July 19, 2014

Satu kepedihan

Ia hanya diam sambil terus melukis wajah kekasihnya yang telah pergi.
Di goreskannya doa pada tinta-tinta warna yang basah,
harapan di hidupkan di dalam garis melengkung dan datar. 
Mungkin di ujung senja kan kau temukan dia.

Lalu kau gambar perahu kecil dengan sepasang kayuh yang diam tergeletak,
berharap nanti kau raih kayuh itu dengannya dan mengarungi gelombang bersama.
Waktu terus berputar dan angin selalu setia berbisik kepadamu
jika kekasihmu pergi dan tak akan mungkin kembali.

Kamu di bungkam kenyataan dan terus terpaku di dalam kesedihan.
Ibumu yang telah mengandung memandang dengan mata yang temaram seraya memberimu wejangan.
" yang pergi tak akan pernah kembali nok " dan kedua mata mereka saling bertatapan
memberi warna di dalam kesedihan.

Bunga kamboja telah di tabur di atas tanah
yang telah menguburnya lebih dalam dari tangismu semalaman.
Sambil terus melukis wajah kekasihmu di dalam tabir senja yang berkabut
sesekali kamu elus perutmu. " Diam sayang, ibu sedang melukis wajah ayahmu ".

 ( Pranowohandy )

No comments:

Post a Comment