Kepada siapa
Tuhan alamatkan rintik-rintik hujanNya.
Sedang engkau
tak mau lagi menerima datangnya hujan bahkan di musim tanam.
Tanah-tanah
yang kering yang dulu biasa kamu olah dengan kesabaran kini hilang dan
beraspal.
Sedangkan kamu
telah lenyap tersambar halilintar kehidupan yang tak masuk akal.
Aku memang
sedikit kecewa dengan keputusanmu
untuk
menggadaikan sebidang tanah yang dulu
pernah engkau harapkan.
Kebun sayur
mayur yang segar.
Ternak-ternak
yang gemuk dan menggembirakan.
Kini hanyalah
sepenggalan kenangan yang usang.
Aku tidak
menyalahkanmu sepenuhnya.
Meski aku tahu
kamu mencoba untuk bertahan.
Namun para
cukong-cukong itu teramat kuat untuk di lawan.
Sedangkan kamu
tak pernah sedikitpun dapat bantuan.
Kecuali
menjelang pemilu atau lebaran.
Padahal mereka
tahu kamu tak bisa bekerja di pabrik.
Sebab kamu
renta dan anak-anak lelakimu meninggalkanmu jauh ke kota
menjadi
pedagang kaki lima dan buruh upah yang mesti pintar-pintar mengelola pendapatan.
Kamu juga
tidak dapat mengetik surat dan membuat laporan administrasi
Sebab untuk
sekolah jaman dahulu hanya bagi orang yang berduit.
Kini kamu
hanya diam dan merenung di dalam rumahmu.
Sambil menikmati
secangkir kopi dengan pemandangan yang tidak lagi hijau.
Di temani istri yang tidak lagi mampu melihat wajahmu
yang berkerut.
Semua nampak
berkabut sebab asap pabrik angkuh
mengepul.
Bulan demi
bulan uang hasil menjual tanah pun mulai surut
Tak ada lagi
yang kamu harapkan kecuali bantuan anak-anakmu untuk sekedar makan.
Kini
otot-ototmu mulai kendur dan tidak sanggup seperti dahulu.
Guyuran hujan
tidak lagi kamu syukuri sebagai kenikmatan.
Justru tragedi
yang kamu sesalkan sebab air hujan tidak lagi meresap.
Yang ada
hanyalah limbah-limbah pencemaran yang mengalir di depan kali rumahmu.
Pada siapa
lagi kamu mengadu sebab gelisahmu terantuk birokrasi yang kusut.
No comments:
Post a Comment