May 31, 2014

Rindu terakhir

Di mana kita akan akhiri semua rindu
apakah di balik semak-semak berduri berhias nafasmu
atau dalam ruang sepi dan membiarkannya semedi tanpa sesaji
atau kita hayati saja semua dalam kesendirian dan membiarkannya telanjang
sementara seribu malam terlewati tanpa bulan dan bintang
dan kita masih saja diam 
mempertanyakan dalam hati nasib rindu yang terlantar
oh aku di guncang kegalauan
terombang-ambing bagai kapal di tengah lautan
tanpa rasi bintang tanpa tujuan
bunga rindu bunga hidup bunga asmara yang kian kuncup
setubuhi aku dan mekarkan aku dalam sekejap
agar jiwaku bersamanya dan merasakan detak jantungnya yang berdegup

Jangan Lagi Tuan

Sekiranya begitu tuan, aku hanya ingin katakan jangan lagi kamu tikam.
Hidupku susah, hidupku berantakan.
Aku hanya bisa menulis, dan tinta penaku tak akan pernah habis.
Sekiranya tuan hendak memborgol tanganku atau melemparku ke tengah lautan.
Silahkan tuan,
tapi tidak akan dan tak akan pernah semangatku padam
Sebab mata hati ini telah lancip dan tajam.
Bosan dengan kekerasan, bosan dengan penindasan.
Sekiranya tuan baik dan santun.
Aku akan menulis puisi tentang jingga senja, dan lengkung rembulan
Bukan orasi-orasi tuan yang mudah di obral layaknya kutang dan celana dalam.
handypranowo

May 29, 2014

aku adalah

Aku adalah sungai yang keruh dan beracun.
Tenang aku mengalir di tengah kota yang brengsek.
Tempat orang-orang berak, orang-orang meludah.
Dan pabrik-pabrik limpahkan limbah.
Dan kalian asyik membuang sampah.

Aku adalah lokalisasi yang kumuh.
Renyah aku berdiri menyudut di tengah kota yang angkuh.
Tempat orang-orang mencibir, orang-orang selingkuh.
Lalu mimbar-mimbar agama limpahkan dosa dan serapah.
Sambil kalian asyik menfitnah  aku, mata kalian mengintip janda sebelah.

Aku adalah bawah kolong jembatan.
Rapuh dengan karat tanpa polesan di tengah kota yang acuh.
Tempat orang-orang tergeletak, orang-orang tak berdaya meneduh.
Lalu dewan kota datang menggusur, pedagang kaki lima dan pemulung merenung.
Tapi uang preman kau kantongi dan kalian bilang ini uang kebersihan.

Aku adalah sungai kota yang keruh.
Aku pelacur yang tergusur.
Aku kolong jembatan yang kumuh.
Aku meminta waktumu untuk diam sebentar melihatku tersungkur.

Dan aku adalah gedung-gedung tinggi dan plaza yang menawan.
Tegar aku berdiri tanpa ada yang berani melawan.
Sebab kamu tahu artinya kan bila melawan.
Aku borgol kalian, aku culik dan aku buang.
Ya hidup di sini memang begitu kawan.
Aku memang di takdirkan untuk menang.
Sebab aku punya uang.

handypranowo

May 28, 2014

...........................koma

Dari pertama hadirmu menyergap pandangan mataku
Selaksa bunga mekar dalam kabut biru
Aku muram tak bisa lupakan
Wajahmu seakan berkaca dalam keheningan
Merataplah aku memendam kerinduan
Duhai bidadari yang syahdu dalam kehampaan
Akankah kau gemetarkan jari jemariku
Saat nanti kau biarkan aku menterjemahkan kulit halusmu
membelainya di saat rembulan remang jatuh
Di dadamu akan ku goreskan selaksa doa, cinta dan rindu
dan selagi matamu terpejam aku benamkan hasratku di dua bibir tipismu
Merekahlah
Merekahlah
Mengaum lembut ku hirup nafasmu
Duhai perempuan dalam remang genggamanku
Engkau gairah dalam hidupku
Engkau mantra-mantra menyirap darahku hingga beku
Maka ku biarkan sorot matamu berlabuh meski rasanya aku khawatir bila lalu memelukmu
Akankan kau sambut duka nestapa dari rindu yang jauh
Dari lelaki yang kasar yang ingin mengobrak abrik ranjang hatimu
Oh sedapnya harum tubuhmu laksana kegentingan asmara yang mencekam
bagai pedang membelah belenggu
Dan dari rambutmu yang hitam tergerai meluncurlah hasrat dari jiwa yang haus akan cinta
Karena dirimu pula yang mampu menggetarkan pundi-pundi hasratku yang merana.

May 27, 2014

Perempuan dan Perempuan.

Perempuan dan Perempuan.
Aku melihat perempuan-perempuan di pinggir jalan.
Di bawah lampu remang-remang yang di kaburkan malam.
Sambil menghisap rokok menghisap debu jalanan.
Wangi tubuhnya membawa luka kehidupan yang bersarang di dada dan di selangkangan.
Cemas tak lagi di kandung sebab rahimnya milik siapa saja.
Mimpi di biarkan murung menikmati kegalalauan senja yang bingung.
Jiwanya gontai mengelupas nasib yang kurang beruntung.
Sementara di berita koran hari ini mengabarkan.
Perempuan-perempuan pekerja pabrik berdemonstrasi.
Mengenakan ikat kepala, berteriak hingga dadanya sesak.
Berorasi di depan pabrik, bendera serikat pekerja di acungkan ke langit.
Tak perduli terik matahari, tak perduli caci maki.
Semangatnya keras bagai karang yang cadas.
Lalu aku terenyuh dan mengingat di sebuah negeri di mana perempuan-perenpuan mengadu nasib di sana.
Mencari kehidupan di tanah jauh negeri seberang.
Tanpa sanak saudara.
Hidup mereka tumpah ruah dan merdeka namun tak sedikit pula yang di rajam amarah dan durja.
Luka-luka pada tubuh adalah saksi bisu kenyataan yang kadang mereka terima.
Lalu aku lihat berita di televisi lagi-lagi perempuan-perempuan nan cantik anggun rupawan.
Berkedudukan tinggi dan punya jabatan terlibat kasus korupsi dan kolusi.
Dari artis sampai bertaraf sosialita.
Oh dunia perempuan memang susah di terka.
Namun dari rahimnya merekalah anak-anak bangsa tercipta.
Baik buruknya kalian bisa terka
Handypranowo

May 19, 2014

Kita butuh ruang untuk berpuisi.
Dan puisi membutuhkan ruang untuk di pahami.
Bila kau bertanya di mana ruang kita berpuisi jawabnya di dalam hati.
Dan bila kau bertanya di mana ruang kita untuk memahami jawabnya ada di dalam hidup ini.

Hidup adalah puisi-puisi terindah yang tanpa di sadari.
Kita telah menulisnya di sepanjang jalan menuju akhir persinggahan.
Maka aku menulis puisi merangkai kisah yang aku lalui




Aku menunggu satu lelaki



aku menunggumu dalam sepi
saat bulan merah mendatangi langit gelap
di ujung jalan tanah setapak
ku ingin tak seorang pun tahu
kelelawar hitam dalam lampu remang-remang
terbang melintas dalam hati yang bimbang
adakah kau  datang
adakah kau ingkar
tonggak yang kau tancap kini berakar
geliat dosa di tanah basah setelah senja
menelan kalbuku
menjadi pertanyaan setiap hari berganti
akankah kau setia
akankah kau khianati
bulan mengintip sendu dari batang-batang bambu
suara langkah kaki terarah kepadaku
aku berdiri cemas
kecemasan saat pertama kali ia remas
semua terbuka dan masuklah
pintu sakral telah ku pasrahkan untuknya
tanpa restu tanpa doa waliku
langkah kaki terdengar dekat
aku membelakangi suaranya
lalu semakin dekat
dan aku menoleh lalu lelaki diam berdiri di depanku

handypranowo

May 14, 2014

Mengenangmu ( Cisalada )

aku duduk di sini memandangi
semburat senja berwarna merah maroon
yang menyelimuti dua gunung yang diam.
pesona keindahan dalam lukisan semesta membuatku terkesima.
udara yang lembab, kabut dingin merangkul sukmaku. 
bau dahan-dahan pinus menyebar serupa aroma tubuh. 
melayangkan ingatanku jauh membelah di antara dua gunung yang diam. 
ingatanku mendaki, terus mendaki
semburat senja merah maroon kusibak
dan ku biarkan ingatanku bertapa di puncak gunungnya 
dari atas puncak gunung mengalirlah mata air
aku minum sebagai pelepas dahaga
mata air kehidupan bagi selaksa jiwa
bagi mekarnya bunga-bunga
bagi bayi-bayi dalam gendongan ibunya
mata air itu mengalir terus
turun ke lembah-lembah cahaya purnama
membentuk danau yang indah
dan bunga-bunga bakung bermekaran di sana
hijau, ungu, merah,
sekali lagi aku terkesima
mataku tak bisa terpejam
namun hatiku bimbang dan bertanya
di mana letak kenangan akan terpendam
aku berteriak, aku berteriak
pada dewi puja seribu cinta
gemuruh menggema membahana
keseluruh jiwa yang rebah pada semesta
angin lembab sayup-sayup
kabut dingin merangkulku
dan segala letih setelah puncak gunung ku daki
aku bangkit dan berjalan ke timur
masuk ke dalam hutan
bercengkerama liar di dalamnya
membenamkan sejuta kenangan
merah manis
merah jingga
dan ku ingin tinggal lebih lama

handypranowo

Nonfiksi II

Kita putuskan untuk berpisah di hari ini.
Segala sesuatu yang mengenai kamu atau aku harap maklum adanya.
Tak ada sesuatu pun yang harus di ingat meski kata-kataku sedikit merayu.
Sebab apalagi kalau bukan karena matamu yang memancarkan cahaya teduh.
Perkenalan kita yang singkat menjadi sebuah rahasia yang keramat.
Dan kuharap kamu tahu bagaimana rahasia kau genggam erat.
Meskipun semua tanpa makna dan arti namun di dalam gerimis yang terakhir
kau undang kerinduan masuk ke dalam selimut.
Di situlah baru aku paham bahwa rindu semacam kabut yang menyesatkan pandangan mata.
Aku harap kita tidak menyesal
meski akhirnya kita sadar bahwa kabut dan rindu yang kita bina
sama dengan pengkhianatan
Dan kini bangkitlah lalu katakan bahwa perpisahan adalah
hal yang terindah yang harus di ucapkan.
Walaupun kata itu sangat sederhana
di bandingkan dengan sejuta rindu dan rayu yang kau puja.
Aku kini mengerti apa arti setia sesungguhnya
yaitu bila berjumpa pada pandangan pertama jangan lalu kau berubah dan menafikan yang lama
maka setelah rindu dalam selimut terakhir terlampiaskan
semoga tak ada lagi yang tersisa kata kata cinta dan desah di setiap jengkal yang terasa

Nonfiksi

Kerinduan itu aku anggap sebuah misteri yang tersembunyi. 
Adapun maknanya ku harap kau telah mengerti.
Sebab aku bukan ahli menduga-duga walau pernah aku rasa kamu pun basah. 
Dengan segala rindu yang tumpah ke dalam celah-celah jiwa yang resah.
Kini aku memandang dirimu lebih dalam.
Sedalam aku menyelami sesuatu yang engkau sembunyikan. 
Di separuh waktu hidupku yang terlunta-lunta memuja dirimu. 
Dengan segala rupa rasa yang menggoda.
Ku seru dirimu dalam kabut bahasa rindu.
Di dalam ketamakanku menelanjangi hasrat ragamu.
Satu persatu terbukalah celah dan kau mempersilahkan aku. 
Adapun akhirnya ku harus melepaskanmu
Maka dengan gerilya aku kembali berontak.
Serabut alang-alang ku lalui di malam penuh koyak. 
Harum tubuhmu binasakan kelumpuhanku.
Dan dua dadamu adalah bunga-bunga riap dosa terselimut.
Aku mencumbuinya, aku menciuminya sore itu.
Ketika senja merapat di dermaga tua cakrawala.
Dan angin mendesah langit pun berubah warna.
Bila mana hari itu di sebut duka ialah karena rinduku.
Duhai kasih duhai pujaanku
Di dalam remang-remang aku bertahan
Sekiranya ada waktu
Di mana kah mesti berlabuh senja yang biru.

Menjadi

Menjadi sepi.
Menjadi mimpi.
menjadi angin.
menjadi malam.
menjadi pagi.
menjadi siang.
menjadi tenggelam.
mendadak mati.

menjadi suara.
menjadi rupa.
menjadi gelap.
menjadi subuh.
menjadi hilang.
menebas mimpi.

menjadi anjing.
menjadi maling.
menjadi gundah
merayap sepi.

menjadi samudera.
menjadi gunung.
menjadi luka.
terapung dalam bencana.
aku gelisah menjadi pelangi.

handypranowo