Ini puisiku tuan, puisiku yang telah lama terombang-ambing kegelisahan
namun kini bangkit sebab ku lihat masih ada juga secercah harapan,
bukan kabut tidak juga samar.
Harapan itu jelas ada di depan mata,
bercahaya, bergemerlapan.
Dan hendaknya tuan sambut dengan gegap gempita
sebab ada juga harapan di pundak tuan.
Rakyat telah bersuara, rakyat telah memilih siapa yang layak.
Dan itu kepadamu tuan harapan di bentangkan.
Maka jangan remehkan kami, rakyat yang telah lama berjuang,
yang menyimpan segala harap semesta jiwa bagi kemaslahatan.
Di tanganmu lah tuan, bumi pertiwi melepas amanat,
menyerahkan tugas dan kewajiban.
Bermandikan keringat bersama-sama kami ingin pula berjuang.
Menyatukan segenap tekad yang baik, harapan hidup yang mulia
dengan hukum yang bijak dan berkeadilan.
Puisiku ini hanya coretan usang yang telah lama ku simpan,
bukannya juga aku menggurui tuan sebab aku bukan tuan jenderal.
Maka sudah waktunya kita berpegangan tangan melangkah dengan satu tujuan.
Sudah masanya kita duduk bersama saling mengenal budi bahasa dan tutur sapa.
Kita punya budaya yang teguh tepa selira yang patut di junjung.
Kita punya budaya yang santun menghargai pendapat dengan musyawarah mufakat.
Itulah prinsip, itulah jalan, itulah hakikat hidup berkebangsaan.
Jangan lagi terbawa amarah, nafsu kuasa dan dendam kesumat.
Ingat, negara ini telah banyak menumpahkan darah, nyawa dan kesedihan.
Jangan ada lagi rakus, tamak, dan saling memperkaya golongan.
Ingat, negara ini telah miskin dan kelaparan di sebabkan kerakusan, serta ketamakkan.
Bawalah kami dengan segenap tulus dan pengorbanan,
di dalam hidup bernegara dan berkebangsaan yang layak.
Semboyan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
tegaskan jika itu bukan hanya isyarat namun juga petuah keramat.
Biarkanlah tumbuh tunas-tunas muda dengan akar yang menancap tegar ke dalam tanah,
ke dalam bumi yang subur dan sentosa di mana segenap asa kami tumpah ruah.
Biarkanlah sayap-sayap merah-putih terbang ke atas langit kemerdekaan dengan panji dan pekik,
Raya, Raya, Raya Indonesia Raya.
Itulah yang kami mau tuan, itulah yang kami mimpi-mimpikan,
menggeliat, menjadi ulet dan tangguh , menjadi bangsa yang besar karena bersatu padu.
namun kini bangkit sebab ku lihat masih ada juga secercah harapan,
bukan kabut tidak juga samar.
Harapan itu jelas ada di depan mata,
bercahaya, bergemerlapan.
Dan hendaknya tuan sambut dengan gegap gempita
sebab ada juga harapan di pundak tuan.
Rakyat telah bersuara, rakyat telah memilih siapa yang layak.
Dan itu kepadamu tuan harapan di bentangkan.
Maka jangan remehkan kami, rakyat yang telah lama berjuang,
yang menyimpan segala harap semesta jiwa bagi kemaslahatan.
Di tanganmu lah tuan, bumi pertiwi melepas amanat,
menyerahkan tugas dan kewajiban.
Bermandikan keringat bersama-sama kami ingin pula berjuang.
Menyatukan segenap tekad yang baik, harapan hidup yang mulia
dengan hukum yang bijak dan berkeadilan.
Puisiku ini hanya coretan usang yang telah lama ku simpan,
bukannya juga aku menggurui tuan sebab aku bukan tuan jenderal.
Maka sudah waktunya kita berpegangan tangan melangkah dengan satu tujuan.
Sudah masanya kita duduk bersama saling mengenal budi bahasa dan tutur sapa.
Kita punya budaya yang teguh tepa selira yang patut di junjung.
Kita punya budaya yang santun menghargai pendapat dengan musyawarah mufakat.
Itulah prinsip, itulah jalan, itulah hakikat hidup berkebangsaan.
Jangan lagi terbawa amarah, nafsu kuasa dan dendam kesumat.
Ingat, negara ini telah banyak menumpahkan darah, nyawa dan kesedihan.
Jangan ada lagi rakus, tamak, dan saling memperkaya golongan.
Ingat, negara ini telah miskin dan kelaparan di sebabkan kerakusan, serta ketamakkan.
Bawalah kami dengan segenap tulus dan pengorbanan,
di dalam hidup bernegara dan berkebangsaan yang layak.
Semboyan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh
tegaskan jika itu bukan hanya isyarat namun juga petuah keramat.
Biarkanlah tumbuh tunas-tunas muda dengan akar yang menancap tegar ke dalam tanah,
ke dalam bumi yang subur dan sentosa di mana segenap asa kami tumpah ruah.
Biarkanlah sayap-sayap merah-putih terbang ke atas langit kemerdekaan dengan panji dan pekik,
Raya, Raya, Raya Indonesia Raya.
Itulah yang kami mau tuan, itulah yang kami mimpi-mimpikan,
menggeliat, menjadi ulet dan tangguh , menjadi bangsa yang besar karena bersatu padu.
No comments:
Post a Comment