Menurutmu hidup itu berawal dari malam, ketika semua gelap gulita dan tak ada satupun rongga cahaya.
Kemudian Tuhan melalui tangannya yang lembut membuat satu lingkaran besar di langit.
Lingkaran yang penuh energi ketajaman matanya hingga muncullah setitik cahaya.
Mulanya redup dan nampak jauh berselimut kabut.
Namun ketika mata itu mulai membuka perlahan-lahan, kabut-kabut itu di hisapnya.
Lingkaran yang penuh energi ketajaman matanya hingga muncullah setitik cahaya.
Mulanya redup dan nampak jauh berselimut kabut.
Namun ketika mata itu mulai membuka perlahan-lahan, kabut-kabut itu di hisapnya.
Cahaya kian mengembang bagai kelopak teratai memenuhi jagat raya.
Mata itu terus bersinar dan tak pernah berkedip tetapi tiba-tiba Tuhan menangis sebab rasa sayangnya kepada alam semesta.
Tetes air matanya berjatuhan mengalir menjadi bulatan-bulatan bintang dan bersinar.
Awalnya puluhan lalu ratusan hingga ribuan dan jutaan, bintang-bintang itu berkelap-kelip.
Menggoda serangga malam, serangga itu pun datang menghisapnya lalu menjadi kunang-kunang.
Mata itu terus bersinar dan tak pernah berkedip tetapi tiba-tiba Tuhan menangis sebab rasa sayangnya kepada alam semesta.
Tetes air matanya berjatuhan mengalir menjadi bulatan-bulatan bintang dan bersinar.
Awalnya puluhan lalu ratusan hingga ribuan dan jutaan, bintang-bintang itu berkelap-kelip.
Menggoda serangga malam, serangga itu pun datang menghisapnya lalu menjadi kunang-kunang.
Saat itu kamu tersadar dan bangun dari kegelapan, matamu yang tadinya buta kini menyaksikan cahaya-cahaya yang terus lahir berpendar seribu warna.
Kamu pun berusaha untuk menangkap cahaya itu untuk kau simpan di dalam rumahmu yang beku namun tanganmu terlalu rapuh, menggenggamnya pun kamu tak sanggup.
Tetapi kamu tetap bahagia, kamu pun bersorak ria, membangunkan seluruh keluargamu yang tertidur dalam gelap.
Kamu pun berusaha untuk menangkap cahaya itu untuk kau simpan di dalam rumahmu yang beku namun tanganmu terlalu rapuh, menggenggamnya pun kamu tak sanggup.
Tetapi kamu tetap bahagia, kamu pun bersorak ria, membangunkan seluruh keluargamu yang tertidur dalam gelap.
Selagi kamu bergembira dan membangunkan mereka yang terlelap.
Seonggok bulan datang mengetuk pintu rumah dan jendela kamarmu.
Warna bulan itu masih merah sebab baru saja lahir dari rahim bintang.
Kemudian bulan itu berkata kepadamu dengan tenang dan lembut.
Tidurlah kembali dan bangunlah ketika subuh, sambutlah sinar matahari yang lebih besar cahayanya dari padaku.
Seonggok bulan datang mengetuk pintu rumah dan jendela kamarmu.
Warna bulan itu masih merah sebab baru saja lahir dari rahim bintang.
Kemudian bulan itu berkata kepadamu dengan tenang dan lembut.
Tidurlah kembali dan bangunlah ketika subuh, sambutlah sinar matahari yang lebih besar cahayanya dari padaku.
Berjalanlah ke tanah datar beserta keluargamu, tebar benih-benih kehidupan sirami dengan sabar dan teguh.
Cahaya yang nampak padamu kini, dari bintang, bulan dan matahari serta kunang-kunang yang bertebaran di malam hari.
Adalah pantulan mata Tuhan yang sangat berkah bagi kehidupan kini, esok dan hari nanti.
Cahaya yang nampak padamu kini, dari bintang, bulan dan matahari serta kunang-kunang yang bertebaran di malam hari.
Adalah pantulan mata Tuhan yang sangat berkah bagi kehidupan kini, esok dan hari nanti.
Setelah bulan usai berkata-kata, kamu pun tertidur kembali sambil menyelimuti seluruh keluargamu dengan hati berseri.
Maka selagi kamu bermimpi ingin melihat matahari, Tuhan pun berbisik kepada angin.
” Sungguh mereka pun nanti akan terkejut bila hujan selesai turun di ladang mereka dan bias matahari menyinari sisa tetes airnya “.
” Sungguh mereka pun nanti akan terkejut bila hujan selesai turun di ladang mereka dan bias matahari menyinari sisa tetes airnya “.
No comments:
Post a Comment