November 09, 2017

Dear Carla

Jika ada waktu dan umur panjang aku ingin kembali mengunjungimu, mengunjungi perasaanmu, mengunjungi tatap matamu, mengunjungi keindahan wajahmu serta mengunjungi ketulusan hatimu yang teramat lugu. Sungguh kamu tak bisa terlupakan. Aku senang senang datang kepadamuAku senang datang kepadamu, seperti datang kepada kesadaran yang baru namun berlama-lama dekat denganmu, mencium harum rambutmu, mencium wangi aroma kulitmu membuatku semakin tak menentu, rasa-rasanya tak puas bila hanya mampu mengecup keningmu. Tetapi Carla, aku tak mampu.


Aku tahu kau tak memberi batas kepadaku bahkan kau biarkan aku leluasa mendekatimu, seperti merpati yang telah jinak, di usir terbang pun tak akan pergi jauh, malah semakin mendekat, kembali mendekat hingga dapat ku tangkap apa yang ada dalam pikiranmu. Katamu " lakukanlah "
Sementara aku tak tahu harus mulai dari mana, aku tak tahu cara mengisi kekosongan kata-kata, aku tak bisa memainkan nada, suaraku sumbang dan pada akhirnya aku tak paham arti dari kedipan mata, rasanya tanganku terasa berat untuk bisa memulai meraba dada mu yang mulai gatal karena rindu. Aku tahu Carla, sungguh aku tahu, tapi aku tak bisa.


Hmmm. Di ruang tamu tak ada mata, tak ada telinga, di tempat tinggalmu hanya ada satu pintu, itu pun telah rapat terkunci. Tak ada orang lain, kamu tinggal sendiri dan sangat menyukai sunyi. Terlebih sunyi di dalam gemericik gerimis. Sunyi di dalam gelap yang sepi. Dan suara kebisingan hanya ada di dalam hati.


Di rumahmu aku akan selalu bilang bahwasanya aku kagum cara kamu merawat rumahmu, aku kagum cara kamu menata dapur dan ruang kamarmu, sepasang pigura besar foto ayah ibumu, cukup serasi menempel di dinding di apit hiasan bunga-bunga kertas buatan tanganmu. Katamu kamu terbiasa sejak kecil dulu. Kamu sungguh luar biasa.


Ini bahkan kunjungan yang ketiga ke rumahmu, sejak aku bertemu dua bulan yang lalu denganmu di sebuah stasiun di kota Bandung, kala itu kamu sibuk mencari sesuatu yang terjatuh di ruang tunggu peron. Aku membantumu dan ternyata kita sama satu tujuan dengan kereta yang sama.


Lalu cair dan kita saling bertanya.


Ini apa, takdir atau hanya bualan belaka, atau Tuhan sedang bermain-main dengan hatiku agar lebih bisa menjaga sikap dan waspada. Tiba-tiba kamu seperti matahari, kamu seperti bintang, kamu seperti bulan, kamu seperti kunang-kunang, kamu seperti lampu temaram bagiku di tengah hati kesendirian yang remuk redam.
Namun seringkali aku tak bisa menduga hatimu, kejujuran, keluguanmu, membuat diriku tak sanggup menyakitimu.


Kamu memang asing bagiku, seperti sebuah piring terbang yang tiba-tiba muncul di hadapanku. Atau seperti suara klakson kereta yang berbunyi kencang hingga membuatku terperanjat jatuh. Atau memang kamu alien yang bisa berkata " Hai apa kabar?


Kamu bisa seperti apa saja bagiku dan tak dapat ku hentikan langkah pikiranku darimu, banyak hal dan aku tak perduli siapa kamu. Aku akan sibuk mengingatmu bila jauh. Tetapi masing-masing dari kita punya tujuan yang pada akhirnya membuat kita akan berpisah suatu waktu nanti. Kesalahanku adalah begitu cepat mencintaimu.


Secepat bayanganmu yang tiba-tiba muncul di hadapanku, secepat kamu membaca kalimat dengan huruf-huruf braille. Hingga akhirnya aku yang benar-benar buta dari pada dirimu. Aku yang sejatinya tak mampu melihat, dan aku ingin selalu dekat denganmu agar kamu bisa menuntun jalan hidupku.

pranowohandy

130717























October 13, 2017

Tuan, kenapa sekolahku di bakar.

Tuan, kenapa sekolahku di bakar
apakah pendidikan tak lagi kau pandang berguna
apakah tuan tidak pernah sekolah sebelumnya
apakah tuan.., 
apakah tuan…, 
kenapa tuan…,
beribu pertanyaan melesat menyambar jidat, entah alasan apa yang hendak
kau jabarkan kepada kami hingga sekolah-sekolah yang kami banggakan tempat kami belajar, tempat kami menimba pengalaman, tempat kami menjalin persahabatan, di bakar.
Lihatlah tuan kesedihan orang tua kami yang berjuang menyekolahkan kami hingga rela di cambuk di jalan.
Aku tak habis pikir, bahkan ku merenung semalaman membayangkan hal itu terjadi, kenapa mesti sekolah yang di bakar.
Kenapa..
Kenapa..
Kenapa tidak sekalian kau bakar merah putih, biar kami tahu bahwa kamu memang tak pantas menjadi bagian negeri ini.
Aku menangis, aku sedih…
Seperti itukah yang di lakukan tuan, begitu rendah 
begitu hina…

#puisiyangterpinggirkan
#perihalkata

Pulang

Ada ratusan pasang mata di dalam gerbong ini, saling menatap, saling bicara, bahkan ada tatap mata yang memandangku curiga namun tak sedikit pula yang meredup sekedar istirah dari penglihatan samar, susah di terka. 
Lelah, mungkin lelah. 
Tetapi apa pedulinya aku dengan semua tatapan mata itu yang ada dalam pikiranku sekarang adalah pulang, ya pulang. Semoga laju kereta ini cepat mengantarkan harapanku yang lama terpendam. 
Lima tahun sudah ku jalani hidup dalam jeruji pengap meninggalkan semua yang ku kasihi dalam penderitaan yang paling sunyi. Kini aku bebas dan ingin segera pulang, ingin segera hadir di antara mereka meski nyatanya harus senyap.
Ohh dewi malam, nampak samar di luar jendela, sedari tadi mengikuti perjalananku, duhai dewi malam apa kabarmu?. Duduk di sebelahku seorang nenek tua yang telah lelap tertidur semenjak kereta ini berangkat. 
Lelah mungkin lelah.
Tetapi tak berapa lama pandang mataku tertuju kepada seorang gadis kecil yang matanya mirip telur ikan, bening berkilau. Gadis kecil itu duduk satu baris di depanku. Aku ingat anakku, barangkali seusianya saat aku tinggalkan dia, ketika semua menangis karena aku di vonis hanya dia sajalah yang tetap tersenyum sambil memandangku tanpa curiga ia memeluk tubuhku.
Tahukah kau nak, betapa rindunya ayahmu, sepasang boneka saun the sheep kesukaanmu sengaja ku beli di pasar Senen tapi maaf ayah tak bisa membungkusnya dengan kado warna pink.
Laju kereta terus mengoyak gelombang malam, angin menderu terdengar dari luar, hasrat jiwaku tak tertahankan, pada rindu, akan hadirnya diriku di tengah-tengah keluarga tercinta. Maka ketika ku lihat ke luar jendela nampaklah wajah istriku melesat bagai bayang-bayang cahaya di pelataran stasiun.
Aku ingin pulang, aku rindu akan segala hal tentang, anakku, istriku, ibuku.
#puisiyangterpinggirkan

February 01, 2015

Imajinasi Kehidupan.

Menurutmu hidup itu berawal dari malam, ketika semua gelap gulita dan tak ada satupun rongga cahaya. 
Kemudian Tuhan melalui tangannya yang lembut membuat satu lingkaran besar di langit.
Lingkaran yang penuh energi ketajaman matanya hingga muncullah setitik cahaya.
Mulanya redup dan nampak jauh berselimut kabut.
Namun ketika mata itu mulai membuka perlahan-lahan, kabut-kabut itu di hisapnya.

Cahaya kian mengembang bagai kelopak teratai memenuhi jagat raya.
Mata itu terus bersinar dan tak pernah berkedip tetapi tiba-tiba Tuhan menangis sebab rasa sayangnya kepada alam semesta.
Tetes air matanya berjatuhan mengalir menjadi bulatan-bulatan bintang dan bersinar.
Awalnya puluhan lalu ratusan hingga ribuan dan jutaan, bintang-bintang itu berkelap-kelip.
Menggoda serangga malam, serangga itu pun datang menghisapnya lalu menjadi kunang-kunang.

Saat itu kamu tersadar dan bangun dari kegelapan, matamu yang tadinya buta kini menyaksikan cahaya-cahaya yang terus lahir berpendar seribu warna.
Kamu pun berusaha untuk menangkap cahaya itu untuk kau simpan di dalam rumahmu yang beku namun tanganmu terlalu rapuh, menggenggamnya pun kamu tak sanggup.
Tetapi kamu tetap bahagia, kamu pun bersorak ria, membangunkan seluruh keluargamu yang tertidur dalam gelap.

Selagi kamu bergembira dan membangunkan mereka yang terlelap.
Seonggok bulan datang mengetuk pintu rumah dan jendela kamarmu.
Warna bulan itu masih merah sebab baru saja lahir dari rahim bintang.
Kemudian bulan itu berkata kepadamu dengan tenang dan lembut.
Tidurlah kembali dan bangunlah ketika subuh, sambutlah sinar matahari yang lebih besar cahayanya dari padaku.

Berjalanlah ke tanah datar beserta keluargamu, tebar benih-benih kehidupan sirami dengan sabar dan teguh.
Cahaya yang nampak padamu kini, dari bintang, bulan dan matahari serta kunang-kunang yang bertebaran di malam hari.
Adalah pantulan mata Tuhan yang sangat berkah bagi kehidupan kini, esok dan hari nanti.
Setelah bulan usai berkata-kata, kamu pun tertidur kembali sambil menyelimuti seluruh keluargamu dengan hati berseri.
Maka selagi kamu bermimpi ingin melihat matahari, Tuhan pun berbisik kepada angin.
” Sungguh mereka pun nanti akan terkejut bila hujan selesai turun di ladang mereka dan bias matahari menyinari sisa tetes airnya “.

December 30, 2014

Tak Menjadi Bayang.

Kau tak ada di mataku saat aku butuh penglihatan dalam gelap kabut.
Kau pergi menjauh namun lupa kemana jejak langkahmu.
Kau tak hadir dalam hatiku saat aku butuh jawaban dalam sunyi yang kalut.
Kau sembunyi di tengah ilalang berduri hingga kulit halusmu tergores pedih.

Hasratku memberontak, jiwaku pucat merekah dalam karat.
Bibirku tertindas mengecup kenangan yang kian tenggelam ke dalam lidahmu.
Aku merintih, terkapar sendiri mencumbui denyut nadimu.
Yang sedari awal ku tahu kamu menyimpan lipatan yang sama karat.

Tapi kini kuarungi waktu sendiri.
Kau tak ada lagi, tak ada di mataku juga di hati.
Kamu seperti sisa hujan, mengalir dan menghilang.
Seperti genggaman tangan kita yang renggang di akhir musim.
Dan tak lagi mengenal sentuhan meski seujung jari.

Sebab kita adalah angin atau kabut atau pelangi dalam satu waktu hilang dan datang.
Tak pernah menjadi bayang, tak pernah menjadi kenangan.
Yang kekal hanyalah batas di mana kita pernah di temukan dalam satu ruang.
Dan itu cukup, cukup untuk mengenal setiap lekuk ujung rambut hingga kaki mu.

30122014