December 31, 2013

Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu.

Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang hujan yang kau hayati
Aku ingin beranjak pergi setelah ini atau setelah usai hujan berhenti dan mungkin aku ingin sendiri
Ku tahu betapa rindunya kamu pada diriku, dan aku tidak akan lupa pada lembut bibirmu yang ku resapi
Saat musim hujan baru saja tiba dan ia baru saja meletakkan tumpukan mendung di langit tua

Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang senja yang kau senangi
Aku ingin beranjak pergi setelah ini atau setelah usai senja menutup hari dan mungkin aku berjalan sendiri
Ku tahu betap rindunya kamu pada diriku, dan aku tidak akan lupa pada gelombang rambutmu yang ku selami
Saat kita asyik berbincang tentang senja yang maroon dan semilir angin bawa harum lembut luka.

Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang purnama yang kau harapkan.
Aku ingin beranjak pergi setelah bulan tertidur di pekarangan atau mungkin mengendap dalam kegalauan
Ku tahu betapa rindunya kamu pada diriku, dan aku tidak akan lupa saat pertama kali menjamah dadamu dalam gelap.
Saat kita menunggu purnama datang di puncak bukit di antara hutan pinus yang rindang, burung hantu merayap di atas ranting hatimu yang rapuh serta bimbang.

Aku tidak ingin lagi menulis puisi tentang dirimu atau tentang Desember yang sebentar lagi akan hilang.
Aku ingin beranjak pergi setelah tahun berganti dan menelanjangi sendiri semua rasa ini
Ku tahu betapa rindunya kamu pada diriku dan aku pun begitu pada lenguh pertamamu di telinga dan pelukan erat di pinggangku
Saat kita terasing oleh hujan, senja, dan purnama hingga kita melewati Desember ini dengan kesedihan dan luka yang sama lalu aku bertanya di mana lautan, di mana cakrawala, di mana segala debur resah akan terpecah bila ternyata kita masih saling merindukan.

Aku tidak ingin lagi menulis puisi, aku ingin diam saja dan sepi bersama semua rasa ini.

Handy Pranowo 311213

December 10, 2013

Sajak Orang-Orang Terlantar.

Kita adalah biji mata dari sang malam

Yang buta melangkah dalam kegelapan

Yang selalu di bidik kesepian

Kita adalah paru-paru yang berebut udara dalam ruang yang pengap

Yang di cemarkan oleh keadaan dan kenyataan

Yang selalu di buru kesedihan


Kita adalah tangan-tangan yang terbiasa terikat dalam lingkaran kekuasaan

Yang dapat di politisasi kaum birokrat bila kehabisan akal-akalan

Kita adalah suara-suara lantang yang terus meneriakan kebosanan

Yang selalu di jebloskan ke dalam penjara dengan tuduhan-tuduhan makar


Oh aku menghirup bau udara pengap memabukkan

Aku mencium bau anyir pengkhianatan

Aku mencium bau busuk korupsi di tiap-tiap sudut instansi pemerintahan

Di tengah hiruk pikuk pembangunan yang atas nama kesejahteraan


Aku bilang tidak ada kesejahteraan

Kesejahteraan adalah biang kerok dari janji-janji politisi murahan

Yang di jejalkan kepada telinga-telinga rakyat terlantar

Aku bilang kemewahan yang sesat sebab hanya untuk mereka saja yang bergelimpangan kekuasaan

Kekuasaan yang di putar-putar dalam lingkaran persaudaraan


Kita adalah biji mata dari sang malam

Yang buta melangkah dalam kegelapan

Yang selalu di bidik kesepian


Kita adalah paru-paru yang berebut udara dalam ruang yang pengap

Yang di cemarkan oleh keadaan dan kenyataan

Yang selalu di buru kesedihan




December 09, 2013

Ballada Petani Tua

Kepada siapa Tuhan alamatkan rintik-rintik hujanNya.

Sedang engkau tak mau lagi menerima datangnya hujan bahkan di musim tanam.

Tanah-tanah yang kering yang dulu biasa kamu olah dengan kesabaran kini hilang dan beraspal.

Sedangkan kamu telah lenyap tersambar halilintar kehidupan yang tak masuk akal.



Aku memang sedikit kecewa dengan keputusanmu

untuk menggadaikan sebidang tanah  yang dulu pernah engkau harapkan.

Kebun sayur mayur yang segar.

Ternak-ternak yang gemuk dan menggembirakan.

Kini hanyalah sepenggalan kenangan yang usang.



Aku tidak menyalahkanmu sepenuhnya.

Meski aku tahu kamu mencoba untuk bertahan.

Namun para cukong-cukong itu teramat kuat untuk di lawan.

Sedangkan kamu tak pernah sedikitpun dapat bantuan.

Kecuali menjelang pemilu atau lebaran.


Padahal mereka tahu kamu tak bisa bekerja di pabrik.

Sebab kamu renta dan anak-anak lelakimu meninggalkanmu jauh ke kota

menjadi pedagang kaki lima dan buruh upah yang mesti pintar-pintar mengelola pendapatan.

Kamu juga tidak dapat mengetik surat dan membuat laporan administrasi

Sebab untuk sekolah jaman dahulu hanya bagi orang yang berduit.


Kini kamu hanya diam dan merenung di  dalam rumahmu.

Sambil menikmati secangkir kopi dengan pemandangan yang tidak lagi hijau.

Di temani  istri yang tidak lagi mampu melihat wajahmu yang berkerut.
Semua nampak berkabut  sebab asap pabrik angkuh mengepul.


Bulan demi bulan uang hasil menjual tanah pun mulai surut

Tak ada lagi yang kamu harapkan kecuali bantuan anak-anakmu untuk sekedar makan.

Kini otot-ototmu mulai kendur dan tidak sanggup seperti dahulu.

Guyuran hujan tidak lagi kamu syukuri sebagai kenikmatan.

Justru tragedi yang kamu sesalkan sebab air hujan tidak lagi meresap.

Yang ada hanyalah limbah-limbah pencemaran yang mengalir di depan kali rumahmu.

Pada siapa lagi kamu mengadu sebab gelisahmu terantuk birokrasi yang kusut.







December 04, 2013

Jakarta Fucking City ( Macetnya Jakarta, Jakartanya Macet )


Pagi hari 6.30 belum juga mandi dan sarapan
tapi bunyi klakson dan knalpot kendaraan
bikin telinga pekak jadi nggak sabaran
lihat tuh di depan rumah
kendaraan antri panjang bikin rusak pemandangan
bikin polusi asap mengganggu pernafasan
bikin gang dan jalan raya macet nggak karuan
yang naik motor nguber kreditan
yang naik mobil nyari obyekan
yang didalam bus dan angkot teriak nguber setoran

Jakarta macet, macetnya Jakarta
yang jalan kaki ngesot di trotoar
sebab sudah keduluan sama parkir-parkir liar
pedagang-pedagang kaki lima ya sama saja berebutan
sama dengan saya tidak tahu harus bagaimana
tidak tahu lewat jalan yang mana

Tolong Pak Gubernur bikin solusi untuk Jakarta
Biar aman dan nyaman sejahtera
Selain waduk dan sampah yang di keruk
Keruk juga otak dan hati para penduduk
Biar kagak kotor, biar kagak ngeres
Biar kagak adu jotos kalau lagi di jalanan
Biar pade tertib dan nggak melanggar peraturan

Jakarta macet, macetnya Jakarta
Jalannya sempit dan banyak lubangnya
Kendaraannya banyak tapi kredit semuanya
Yang untung yang punya pabrik
Yang bingung yang pada nyicil
sebab gajinya habis buat beli bahan bakar percuma
maka dari itu mereka demo minta kenaikan upah
bakar-bakar ban di jalan bikin macet
berharap dapat tambahan  biar ngebul dapur di rumah

Jakarta macet, macetnya Jakarta
Pak Gubernur  kan tau kalo Jakarta isinya bukan orang kaya saja
mall dan plaza tolong jangan lagi di bangun
apalagi apartemen yang gua sendiri kagak sanggup tinggal disana
wujudkan taman-taman dan hutan-hutan kota buat pernafasan
wujudkan alat-alat transportasi yang murah
bangun rumah-rumah hunian yang ramah
yang bisa juga terjangkau rakyat menengah ke bawah

Jangan melulu mikirin proyek yang gedean dari pengusaha-pengusaha celamitan
Mending mikirin bagaimana Jakarta nggak kebanjiran.
Ingetin penduduknya supaya buang sampah jangan sembarangan
Sungai dan kali bersihin biar kagak banyak sumbatan
Biar jangan pada bingung dan belingsatan
Kalo hujan turun jadi nggak kebanjiran

Macetnya Jakarta, Jakartanya Macet
Udah dulu sekian dari sana
Pak Gubernur yang baik tolong Jakarta di jaga
Sebab apapun ceritanya Jakarta tetap aye setia

Handy Pranowo