Setelah kalian bakar dan merusak
rumah tempat ibadah kami, kalian bantai juga keluarga kami.
Entah apa yang merasuki
kalian hingga amarah dan kebrutalan bagai gerombolan serigala yang lapar.
Atas nama apa?
Dan bagaimana kalian mempertanggung
jawabkan semua.
Apakah hal yang salah bila
kami meyakini keimanan yang bukan kalian yakini.
Apakah itu mengganggu hidup
kalian?
Ataukah juga mengganggu mata
pencaharian kalian?
Apakah dengan melempari batu,
membakar rumah ibadah, menyeret-nyeret,
dan memukul-mukul orang yang
kalian anggap sesat di katakan benar dan menurut ajaran Tuhan?
Bukankah perbedaan adalah
sesuatu hal untuk saling mengenal.
Dan bukannya saling menjegal.
Bukankah perbedaan adalah
karunia dan bukannya malapetaka.
Dan ingatlah Tuhan tidak
pernah menurunkan azabnya hanya karena berbeda keyakinan.
Kalau sebab itu, sudah dari
dulu peradaban musnah.
Aku bimbang dan ragu atas
semua ini.
Hidup di negeri Indonesia
mengapa seperti ini.
Seperti sebuah siasat busuk
namun aku tak mengerti.
Aku terenyuh, murung menatap
langit yang diam,
sementara saudaraku terus di
pasung di biarkan terlantar tanpa keadilan.
Di mana negara yang katanya
berdaulat sedangkan hak paling dasar manusia tak bisa di rawat.
Di mana pemimpin yang bijaksana
yang sanggup menyelesaikan penderitaan rakyatnya.
Di mana?
Kini kami meminta
perlindungan.
Kami seperti terasing di
tanah kelahiran kami sendiri.
Kami seperti tak punya tempat
di negeri ini.
Padahal leluhur kami berjuang
demi bumi pertiwi.
Tak mengenal siang dan malam
dan tak memperdulikan perbedaan.
Demi kejayaan tanah Indonesia
Raya.
Apa gunanya hidup tanpa
keyakinan.
Apa artinya keyakinan bila
harus di paksakan.
Bukankah daulat hidup manusia
untuk berkeyakinan di berikan Tuhan tanpa paksaan.
Tetapi kalian kok berani-beraninya
melebihi Tuhan.
Di mana negara yang katanya
berdaulat dan mengedepankan hak asasi manusia.
Di mana pemimpin yang
bijaksana yang katanya menjunjung bhineka tunggal ika.
Berbeda-beda tetapi satu
juga.
Di mana?
Kini kami meminta perlindungan.
Kami seperti terasing di
tanah kelahiran kami sendiri.
Kami seperti tak punya tempat
di negeri ini.
Padahal leluhur kami berjuang
demi bumi pertiwi.
Tak mengenal siang dan malam
dan tak memperdulikan perbedaan.
Demi kejayaan tanah Indonesia
Raya.
No comments:
Post a Comment