August 16, 2013

Nasionalisme di atas kapal pesiar.

Ini tahun kedua saya merayakan hari kemerdekaan Indonesia di negeri sendiri.  Beberapa tahun yang lalu tepatnya sejak 2008 sampai 2011 saya selalu merayakan hari kemerdekaan di negeri . Saya adalah mantan Tenaga Kerja Indonesia yang pernah bekerja di kapal pesiar. Selama saya bekerja di kapal pesiar dulu, saya pernah merayakan hari kemerdekaan di tiga negara yang berbeda di tiap tahunnya. Pertama kali saya merayakan hari kemerdekaan di Dubrovnik, Croatia di atas kapal Nordam, lalu Dublin, Irlandia di atas kapal Westerdam dan terkahir di Warnemunde, Jerman di atas kapal Rotterdam. Ada sesuatu yang berbeda bagi diri saya pribadi, sesuatu yang lebih khidmat dan sakral saat saya merayakan hari kemerdekaan di negeri orang lain.

Mungkin karena jauh dari negeri sendiri jadi rindu nasionalisme itu sangat menggebu, terlebih lagi saya selalu terlibat dalam kepanitiaan tujuh belasan.  Namun meskipun jauh dari negeri sendiri perayaan hari kemerdekaan berlangsung sangat-sangat meriah.  Para awak kapal pesiar khususnya warna negara Indonesia sangat antusias menyambut hari kemerdekaan Indonesia.

Begitu banyak acara dan jenis-jenis pertandingan yang di selenggarakan di atas kapal layaknya perayaan hari kemerdekaan di negeri sendiri. Antara lain adu gaple, catur, PlayStasion soccer, tarik tambang, balap karung, makan kerupuk, masukan paku ke dalam botol, lomba bakiak dan masih banyak lagi. Seluruh awak kapal khususnya warga negara Indonesia di wajibkan ikut serta, tentu saja mereka sangat senang mengikuti segala perlombaan yang di selenggarakan.  

Juga untuk mengobati kerinduan akan tanah air Indonesia di samping itu hadiah-hadiah para pemenang lomba lumayan bagus. Namun tidak menutup kemungkinan bagi peserta lain di luar warga negara Indonesia pun boleh ikut serta.

Sebulan sebelum hari 17 biasanya kita bentuk kepanitiaan, seksi lomba sampai team akomodasi pun di bentuk, tidak main-main kita bekerja bahkan dana yang di habiskan pun bisa sampai jutaan rupiah.  Tapi memang ada budget khusus buat hal itu dari pihak perusahaan kapal kami. Saya pun tidak tahu pasti jumlahnya namun cukup lah untuk mengobati rasa rindu kemerdekaan.

Kita juga membentuk team paskriba dan menunjuk pemimpin upacara. Biasanya untuk pemimpin upacara selalu pilih dari awak kapal yang bertugas sebagai  Sailor. Dan untuk team paskibra kita rekrut dari crew yang bekerja di restoran atau housekeeping.  Lima atau tiga hari sebelum hari 17 team paskibra berlatih satu jam di dek anjungan.


Sebab sudah menjadi kebiasaan upacara bendera di langsungkan di dek anjungan kapal. Kita juga membuat kaos untuk kepanitian dan sisanya kita jual untuk awak kapal yang ingin membeli. Satu kaos di hargai 30 dolar US.

Yang paling mengasyikan dan tidak kalah menarik ialah hanya di hari kemerdekaan sajalah tersaji makanan-makanan tradisonal Indonesia seperti lontong sayur, bakwan goreng, kentang balado dengan teri, tahu tempe di samping  menu makanan eropa dan amerika pun tetap di sediakan. Restoran khusus crew kapal di desain sedemikian mungkin dengan warna-warna merah putih, bak jamuan makan malam di istana negara. Dan itu terjadi di atas kapal pesiar. Sunguh-sungguh sangat menyenangkan tetapi juga mengharukan.

Bila hari 17 tiba biasanya ada pengumuman langsung dari kapten kapal agar seluruh awak kapal yang berkebangsaan Indonesia di wajibkan mengikuti upacara bendera tentu juga tidak semuanya karena ada juga beberapa dari mereka yang bekerja. Upacara di selenggarakan tepat jam tujuh pagi. Ada juga beberapa tamu kapal ( orang asing ) yang meliput upacara bendera tersebut. Tentu saja kebanyakan dari mereka orang-orang Belanda termasuk kapten dan jajaran staff-staffnya.

Setelah upacara bendera selesai biasanya di adakan perlombaaan sekitar pukul sepuluh siang sampai jam 3 atau jam 4 sore. Untuk perlombaan seperti balap karung,  tarik tambang dan bakiak biasanya kita adakan di luar atau di pelabuhan tempat kapal bersandar. Terakhir kemarin saya berada di kota Warnemunde, Jerman. Ada juga beberapa tamu kapal yang ikut serta dalam acara perlombaan. Sungguh-sungguh sangat menyenangkan dan tak kalah meriah dengan perlombaan di negeri sendiri.

Dan pada malam harinya di adakanlah pesta yang sangat meriah di atas kapal, ada band atau alat-alat musik yang mengiringi, siapa saja boleh tampil. Ada juga DJ ( music house ). Seluruh awak kapal boleh ikut serta baik Indonesia, Filipina, India, Amerika, Belanda, Inggris,Jerman, Australia semua  berkumpul dan merayakan hari kemerdekaan Indonesia.






August 12, 2013

Nyanyian Sumbang Burung Garuda.

Setelah kalian bakar dan merusak rumah tempat ibadah kami, kalian bantai juga keluarga kami.
Entah apa yang merasuki kalian hingga amarah dan kebrutalan bagai gerombolan serigala yang lapar.
Atas nama apa?
Dan bagaimana kalian mempertanggung jawabkan semua.
Apakah hal yang salah bila kami meyakini keimanan yang bukan kalian yakini.
Apakah itu mengganggu hidup kalian?
Ataukah juga mengganggu mata pencaharian kalian?
Apakah dengan melempari batu, membakar rumah ibadah, menyeret-nyeret,
dan memukul-mukul orang yang kalian anggap sesat di katakan benar dan menurut ajaran Tuhan?

Bukankah perbedaan adalah sesuatu hal untuk saling mengenal.
Dan bukannya saling menjegal.
Bukankah perbedaan adalah karunia dan bukannya malapetaka.
Dan ingatlah Tuhan tidak pernah menurunkan azabnya hanya karena berbeda keyakinan.
Kalau sebab itu, sudah dari dulu peradaban musnah.

Aku bimbang dan ragu atas semua ini.
Hidup di negeri Indonesia mengapa seperti ini.
Seperti sebuah siasat busuk namun aku tak mengerti.
Aku terenyuh, murung menatap langit yang diam,
sementara saudaraku terus di pasung di biarkan terlantar tanpa keadilan.

Di mana negara yang katanya berdaulat sedangkan hak paling dasar manusia tak bisa di rawat.
Di mana pemimpin yang bijaksana yang sanggup menyelesaikan penderitaan rakyatnya.
Di mana?
Kini kami meminta perlindungan.
Kami seperti terasing di tanah kelahiran kami sendiri.
Kami seperti tak punya tempat di negeri ini.
Padahal leluhur kami berjuang demi bumi pertiwi.
Tak mengenal siang dan malam dan tak memperdulikan perbedaan.
Demi kejayaan tanah Indonesia Raya.

Apa gunanya hidup tanpa keyakinan.
Apa artinya keyakinan bila harus di paksakan.
Bukankah daulat hidup manusia untuk berkeyakinan di berikan Tuhan tanpa paksaan.
Tetapi kalian kok berani-beraninya melebihi Tuhan.

Di mana negara yang katanya berdaulat dan mengedepankan hak asasi manusia.
Di mana pemimpin yang bijaksana yang katanya menjunjung bhineka tunggal ika.
Berbeda-beda tetapi satu juga.
Di mana?
Kini kami meminta perlindungan.
Kami seperti terasing di tanah kelahiran kami sendiri.
Kami seperti tak punya tempat di negeri ini.
Padahal leluhur kami berjuang demi bumi pertiwi.
Tak mengenal siang dan malam dan tak memperdulikan perbedaan.
Demi kejayaan tanah Indonesia Raya.