December 09, 2013

Ballada Petani Tua

Kepada siapa Tuhan alamatkan rintik-rintik hujanNya.

Sedang engkau tak mau lagi menerima datangnya hujan bahkan di musim tanam.

Tanah-tanah yang kering yang dulu biasa kamu olah dengan kesabaran kini hilang dan beraspal.

Sedangkan kamu telah lenyap tersambar halilintar kehidupan yang tak masuk akal.



Aku memang sedikit kecewa dengan keputusanmu

untuk menggadaikan sebidang tanah  yang dulu pernah engkau harapkan.

Kebun sayur mayur yang segar.

Ternak-ternak yang gemuk dan menggembirakan.

Kini hanyalah sepenggalan kenangan yang usang.



Aku tidak menyalahkanmu sepenuhnya.

Meski aku tahu kamu mencoba untuk bertahan.

Namun para cukong-cukong itu teramat kuat untuk di lawan.

Sedangkan kamu tak pernah sedikitpun dapat bantuan.

Kecuali menjelang pemilu atau lebaran.


Padahal mereka tahu kamu tak bisa bekerja di pabrik.

Sebab kamu renta dan anak-anak lelakimu meninggalkanmu jauh ke kota

menjadi pedagang kaki lima dan buruh upah yang mesti pintar-pintar mengelola pendapatan.

Kamu juga tidak dapat mengetik surat dan membuat laporan administrasi

Sebab untuk sekolah jaman dahulu hanya bagi orang yang berduit.


Kini kamu hanya diam dan merenung di  dalam rumahmu.

Sambil menikmati secangkir kopi dengan pemandangan yang tidak lagi hijau.

Di temani  istri yang tidak lagi mampu melihat wajahmu yang berkerut.
Semua nampak berkabut  sebab asap pabrik angkuh mengepul.


Bulan demi bulan uang hasil menjual tanah pun mulai surut

Tak ada lagi yang kamu harapkan kecuali bantuan anak-anakmu untuk sekedar makan.

Kini otot-ototmu mulai kendur dan tidak sanggup seperti dahulu.

Guyuran hujan tidak lagi kamu syukuri sebagai kenikmatan.

Justru tragedi yang kamu sesalkan sebab air hujan tidak lagi meresap.

Yang ada hanyalah limbah-limbah pencemaran yang mengalir di depan kali rumahmu.

Pada siapa lagi kamu mengadu sebab gelisahmu terantuk birokrasi yang kusut.







No comments:

Post a Comment