Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang hujan yang kau hayati
Aku ingin beranjak pergi setelah ini atau setelah usai hujan berhenti dan mungkin aku ingin sendiri
Ku tahu betapa rindunya kamu pada diriku, dan aku tidak akan lupa pada lembut bibirmu yang ku resapi
Saat musim hujan baru saja tiba dan ia baru saja meletakkan tumpukan mendung di langit tua
Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang senja yang kau senangi
Aku ingin beranjak pergi setelah ini atau setelah usai senja menutup hari dan mungkin aku berjalan sendiri
Ku tahu betap rindunya kamu pada diriku, dan aku tidak akan lupa pada gelombang rambutmu yang ku selami
Saat kita asyik berbincang tentang senja yang maroon dan semilir angin bawa harum lembut luka.
Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang purnama yang kau harapkan.
Aku ingin beranjak pergi setelah bulan tertidur di pekarangan atau mungkin mengendap dalam kegalauan
Ku tahu betapa rindunya kamu pada diriku, dan aku tidak akan lupa saat pertama kali menjamah dadamu dalam gelap.
Saat kita menunggu purnama datang di puncak bukit di antara hutan pinus yang rindang, burung hantu merayap di atas ranting hatimu yang rapuh serta bimbang.
Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang Desember yang sebentar lagi akan hilang.
Aku ingin beranjak pergi setelah tahun berganti dan menelanjangi sendiri semua rasa ini
Ku tahu betapa rindunya kamu pada diriku dan aku pun begitu pada lenguh pertamamu di telinga dan pelukan erat di pinggangku
Saat kita terasing oleh hujan, senja, dan purnama hingga kita melewati Desember ini dengan kesedihan dan luka yang sama lalu aku bertanya di mana lautan, di mana cakrawala, di mana segala debur resah akan terpecah bila ternyata kita masih saling merindukan.
Aku tidak ingin lagi menulis puisi, aku ingin diam saja dan sepi bersama semua rasa ini.
Handy Pranowo 311213
Aku ingin beranjak pergi setelah ini atau setelah usai hujan berhenti dan mungkin aku ingin sendiri
Ku tahu betapa rindunya kamu pada diriku, dan aku tidak akan lupa pada lembut bibirmu yang ku resapi
Saat musim hujan baru saja tiba dan ia baru saja meletakkan tumpukan mendung di langit tua
Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang senja yang kau senangi
Aku ingin beranjak pergi setelah ini atau setelah usai senja menutup hari dan mungkin aku berjalan sendiri
Ku tahu betap rindunya kamu pada diriku, dan aku tidak akan lupa pada gelombang rambutmu yang ku selami
Saat kita asyik berbincang tentang senja yang maroon dan semilir angin bawa harum lembut luka.
Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang purnama yang kau harapkan.
Aku ingin beranjak pergi setelah bulan tertidur di pekarangan atau mungkin mengendap dalam kegalauan
Ku tahu betapa rindunya kamu pada diriku, dan aku tidak akan lupa saat pertama kali menjamah dadamu dalam gelap.
Saat kita menunggu purnama datang di puncak bukit di antara hutan pinus yang rindang, burung hantu merayap di atas ranting hatimu yang rapuh serta bimbang.
Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang Desember yang sebentar lagi akan hilang.
Aku ingin beranjak pergi setelah tahun berganti dan menelanjangi sendiri semua rasa ini
Ku tahu betapa rindunya kamu pada diriku dan aku pun begitu pada lenguh pertamamu di telinga dan pelukan erat di pinggangku
Saat kita terasing oleh hujan, senja, dan purnama hingga kita melewati Desember ini dengan kesedihan dan luka yang sama lalu aku bertanya di mana lautan, di mana cakrawala, di mana segala debur resah akan terpecah bila ternyata kita masih saling merindukan.
Aku tidak ingin lagi menulis puisi, aku ingin diam saja dan sepi bersama semua rasa ini.
Handy Pranowo 311213