November 19, 2012

Hai Bapak.

Hai bapak
Aku berharap kau datang menemuiku ketika ku lelap.
Ketika rindu ini menggelapar pada kegaulauan.
Untuk sekedar menatap raut wajahmu yang pucat.
Atau sedikit bicara tentang masa kecilku yang kabur yang belum kau ungkap.
Kemarin aku berkunjung ke pusaramu.
Merangkai doa-doa dan membiarkan angin membawanya, ke pucuk-pucuk dahan kamboja.
Hingga ke langit mendung dimana air mataku tersimpan di sana untukmu.
Hai bapak bila saja Tuhan memberikan tangga untuk bertemu denganmu.
Akulah yang pertama menaikinya
Sekedar memberi coklat atau es krim kesukaanmu.
Dan meminta maaf atas semua kesalahanku.
Hai bapak dendam sudah terbalas untuk kesabaranmu sebelum melepas raga.
Anak-anakmu kini tumbuh dewasa dan siap mengitari dunia.
Mencari tempat, menancapkan pondasi dan membuat atap.
Sebagai payung pelindung curahan tangis suka dan suka.

 handypranowo

11.19.12

Menuju Merak.

Di tengah perjalanan kami sempat diam tak bicara.
Mungkin karena tanah-tanah yang retak, atau bukit-bukit tanpa hijauan membungkam mulut kita.
Sementara tanah kering karena kemarau haus akan hujan.
Kita tak saling berpandangan pula, kecuali gelisah memberi pemandangan,
bak urutan cerita yang tak pernah selesai tak pernah terungkap.
Udara panas menguap, debu-debu lincah berterbangan.
Warna langit biru dan matahari terik memanggang.
Sesekali ku lihat kau reguk air dari dalam botol bekas anggur murahan.
Bangau-bangau putih terbang melayang lalu menukik menyayat gelisah alam.
Sementara di dalam gerbong yang kusam kami mulai belingsatan,
bertanya kapan sampai tujuan.
Dada seorang wanita penjual kopi membelah diantara sesaknya penumpang.
Seorang lelaki dari dekat memanggilnya. “ Mbak, Kopi susunya dua ”.
Debu-debu terus berterbangan sesekali singgah di wajah dan rambut.
Keringat mulai mengucur membasahi punggung turun ke bokong.
Angin menerobos ke dalam baju merambat ke ketiak, dan angin memberinya kesegaran meski tanpa deodoran.
Seorang bocah duduk termenung di anak tangga di biarkan rambutnya di belai angin.
Merampungkan lamunannya pada harapannya yang panjang di depan.
Lewatlah lelaki buta menggandeng wanita tua.
Dan kita mengumpat, potret ketidakseimbangan terasa lekat.
Kereta tak mengantuk dan terus berjalan.
Orang-orang lelah menundukan kepala.
Kemudian nampak pemandangan laut di kejauhan.
Dengan puluhan kapal yang terlihat diam.
Seorang lelaki gelandangan terbangun dari tidurnya.
Tangannya menggapai puntung dan menghisapnya.
Sambil berkata, ‘sebentar lagi sampai di merak’
Ya merak akhir dari perjalanan.
Lalu di dalam letih dan kepanasan kurasakan sebuah perjuangan.
Meskipun hendak kucari di mana makna perjalanan.
Namun kubiarkan itu berlalu.
Maturnuwun kanggo, Den Rahmat Ali.

Ballada Nurlaila.



Duhai Laila.       
Wangi pandan tubuhmu dan sorot mata yang tabu.
Mengumbar guna-guna sampai ke ubun-ubun.
Sedang bibirmu merah anggur mengutuki cinta yang kelu.
Terbawa air sungai jantan keruh di hulu.
Maka lelaki datang setelah menelan dadamu, pengap di dalam menebas nafsu.
Dan jalannya kehidupan mengikuti angin meninggalkan ujung tanya.
Setelah usai gadis kecil merangkak mencari tahu kemana ayahnya.
Meledaklah tangisnya tiada kata.
Bulan terpotong melata di kegelapan.
Setelah gemetar ranjang mempelai dan kini mata saling berpamitan.
Cinta telah bertanduk dan menolak satu biduk gelombang kehidupan.
Namun darah telah mengalir meski atap ranjang belum di siapkan.
Begitulah Nurlaila.
Menggelapar dalam cinta bagai ikan kehausan.
Pada awal segala taruhan gairah birahi di tawan.
Maka pada bunga yang tumbuh kelopaknyapun mudah rapuh.
Tinggalah air susumu di dada tak bermadu.
Dan padanya pula gairah hancur kelabu.
Lelaki dengan mata kejora yang telah membiusmu.
Pergi menempuh jalan yang jauh melewati subuh dan tangisan bayimu.
Tak ada apa-apa selain kenangan mengetuki pintu hati yang berkabung.
Maka terpojoklah Nurlaila dalam bingung terkurung.

handypranowo