Ada ratusan pasang mata di dalam gerbong ini, saling menatap, saling bicara, bahkan ada tatap mata yang memandangku curiga namun tak sedikit pula yang meredup sekedar istirah dari penglihatan samar, susah di terka.
Lelah, mungkin lelah.
Tetapi apa pedulinya aku dengan semua tatapan mata itu yang ada dalam pikiranku sekarang adalah pulang, ya pulang. Semoga laju kereta ini cepat mengantarkan harapanku yang lama terpendam.
Lima tahun sudah ku jalani hidup dalam jeruji pengap meninggalkan semua yang ku kasihi dalam penderitaan yang paling sunyi. Kini aku bebas dan ingin segera pulang, ingin segera hadir di antara mereka meski nyatanya harus senyap.
Ohh dewi malam, nampak samar di luar jendela, sedari tadi mengikuti perjalananku, duhai dewi malam apa kabarmu?. Duduk di sebelahku seorang nenek tua yang telah lelap tertidur semenjak kereta ini berangkat.
Lelah mungkin lelah.
Tetapi tak berapa lama pandang mataku tertuju kepada seorang gadis kecil yang matanya mirip telur ikan, bening berkilau. Gadis kecil itu duduk satu baris di depanku. Aku ingat anakku, barangkali seusianya saat aku tinggalkan dia, ketika semua menangis karena aku di vonis hanya dia sajalah yang tetap tersenyum sambil memandangku tanpa curiga ia memeluk tubuhku.
Tahukah kau nak, betapa rindunya ayahmu, sepasang boneka saun the sheep kesukaanmu sengaja ku beli di pasar Senen tapi maaf ayah tak bisa membungkusnya dengan kado warna pink.
Laju kereta terus mengoyak gelombang malam, angin menderu terdengar dari luar, hasrat jiwaku tak tertahankan, pada rindu, akan hadirnya diriku di tengah-tengah keluarga tercinta. Maka ketika ku lihat ke luar jendela nampaklah wajah istriku melesat bagai bayang-bayang cahaya di pelataran stasiun.
Aku ingin pulang, aku rindu akan segala hal tentang, anakku, istriku, ibuku.
#puisiyangterpinggirkan
No comments:
Post a Comment