Bila langit merah dan burung-burung bangau terbang rendah.
Sedang angin bersiul memanggil keheningan dari balik punggung perbukitan.
Di dekat pancuran air bambu di antara rumpun-rumpun ilalang.
Duduk ia di atas batu, seorang gadis kecil pelukis senja.
Rambutnya yang lurus panjang di mainkan angin bergoyang-goyang.
Dan nampak pipinya yang bulat merona bagai warna matahari yang terkelupas.
Ia begitu hening, begitu paham, begitu pula ia rasakan.
Bagaimana menterjemahkan keindahan senja di dalam kebutaan matanya.
Tanpa kuas, tanpa kanvas, tanpa pensil warna dan kertas.
Hanya dengan hati dan pikirannya melukis sendiri senja di dalam pandangan dirinya.
Hingga berlinanglah air matanya menjadikan rasa penyesalan kepada yang Maha Kuasa.
Kemudian ia berkata " Tuhan, ternyata kaulah letak keindahan itu meskipun kau beri aku sejuta senja "
pranowohandy
Sedang angin bersiul memanggil keheningan dari balik punggung perbukitan.
Di dekat pancuran air bambu di antara rumpun-rumpun ilalang.
Duduk ia di atas batu, seorang gadis kecil pelukis senja.
Rambutnya yang lurus panjang di mainkan angin bergoyang-goyang.
Dan nampak pipinya yang bulat merona bagai warna matahari yang terkelupas.
Ia begitu hening, begitu paham, begitu pula ia rasakan.
Bagaimana menterjemahkan keindahan senja di dalam kebutaan matanya.
Tanpa kuas, tanpa kanvas, tanpa pensil warna dan kertas.
Hanya dengan hati dan pikirannya melukis sendiri senja di dalam pandangan dirinya.
Hingga berlinanglah air matanya menjadikan rasa penyesalan kepada yang Maha Kuasa.
Kemudian ia berkata " Tuhan, ternyata kaulah letak keindahan itu meskipun kau beri aku sejuta senja "
pranowohandy
No comments:
Post a Comment