July 27, 2014

Doaku di akhir Ramadhan.

Aku bersuci lalu menyudut dalam sendiri dan sujud.
Menengadah pada puncak malam di akhir Ramadhan yang ramai dan suka cita.
Tubuhku gemetar, jiwaku masih dalam balutan dosa-dosa yang terus menjalar.
Bagai gatal dan aku garuk dengan dzikir, takbir dan rasa kerendahan.

Tuhan, kiranya saja masih ada kekurangan di dalam Ramadhanku yang sekarang.
Pertemukanlah kembali hamba dan mudahkanlah jalan untuk melaluinya.
Sebab nyatanya rindu dari segala rindu yang ada pada diri hamba adalah rindu Ramadhan.
Di mana Kamu begitu dekat menghampiri dengan tangan berlimpahan berkah dan karunia.

Tak ada ujung pangkal nikmat dan kebesaranMu terlebih di dalam bulan Ramadhan.
Maka jadikanlah hamba seperti orang-orang yang dahulu pernah berbakti dan teguh
terhadap ibadahnya, terhadap sujudnya.
Yang selalu memuliakan keridhaan Ramadhan dan menjadi ladang mencari keberkahan.
Jadikanlah hamba orang-orang yang berguna dan bernilai bagi sesama manusia.
Dan menjadikan kemenangan Ramadhan ini bukan akhir dari segala penghidupan.

Malam ini harus kulepaskan dirimu pergi Ramadhan.
Namun tidak karuniaMu yang terus melingkar dalam jiwa yang selalu ingin kembali fitrah.
Pertemukan kembali saya kepada Ramadhan Tuhan.
Ramadhan yang di dalamnya terdapat kemuliaan seribu bulan.

Pada apa segala bermula dan pada akhirnya pun akan kembali.
Tuhan bagi semesta alam, penghimpun umat dan pengabdi sejati.
Pada Mu lah segala kemuliaan dan kebesaran.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar.

July 24, 2014

Untuk Mei

Untuk Mei.

Mei, saya takut tinggal di negeri ini. Tak ada kepastian hukum, para penegaknya semena-mena, bagai permainan akrobat di arena sirkus.

Mei, kamu lihatkan di tv, pemimpin di sini pandai bicara, bermuka dua, saling tipu menipu menghalalkan segala cara. 

Mei, kenapa kuasa begitu angkuh hingga orang-orang di sini saling memperebutkannya. Padahal hidup mereka berkecukupan, apakah orang tua mereka mengajarkan serakah semasa kecil dulu.

Mei, saya ngeri melihat berbagai kekerasan di negeri ini. Beda aliran, beda pemahaman, beda keyakinan bisa saling bunuh membunuh.
Kamu ingat Mei, kamu lihat kan?
Ahh kenapa kamu diam Mei, bagaimana bisa kau bersyair cinta dan rindu sedang di sekelilingmu berduka.

Mei, bila aku pindah ke pulau mu apa di sana berbeda, apakah ada kedamaian, apakah ada hukum yang pasti di tegakkan.
Bukankah kita sama tinggal di satu negara?

Aku memandang matamu diam. Kamu tak bicara apa-apa. Maaf, aku mengganggumu masak. Aku hanya khawatir esok kita tak bisa makan.

pranowohandy

Ini petualangan kita

jangan kau sebut ini sebagai petualanganku sendiri.
sebab aku bukan penjelajah yang baik.
aku sering tersesat, aku sering tenggelam.
aku butuh kompas untuk tunjukan jalan.

lalu kamu hadir diam-diam dengan 
perasaan yang sama yang aku ungkapkan.
seolah takdir mempertemukan kita di persimpangan jalan.
ingin rasanya segera menyatukan asa yang dulu terpental.
ke dalam hati hati yang kering kerontang.
maka rindu memberontak 
bagai tetes air yang loncat bebas dari kungkungan awan
terbang melayang menuju lautan.
menyatulah ia ke dalam gelombang, menghempas karang-karang terjal.

seperti inilah kiranya gambaran kita.
selebihnya biarkanlah biarkanlah ia bebas berkelana.
mencari tempatnya masing-masing yang dulu pernah di singgahi.
maka jika aku liar dan kamu tidak itu tandanya aku yang bernafsu.
bukalah matamu akan ku bawa kamu terbang jauh.
jika kamu liar dan aku tidak itu artinya kamu memang butuh.
tundukkanlah aku dan bawalah aku beserta anganmu.

lalu apa bedanya dan mengapa kamu diam.
tunggu apa lagi kasih mari kita bercumbu.
di tiap sudut malam dari bulan sabit sampai bulan bundar.
atau ketika subuh datang di saat angin bawa kabut dingin perlahan.

Rencana Hitam

Di dalam tabir malam dengan tenang ia hisap kejenuhan
Mengurung waktu membenam diri dalam angan.
Adakah gundah, adakah resah berjejal dalam tangkup jalan kehidupan.
Terkoyaklah satu demi satu mimpi yang dulu di genggam.

Oh, kabut duka semesta gelap 
di tebasnya alang-alang bulan yang meratap.
Pada jendela raung pertama terungkap, di selipkannya gelisah di dinding angin yang menjalar ke atap.
Dan lelaki benam seribu kekesalan di asahnya pedang.
Ini nyawa pasti mati namun tidak jiwaku, sayang.

Lalu bangkitlah ia pada langkah kaki pertama berdoa.
Semoga anakku lanang menjadi anak yang kuat.
Semoga istriku sayang menjadi istri yang hebat.
Dan mendekatlah ia dari pintu kontrakkan dan di bukanya.

Angin malam menderu menghempas batang-batang bambu.
Suara anjing mengonggong pada malam yang membisu.
Setelah hisapan terakhir dan asap mengepul melampaui cahaya bulan.
Di selipkannya pedang di punggung belakang.

Ini malam telah tunai semua, usahanya telah habis dan ia merasa di lecehkan.
lalu ia berkata :
Aku akan merampok seperti kamu juga merampok uang negara.
Bila kamu merampok untuk senang-senang dan kuasa.
Aku merampok untuk hidup agar jangan sengsara.

Temannya sudah menunggu di ujung jalan.
Bersama dengan satu tujuan.
Maka bergetarlah nyanyian burung hitam.
Saat mereka bergerak melindas aspal jalanan.

handypranowo

Surat Untuk Mak

Mak, tahun ini bakal jadi tahun yang padat buat neng dan grup dangdut "asyik geboi" untuk meraup rejeki. Pasalnya tahun ini bertepatan dengan tahun politik, di mana sejumlah parpol berbondong-bondong ingin meraup suara demi kemenangan mereka untuk duduk di kursi pemerintahan. Mak, mungkin kurang paham apa hubungannya politik dan panggung dangdut. Jelas ada hubungannya Mak, sebab setiap kampanye koar-koar obral janji tanpa di selingi hiburan dangdut kurang afdol.

Dari desa sampai kota dari artis ternama sampai artis amatiran seperti neng banyak dapat tawaran manggung. Alhamdulilah Mak,musik dangdut yang neng geluti sejak ayah pergi tinggalkan bumi telah membawa berkah dan mengantarkan kehidupan yang lebih baik yaitu tidak miskin. Paling tidak neng bisa menyekolahkan Ncep dan membantu Mak di kampung meski hanya dua ratus ribu sebulan.
Biarpun neng di cap macam-macam sebagai penyanyi dangdut panggilan tidak apalah, toh mereka tidak pernah mengerti dan tidak mau tahu kehidupan kita yang sebenarnya. Kita tak boleh mati sebelum berjuang Mak.

Mak, dari parpol hijau sampai parpol biru ngasih bayarannya cukup lumayan, mudah-mudahan kalo duit sudah kumpul banyak kita bisa segera perbaiki genteng rumah dan tembok samping yang kemarin di terjang angin puting beliung.
Mak, terakhir waktu neng manggung di salah satu parpol besar yang dulu pernah berkuasa salah satu anggota calegnya bicara tentang kesejahteraan dan kemakmuran serta kepastian hukum bagi Tenaga Kerja Indonesia.

Neng ingat Mak, neng beruntung Mak bisa pulang dengan selamat dan menyelesaikan kontrak tanpa harus di pukul dan di siksa. Kalau di pikir-pikir hebat ya Mak Indonesia, bisa kirim banyak wanita-wanita untuk bekerja di luar negeri. Padahal di sini tanahnya luas, tanah dan lautannya menghasilkan sumber daya alam yang melimpah ruah. Tapi mereka bilang sumber daya manusia Indonesia yang berpendidikan itu kurang. Lha wong gimana nggak kurang, kemiskinan saja masih banyak, terus jumlah sekolah yang layak pakai saja sedikit di bandingkan Mall dan Plaza.

Maaf Mak, neng jadi ngelantur mungkin karena tujuh kali di undang parpol untuk nyanyi di setiap kampanyenya dan sering dengar mereka orasi di depan umum jadi tahu apa yang benar-benar terjadi di negeri ini. Nggak tahunya, ujung-ujungnya ya menipu, orang-orang seperti kita tetap saja miskin dan susah mendapatkan kehidupan yang layak. Janji mereka hanya sekedar janji.

Mak, bilang Ncep kalau neng pulang abis pemilu nanti sampai pemilu presiden. Ncep jangan sering di manja Mak, suruh ngaji dan jangan lupa pukul dia kalau tidak sholat. Dan bilang ke Ncep kalau nasibnya tidak mau seperti ayahnya yang jadi buronan polisi belajarlah yang baik dan sungguh-sungguh. Jangan sering bolos kayak anggota DPR, jangan bohong dan harus jujur.
Kiranya itu Mak yang bisa neng tulis di surat ini.

Sudah dulu ya Mak, neng mau istirahat kemungkinan neng besok ada di pulau Sumatera ada jadwal panggung di sana beserta parpol hijau. 
Yang sehat ya Mak dan jaga kesehatannya.

Salam Hormat

Si goyang emoy

July 22, 2014

Untuk Tuan Presiden yang baru

Ini puisiku tuan, puisiku yang telah lama terombang-ambing kegelisahan
namun kini bangkit sebab ku lihat masih ada juga secercah harapan,
bukan kabut tidak juga samar.
Harapan itu jelas ada di depan mata,
bercahaya, bergemerlapan.
Dan hendaknya tuan sambut dengan gegap gempita
sebab ada juga harapan di pundak tuan.
Rakyat telah bersuara, rakyat telah memilih siapa yang layak.
Dan itu kepadamu tuan harapan di bentangkan.
Maka jangan remehkan kami, rakyat yang telah lama berjuang,
yang menyimpan segala harap semesta jiwa bagi kemaslahatan.
Di tanganmu lah tuan, bumi pertiwi melepas amanat,
menyerahkan  tugas dan kewajiban.
Bermandikan keringat bersama-sama kami ingin pula berjuang.
Menyatukan segenap tekad yang baik, harapan hidup yang mulia
dengan hukum yang bijak dan berkeadilan.

Puisiku ini hanya coretan usang yang telah lama  ku simpan,
bukannya juga aku menggurui tuan sebab aku bukan tuan jenderal.
Maka sudah waktunya kita berpegangan tangan melangkah dengan satu tujuan.
Sudah masanya kita duduk bersama saling mengenal budi bahasa dan tutur sapa.
Kita punya budaya yang teguh tepa selira yang patut di junjung.
Kita punya budaya yang santun menghargai pendapat dengan musyawarah mufakat.
Itulah prinsip, itulah jalan, itulah hakikat hidup berkebangsaan.

Jangan lagi terbawa amarah, nafsu kuasa dan dendam kesumat.
Ingat, negara ini telah banyak menumpahkan darah, nyawa dan kesedihan.
Jangan ada lagi rakus, tamak, dan saling memperkaya golongan.
Ingat, negara ini telah miskin dan kelaparan di sebabkan kerakusan, serta ketamakkan.
Bawalah kami dengan segenap tulus dan pengorbanan,
di dalam hidup bernegara dan berkebangsaan yang layak.
Semboyan  bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
tegaskan jika itu bukan hanya isyarat namun juga petuah keramat.

Biarkanlah tumbuh tunas-tunas muda dengan akar yang menancap tegar ke dalam tanah,
ke dalam bumi yang subur dan sentosa di mana segenap asa kami tumpah ruah.  
Biarkanlah sayap-sayap merah-putih  terbang ke atas langit kemerdekaan dengan panji dan pekik,
 Raya, Raya, Raya Indonesia Raya.
Itulah yang kami mau tuan, itulah yang kami mimpi-mimpikan,
menggeliat, menjadi ulet dan tangguh , menjadi bangsa yang besar karena bersatu padu.

July 19, 2014

Satu kepedihan

Ia hanya diam sambil terus melukis wajah kekasihnya yang telah pergi.
Di goreskannya doa pada tinta-tinta warna yang basah,
harapan di hidupkan di dalam garis melengkung dan datar. 
Mungkin di ujung senja kan kau temukan dia.

Lalu kau gambar perahu kecil dengan sepasang kayuh yang diam tergeletak,
berharap nanti kau raih kayuh itu dengannya dan mengarungi gelombang bersama.
Waktu terus berputar dan angin selalu setia berbisik kepadamu
jika kekasihmu pergi dan tak akan mungkin kembali.

Kamu di bungkam kenyataan dan terus terpaku di dalam kesedihan.
Ibumu yang telah mengandung memandang dengan mata yang temaram seraya memberimu wejangan.
" yang pergi tak akan pernah kembali nok " dan kedua mata mereka saling bertatapan
memberi warna di dalam kesedihan.

Bunga kamboja telah di tabur di atas tanah
yang telah menguburnya lebih dalam dari tangismu semalaman.
Sambil terus melukis wajah kekasihmu di dalam tabir senja yang berkabut
sesekali kamu elus perutmu. " Diam sayang, ibu sedang melukis wajah ayahmu ".

 ( Pranowohandy )

July 15, 2014

Apa Pilihan Kamu

Kamu pilih dua atau kamu pilih satu.
Bebas-bebas saja, terserah yang kamu mau.
Asal jangan kasak-kasuk.
Asal jangan ribut-ribut.
Hidup ini kan serba memilih, mau jadi apa, mau pilih apa, mau bagaimana kamu sendiri yang bebas menentukan.

Maka sebelum memilih kamu mesti pintar-pintar jangan gegabah.
Enak saja bila nanti kamu lepas tangan, kan kamu juga yang memilih.
Itu namanya hidup yang bertanggung jawab bukan asal-asalan.
Lihat Bung hidup kita sudah berantakan,
kasar, kumuh, jorok.
Lalu mau di timpakan lagi dengan hidup di negeri yang carut marut.

Aku sih bingung awalnya namun aku sadari di negeri ini segala cara di halalkan.
Kamu mau mati di tembak atau mati kelaparan tinggal pilih jangan sungkan.
Di sini hukum dan birokrasi seperti komedi putar.
Asyik di buai, pusing dan melayang-layang
Coba lihat sana orang-orang ribut teriak demokrasi yang berdikari,
apa yang bener kalau semua di isi dengan caci maki.
Ujung-ujungnya ribut adu fisik, mampus.

Padahal banyak orang-orang yang tak mampu mengantri di rumah sakit,
di gerbang pendidikan, di depan pabrik-pabrik dan pintu perusahaan.
Mereka berharap hidup berkelayakan.
Mereka berharap dari seorang pemimpin yang baik dan benar.
Itulah Bung, seperti hidup kamu juga harus pandai memilih.
Kalau benar dan baik laksanakan.
Kalau buruk dan kasar kamu tinggalkan.
Itu namanya hakikat kehidupan menerima sesuatu yang tak menentang hati nurani.
Kita kan ciptaan Tuhan bukan ciptaan iblis yang suka merayu setan.

Maka kamu pilih satu atau dua.
Aku sih bebas-bebas saja.
Tak akan kasak-kasuk.
Tak akan ribut-ribut.
Dan akan selalu baik, menghargai sebuah pilihan tanpa paksaan.
Dan selalu memandang engkau Bung sebagai saudara seperjuangan.

July 08, 2014

Kami Adalah

Kami adalah simbol kemelaratan yang sering kamu bawa-bawa dalam jargon kampanyemu. Kami adalah selimut-selimut lusuh dengan berbagai penyakit yang selalu kau janjikan untuk sembuh. Kami adalah mata elang katamu yang mampu merobek musuh-musuhmu. Kami adalah lumbung-lumbung suara yang dengan mudah kau tipu dengan uang. Kami adalah kebodohan yang sebenarnya kalian jaga dan tidak akan pernah di sejahterakan. Sebab bila nanti kamu memang, kami di gusur dan di telantarkan dalam pasung kekuasaanmu.

puisi satu ( gadis kecil pelukis senja )

Bila langit merah dan burung-burung bangau terbang rendah.
Sedang angin bersiul memanggil keheningan dari balik punggung perbukitan.
Di dekat pancuran air bambu di antara rumpun-rumpun ilalang.
Duduk ia di atas batu, seorang gadis kecil pelukis senja.
Rambutnya yang lurus panjang di mainkan angin bergoyang-goyang.
Dan nampak pipinya yang bulat merona bagai warna matahari yang terkelupas.

Ia begitu hening, begitu paham, begitu pula ia rasakan.
Bagaimana menterjemahkan keindahan senja di dalam kebutaan matanya.
Tanpa kuas, tanpa kanvas, tanpa pensil warna dan kertas.
Hanya dengan hati dan pikirannya melukis sendiri senja di dalam pandangan dirinya.
Hingga berlinanglah air matanya menjadikan rasa penyesalan kepada yang Maha Kuasa.
Kemudian ia berkata " Tuhan, ternyata kaulah letak keindahan itu meskipun kau beri aku sejuta senja "

pranowohandy