May 12, 2012

WS.Rendra.

Perempuan yang tergusur.

Hujan lebat turun di hulu subuh
disertai angin gemuruh
yang menerbangkan mimpi
yang lalu tersangkut di ranting pohon

Aku terjaga dan termangu
menatap rak-rak buku
mendengar hujan menghajar dinding
rumah kayuku
Tiba-tiba pikiran mengganti mimpi
dan lalu terbanglah wajahmu
wahai perempuan yang tergusur

Tanpa pilihan ibumu mati ketika kamu bayi
dan kamu tak pernah tahu siapa ayahmu
Kamu di asuh nenekmu yang miskin di desa
Umur enam belas kamu di bawa ke kota
oleh sopir taxi yang mengawinimu
Karena suka berjudi
ia menambah penghasilan sebagai germo

Ia paksa kamu jadi primadona pelacurnya
Bila kamu ragi dan murung
lalu kruang setoran kamu di berikan
ia memukul kamu babak belur
Tapi kemudian ia mati di tembak tentara
ketika ikut demonstrasi politik
sebagai demonstran bayaran

Sebagai janda yang pelacur
kamu tinggal di gubuk tepi kali
di batas kota
Gubernur dan para anggota DPRD
menggolongkanmu sebagai tikus got
yang mengganggu peradaban
Di dalam hukum positif tempatmu tidak ada
jadi kamu di gusur

Di dalam hujan lebat pagi ini
apakah kamu lagi berjalan tanpa tujuan
sambil memeluk kantong plastik
yang berisi sisa hartamu?
ataukah berteduh di bawah jembatan?

Impian dan usaha
bagai tata rias yang luntur oleh hujan
mengotori wajahmu
kamu tidak merdeka
kamu adalah korban tenung keadaan
Keadilan terletak di seberang highway berbahaya
yang tak mungkin di seberangi

Aku tak tahu cara seketika untuk membelamu
tetapi aku memihak kepadamu
Dengan sajak ini bolehkan aku menyusut keringat dingin
di jidatmu?

O, cendawan peradaban!
O,teka-teki keadilan!

Waktu berjalan satu arah saja
Tetapi ia bukan garis lurus
Ia penuh kelokan yang mengejutkan
gunung dan curang yang mengecilkan hati
Setiap kali kami melewati kelokan yang berbahaya
puncak penderitaan yang menyakitkan hati
atau tiba di dasar jurang yang berlimbah lelah
selalu kamu dapati kedudukan yang tak berubah
Ialah kedudukan kaum terhina

Tetapi aku kagum pada day tahanmu
pada caramu menikmati setiap kesempatan
pada kemampuanmu berdamai dengan dunia
pada kemampuanmu berdamai dengan diri sendiri
dan caramu merawat selimut dengan hati-hati

Ternyata di gurun pasir kehidupan yang penuh bencana
semak yang berduri bisa juga berbunga
Menyaksikan kamu tertawa
karen melihat ada kelucuan di dalam ironi
diam-diam aku memuja kamu di hati ini

Cipayung Jaya
3 desember2003

Rendra


Puisi WS.rendra

Sajak Pertemuan Mahasiswa

matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan
dan mendengar dengung di dalam hutan

lalu dia kini dua penggalah tingginya
dan ia menjadi saksi kita berkumpul di sini
memeriksa keadaan

kita bertanya:
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata:"kami ada maksud baik"
dan kita bertanya:"maksud baik untuk siapa?"

ya,
ada yang jaya, ada yang terhina
ada yang bersenjata,ada yang terluka
ada yang duduk,ada yang di duduki
ada yang berlimpah,ada yang terkuras
dan kita di sini bertanya:
"maksud baik saudara untuk siapa?"
"saudara berdiri di pihak yang mana?"

kenapa maksud baik di lakukan
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
tanah-tanah di gunung telah di miliki orang-orang kota
perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja
alat-alat kemajuan yang di impor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya

tentu, kita bertanya:
"lantas maksud baik saudara untuk siapa?"
sekarang matahari semakin tinggi
lalu aku akan bertahta juga di atas puncak kepala
dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya
kita ini di didik untuk memihak yang mana?
ilmu-ilmu akan di ajarkan di sini
akan menjadi alat pembebasan
ataukah alat penindasan?

sebentar lagi matahari akan tenggelam
malam akan tiba
cicak-cicak berbunyi di tembok
dan rembulan berlayar
tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
akan hidup di dalam mimpi
akan tumbuh di kebon belakang

dan esok hari matahari akan terbit kembali
sementara hari baru menjelma
pertanyaan-pertanyaan kita menjdai hutan
atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra

di bawah matahri ini kita bertanya
ada yang menangis, ada yang mendera
ada yang habis,ada yang mengikis
dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana

Rendra.
Jakarta 1 desember 1977