August 12, 2013

Nyanyian Sumbang Burung Garuda.

Setelah kalian bakar dan merusak rumah tempat ibadah kami, kalian bantai juga keluarga kami.
Entah apa yang merasuki kalian hingga amarah dan kebrutalan bagai gerombolan serigala yang lapar.
Atas nama apa?
Dan bagaimana kalian mempertanggung jawabkan semua.
Apakah hal yang salah bila kami meyakini keimanan yang bukan kalian yakini.
Apakah itu mengganggu hidup kalian?
Ataukah juga mengganggu mata pencaharian kalian?
Apakah dengan melempari batu, membakar rumah ibadah, menyeret-nyeret,
dan memukul-mukul orang yang kalian anggap sesat di katakan benar dan menurut ajaran Tuhan?

Bukankah perbedaan adalah sesuatu hal untuk saling mengenal.
Dan bukannya saling menjegal.
Bukankah perbedaan adalah karunia dan bukannya malapetaka.
Dan ingatlah Tuhan tidak pernah menurunkan azabnya hanya karena berbeda keyakinan.
Kalau sebab itu, sudah dari dulu peradaban musnah.

Aku bimbang dan ragu atas semua ini.
Hidup di negeri Indonesia mengapa seperti ini.
Seperti sebuah siasat busuk namun aku tak mengerti.
Aku terenyuh, murung menatap langit yang diam,
sementara saudaraku terus di pasung di biarkan terlantar tanpa keadilan.

Di mana negara yang katanya berdaulat sedangkan hak paling dasar manusia tak bisa di rawat.
Di mana pemimpin yang bijaksana yang sanggup menyelesaikan penderitaan rakyatnya.
Di mana?
Kini kami meminta perlindungan.
Kami seperti terasing di tanah kelahiran kami sendiri.
Kami seperti tak punya tempat di negeri ini.
Padahal leluhur kami berjuang demi bumi pertiwi.
Tak mengenal siang dan malam dan tak memperdulikan perbedaan.
Demi kejayaan tanah Indonesia Raya.

Apa gunanya hidup tanpa keyakinan.
Apa artinya keyakinan bila harus di paksakan.
Bukankah daulat hidup manusia untuk berkeyakinan di berikan Tuhan tanpa paksaan.
Tetapi kalian kok berani-beraninya melebihi Tuhan.

Di mana negara yang katanya berdaulat dan mengedepankan hak asasi manusia.
Di mana pemimpin yang bijaksana yang katanya menjunjung bhineka tunggal ika.
Berbeda-beda tetapi satu juga.
Di mana?
Kini kami meminta perlindungan.
Kami seperti terasing di tanah kelahiran kami sendiri.
Kami seperti tak punya tempat di negeri ini.
Padahal leluhur kami berjuang demi bumi pertiwi.
Tak mengenal siang dan malam dan tak memperdulikan perbedaan.
Demi kejayaan tanah Indonesia Raya.









No comments:

Post a Comment