Wajahnya berkerut tak lagi muda
Kesederhanaan nampak pada dirinya
Semangatnya bagai batuan cadas tak mudah retak
Kesetiaannya telah di uji tak diragukan lagi
Setia terhadap “Penguasa”
Setia terhadap amanah
Membaca naluri alam
Menjaga keseimbangan
Namun tetap kau manusia biasa
Kematian pula datang menjemputmu
Membumi bersama awan panas dan debu-debu
Selamat mendaki gunung keabadian
“Maha Guru Sejati” menantimu di puncak sana
(Semoga Kesederhanaan..semangat dan kesetiaanmu..menjadi teladan bagi kami)
Selamat Jalan Mbah Maridjan.
By Sarimin Tak Lagi Beraksi Sedang Bersedih..
Menyelaraskan Waktu, Menyeimbangkan Kehidupan Dengan Puisi-Puisi Yang Terpinggirkan...
February 15, 2013
Untuk Maryam 4
Aku tenggelam bersama mimpiku di tengah samudera
Sendiri menapaki waktu dan hari
Wanita berkerudung yang setia menungguku
Tak hentinya berdoa
Menyertai hidup dan matiku
Adakah gelisah yang terpendam
Adakah keraguan yang tertinggal
Pada gelombang yang menghantam jiwa
Pada lautan luas yang ku arungi
Lalu kau sematkan mentari pada relung hatiku
Agar terus bercahaya hingga waktunya aku kembali
Engkau adalah imanku
Engkau adalah bidadariku
Di setiap langkah dalam perjalanan hidupku
handypranowo
Siska Dewi pasti
siska dewi harummu bangkitkan nafsuku
bagai hisapan terakhir gelembung udara malam
siska dewi please jangan pergi
ku belum nyatakan mauku
ku yakin kamu tahu
hari-hari begitu indah bersamamu
tawa candamu memecah jenuh
siska dewi pasti ku ingin jadi pacarmu
siska dewi pasti ku mau jadi gacoanmu
ku janji mau setia tak akan mendua
siska dewi matamu indah dan teduh
bagai regukan terakhir seusai malam panjang
siska dewi please dengarkan aku
nyanyikan sejuta lagu untukmu
syair yang ku cipta sampai ku hilang akalku
itu karena kamu
hari-hari indah bersamamu
senyum manismu membuatku luluh
siska dewi pasti ku ingin jadi pacarmu
siska dewi pasti ku mau jadi gacoanmu
ku janji kamu akan tetap di hati
handypranowo
Surat Narti kepada Ibunya.
Ibu..Narti sudah di arab saudi
menjadi pelayan sekaligus melayani keinginan majikan
di sini panas namun lebih panas lagi saat meriam majikan
menghantam mahkotaku
memaksa dan merobek seluruh kesuciannya
tak ada yang bisa Narti lakukan kecuali pasrah
cengkramannya begitu kuat seperti elang pemangsa
Ibu.. baru saja dua bulan aku di sini
rasanya sudah bertahun-tahun lamanya
Narti terkurung
terkurung dalam gelegak nafsu
seperti budak di pecut dan di buru
tak terlintas seperti ini
tak ada gaji yang di bayar
kecuali dengan roti gandum yang keras
kemarin aku menjenguk Maryati
temanku sesama di penampungan
ia lebih parah dariku
tubuhnya terbakar dan jari manisnya hilang satu
Cuma karena di paksa menumpahkan susu ke dalam mulut majikan lelaki dan majikan perempuan melihatnya
Kami sudah lapor ke KBRI tapi nihil
menunggu proses entah sampai kapan
mereka bilang kita illegal
apa itu illegal?
mereka bilang kita tidak terdaftar dan di berangkatkan oleh oknum
siapa oknum itu ibu?
mengapa kita bisa sampai di sini bila tak terdaftar.
apakah ada permainan penguasa di balik ini semua
memperkerjakan wanita untuk budak nafsu
berkedok pembantu ke luar negeri
demi kantong pribadi mereka
ibu aku ingin pulang saja
bekerja di tanah air biarpun gajinya kecil
ibu tolong jemput aku nanti
katanya di bandara Jakarta
banyak juga perampok-perampok TKW berkedok
ibu.. doakan Narti
by Handy Pranowo
Sajak anak lelaki untuk ayahnya yang terbaring sakit
aku tulis sajak ini untuk mengingatmu
sementara kau kenanglah masa muda dan gagahmu dulu
dengan istri yang cantik juga setia hingga kini
dan ketiga anak lelakimu yang sekarang tumbuh dewasa
ingatlah kau tidak sendiri
walaupun kehidupanmu kini menyepi
perjalanan hidup masih teramat jauh
bertahanlah
bertahanlah dengan jiwa yang kau punya
suka dan duka hanya sebatas dunia
dan ku yakin kau sudah merasakannya
di rumah ini
di rumah yang kau bangun dengan keringat dan tanganmu sendiri
kita meneduh dan berbagi cerita
kau menjadi imam
kau pimpin kami untuk sujud dan berdoa
Sampaikan petuah dan kata bijak
bertahanlah
bertahanlah dengan jiwa yang kau punya
suka dan duka hanya sebatas dunia
dan ku yakin kau mengerti semua
aku maklum saat kau tak hadir di akad dan walimahku
tapi doakanlah agar pernikahanku bersama restuNYA
aku tahu kau tak tidur saat ku pergi untuk ke tiga kalinya
hanya matamu saja terpejam
ku bisikan kata pamit di telingamu yang makin lebar itu
matamu membuka menatap wajahku dengan nanar
doakanlah aku pergi
dan saat kembali masih bisa melihatmu lagi
menyeruput susu kemasan yang ku beli di swalayan
atau membantu istrimu memandikanmu di saat pagi
bertahanlah
bertahanlah dengan jiwa yang kau punya
suka dan duka hanya sebatas dunia
dan ku yakin kau pernah belajar tentang itu
belajar rahasia langit dan alam
saat kau baiat dan menjadi murid Imam Jaman.
by.Handy Pranowo
Malam di Jatinegara.
bulan naik perlahan
menjelang malam di Jatinegara
minuman cap tikus di tuang ke dalam gelas
beraroma resah menusuk malam
duduk di warung kaki lima pinggir rel kereta
wanita-wanita muda dengan wangi parfum murahan merebak
wajahnya sumringah rambutnya masih basah tergerai
keluar dari gubug-gubug berjalan menyebar
menyebar iklan dari mulut-mulut yang manis
tubuhnya kini milik sang serigala
malam yang cerah
para pemabuk mulai memetik gitar
nyanyikan kesombongan kota
dan gelandangan masih memunguti sisa-sisa plastik botol minuman
waktu berjalan lamban namun pasti
gerobak-gerobak asongan mulai padat
nyalakan lampu petromak
waktunya mengais rejeki
bulan semakin jelas
tenang tak banyak bergerak
hanya birahi yang menggelinjang
tak sabar menjilati malam
raung serigala mulai terdengar panjang
seiring musik dan tawa riang
malam di jatinegara
minuman cap tikus kembali di tuangkan
masuk melalui rongga kerongkongan dan meledak
sambil melemparkan dadu
para penjudi tertawa terbahak
lelaki kecil terpojok di sudut gerbong
angannya mendekati bulan
kakinya yang korengan di garuk-garuk pelan
pelan sambil menghisap perekat
perekat sepatu cukong-cukong kota yang rusak
tak perduli korengnya yang di garuk mulai berdarah
pelan ia terus menghisapnya
handypranowo
2/15/13
2/15/13
Untuk Maryam 3
aku tulis sajak ini untuk menghiburmu
dari keresahan hatimu seorang diri
janganlah takut
menghadapi dunia yang segala rupa
kamu tidak sendiri
masih banyak yang lainnya tengoklah ke belakang
dunia tidak selalu dengan nilai-nilai dan harga-harga
walaupun itu kenyataannya
tetapi bertahanlah
dengan jiwa dan keikhlasanmu
Tuhan Maha Kaya
kalau kita belum sanggup membuat atap buat diri kita
setidaknya kita pernah meneduhkan jiwa-jiwa yang resah
yang berguling membolak-balik nasib tak menentu hidup
lihatlah apa yang ada
bukankah kita cukup?
kita tak mungkin hancur dan tak berdaya
dan jangan pula goyah karena hantaman dunia
Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang
tetaplah bekerja dan berkarya
kerja dan karya yang kita emban adalah amanat
tugas hidup untuk menyempurnakan hidup kita
bukan hanya untuk nilai-nilai dan harga-harga
tapi karena kita di pilih untuk bisa melaksanakannya
aku tulis sajak ini untuk menghiburmu
dari keresahan hatimu seorang diri
janganlah takut
menghadapi dunia yang segala rupa
kamu tidak sendiri
masih banyak yang lainnya tengoklah ke belakang
handypranowo_maryamaharani
Puisi WS.Rendra
Sering kali aku berkata, ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya, mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?
Ketika diminta kembali, kusebut itu sebagai musibah
kusebut itu sebagai ujian, kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit, kutolak kemiskinan,
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika :
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan
Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan, hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
(WS Rendra).
Sambel Terasi.
harga cabai di pasaran naik
mungkin tengkulak punya kerjaan
di borongnya semua cabai lalu di timbun
di timbun di tempat sepi agar tak tercium
dalih-dalih karena hama atau
karena tanah yang terjajah tak lagi subur
penguasa diam saja
penguasa tidak sering makan sambal
hanya bicaranya saja pedas di gedung
setelah itu di muntahkan ke selokan
coba lihat banyak petani menjual tanahnya dan mengadu nasib di kota menjadi pengemis
sambel terasi..
enaknya sama ikan asin
enggak perduli sama yang miskin
yang penting dirinya happy
ada lagi berita yang pedas
ada lingkaran tersusun rapi di hamparan sawah
bagai jejak makhluk yang pandai beradaptasi
atau kerjaan orang iseng yang Cuma bikin sensasi
persis sama seperti PSSI
Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia
ribut-ribut demonstrasi pilih calon pemimpin
pemimpin yang korupsi kok di pilih
sambel terasi
enaknya sama lalap
jangan suka asal pilih
nanti rakyat bisa kalap
matahari semakin jelas walau nampak murung
pagi tak lagi berkabut tapi berasap tebal
dan bising klakson beriring berjejal
di depan warteg seberang jalan dekat rumah
bau sambel terasi semakin menggoda semakin jadi
sambel terasi
enaknya lagi sama tahu tempe
enggak usah bikin rame-rame
yang penting hidup senang
urusan orang biarin aje..
Ps. Kahatur ka tukang kerupuk
Penari jalanan
malam sudah datang
bulan di ujung kamboja
kuning menyala
adalah wanita paruh baya
berjalan seorang lewati jalan aspal
kerut mukanya di poles bedak
gincu merah tandas di bibirnya
dua buah dadanya di maniskan
kebaya merah selendang merah
berhentilah ia di keramaian
goyang pinggul di goyangkan
para lelaki dalam tawanannya
ikut menari
berputar meliak-liuk bagai tersirap
alunan musik dalam kotak hitam
malam yang hitam
bulan terjerembab kelam
roh para leluhur di masukan
menarilah mereka
handypranowo
Lagu Sunyi.
meredup merebahlah alam
guratan merah senja tak bersuara perlahan menyebar
hanya desiran angin sesekali menyisip di telinga
tersungkur hatiku diam membatu
memasuki sunyi
syair-syair dan puisi tak lagi guna
alam seperti mati
kesunyian merebak di mana-mana
petualang berjalan letih
pujangga tak lagi berinspirasi
aku…mati
handypranowo
Sebelum Mati.
guguran waktu bagai kamboja jatuh di pusara
tanah merah meratap langit mendung merebak
tak ada guna menangis tak ada guna bersedih
kesaksian hidup adalah kematian
jalan hitam jalan putih
tak luput tak akan tersembunyi
maka baik-baiklah berkata
maka bersantunlah pada sesama
yang yatim jadikan saudara
yang miskin bantulah derajatnya
yang kaya teruslah berderma
agar luas bumi ini untukmu
agar lembut salam malaikat di hari maut
Karena kemuliaanNYA lebih luas dari yang kau berikan
di dunia
handypranowo
Bahasa Cinta.
bahasa cinta
sayang dan rindu tak bertahta
kasih di hati adalah anugerah
duhai manis pujaan hati
belahan jiwa bunga asmara
di hujani cinta saat bulan purnama
merekah dan harum tubuh belia
---------------------------------------------------
wahai angin subuh yang dingin menusuk
langitnya warna merah padam
ku dekap kau sayang rebahlah bulan
adalah nafasmu dan nafasku terpendam
remuk di puncak gunung menjulang
------------------------------------------------------
sentuhlah lembut hasrat cintaku
dengan jemari yang dulu meremas dada bundamu
kini kau adalah milikku bukan lagi milik ibumu
jalanmu adalah jalanku
jalan lelaki kasar terjal berbatu
di hantam gelombang di lautan
semoga kau tetap dalam bidukku
-----------------------------------------------
pranowo handy
Duka Ibu Pertiwi.
Ditikam di hasut
Di cerai-berai kepalsuan kekuasaan
Di perbudak politik uang
Di manipulasi pemimpin sial
Di cambuk dipancung di negeri orang
Tetap diam
Pekik kemerdekaan disimpan saja dalam sarung
Di bawa mimpi lalu mati
Mana suaramu kawan yang dulu lantang teriak
Tentang kesejahteraan
Tentang keadilan
Tentang pendidikan
Tentang kesehatan
Kini ku dengar sepi
Ternyata hanya mimpi
Yang ada hanya kesedihan, kesengsaraan
Semua tak ada yang perduli
Pada Ibu Pertiwi
oo..Tanah air tumpah darahku
Apakah ini takdirmu
Di sia-siakan ditelantarkan nasibmu
Ditikam dihasut
Di cerai-berai kepalsuan kekuasaan
Di perbudak politik uang
Di manipulasi pemimpin sial
Di cambuk dipancung di negeri orang
oleh: HandyPranowo/Sarimindansarimin
Puisi WS.Rendra
Sajak seorang tua tentang bandung lautan api.
Bagaimana mungkin kita bernegara
Bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
Bagaimana mungkin kita berbangsa
Bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup
bersama ?
Itulah sebabnya
Kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api
Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang,
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
langit berwarna kesumba
Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
Kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
Mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
Manusia mana
Akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian ?
Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
Hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
Itulah sebabnya kami melawan penindasan
Kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga
Kini aku sudah tua
Aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
Bau apakah yang tercium olehku ?
Apakah ini bau asam medan laga tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku ?
Ataukah ini bau limbah pencemaran ?
Gemuruh apakah yang aku dengar ini ?
Apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah periangan ?
Ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap. Sukmaku gagap. Apakah aku
dibangunkan oleh mimpi ?
Apakah aku tersentak
Oleh satu isyarat kehidupan ?
Di dalam kesunyian malam
Aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku !
Apakah yang terjadi ?
Darah teman-temanku
Telah tumpah di Sukakarsa
Di Dayeuh Kolot
Di Kiara Condong
Di setiap jejak medan laga. Kini
Kami tersentak,
Terbangun bersama.
Putera-puteriku, apakah yang terjadi?
Apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami ?
Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,
Apakah kita masih sama-sama setia
Membela keadilan hidup bersama
Manusia dari setiap angkatan bangsa
Akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
Tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
Dan menghadapi pertanyaan jaman :
Apakah yang terjadi ?
Apakah yang telah kamu lakukan ?
Apakah yang sedang kamu lakukan ?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
Dari jawaban yang kita berikan.
Subscribe to:
Posts (Atom)