupan manis di jidatmu.
Sebab di awal pertemuan dan akhir adalah perpisahan.
Ku harap kau mau mengerti meski berat ku harus lepaskan.
Mungkin di suatu masa kita akan bertemu sambil berteduh dalam rindu yang menggebu.
untuk Rani 1979-1999. Handy Pranowo.
No comments:
Post a Comment