February 28, 2014

Adrian.

Adrian, begitulah orang-orang memanggilmu.
Gadis cantik penuh misteri yang banyak di suka dan banyak di hina.
Kamu tidak tahu di mana bapakmu sampai kamu menginjak remaja.
Kabar burung bersiul di sudut-sudut gang kalau dulu ibumu primadona
malam yang terbiasa menghisap ganja sebelum bekerja.

Adrian, kini ibumu ringkih sebab paru-paru basah dan di rahimnya tumbuh bencana.
Sudah berkali-kali berobat tapi tak kunjung baik malah semakin sekarat.
Ketua rt menyuruh ibumu meminta bantuan ke kelurahan namun di tolak.
Sebab seorang pelacur seperti ibumu memang mesti di laknat,
kata seorang pegawai lurah yang diam-diam juga suka nilep uang rakyat.

Menangislah Adrian di muka rumah.
Jendela pintu yang rusak di hias oleh kaca yang retak.
Seragam sekolahmu terpaksa kamu jual buat makan.
Sejak ibumu sering sakit-sakitan tergeletak.

Orang-orang datang menjenguk sebagian duduk di luar sambil mulutnya bersungut-sungut.
Mereka datang bukan karena ibumu melainkan prihatin karena kamu anak perempuan satu-satunya.
Kamu tidak punya keluarga lagi selain ibumu dan seorang perempun tua yang kamu anggap nenekmu yang bekerja jadi pemungut sampah.

Adrian, cukuplah ibumu yang getir menawar hidup di jalan yang berduri.
Di antara remang-remang jalan yang di setubuhi malam.
Tapi mesti kamu tahu perlawanan ibumu terhadap hidup.
Di belantara kota yang isinya tak masuk akal.
Di negeri yang hingar bingar akan kebusukan.

Kalian termasuk manusia purba yang tak punah dari penggusuran-penggusuran peradaban.
Kalian berhak hidup berkelayakkan seperti para anggota-anggota dewan.
Kalian berhak menghirup udara kemerdekaan tanpa harus di golongkan menjadi sampah.
Kalian mesti lepas dari kunkungan dan penderitaan

Adrian, kamu di beri makan ibumu sampai remaja dan ibumu hanya diam tak ingin anak gadisnya sengsara.
Waktu umur delapan tahun kamu bilang ingin menjadi artis dan terkenal.
Orang-orang bilang itu hayalan yang memuakkan.
Tapi aku bilang itu sebuah peruntungan.

Toh tidak susah-susah juga jadi artis.
Yang penting punya niat dan keberanian.
Modal pantat di goyang dengan baju minim dan dada sedikit terbuka kamu pasti di suka.
Wajahmu cantik, kulitmu mulus, putih dan lembut.
Tenang saja meski suara suaramu serak dikit.
Toh di atas panggung semua bisa lipsinc.

Kamu tidak ingin jadi wakil rakyat.
Sebab wakil rakyat harus mengerti tentang rakyat.
Dan kamu tidak paham soal itu.
Sebab di negara ini rakyat-rakyat di bagi-bagi pada derajat tertentu.

Yang kamu tahu hanya bergoyang dan bernyanyi.
Seperti hobi kamu waktu kecil.
Dan ibumu banyak membelikan koleksi vcd-vcd bajakan penyanyi lokal dan go internasional.
Ibumu juga sering berkaroke di rumah selain di luar.

Adrian, kini lepaslah semua tangismu.
Bagi perempuan seperti mu hidup memang teramat berat dan panjang.
Namun hakikat hidup sebenarnya perjuangan.
Mendaur ulang tenaga dan pikiran menjadi satu kekuatan untuk bertahan adalah cara yang wajar.
Maka relakanlah sang primadona yang terkenal pergi keharibaan.
Untuk sementara waktu mungkin kamu tidak begitu paham.
Namun mengertilah bahwa semuanya itu hanyalah ujian.

Dedicated to Adrian Adriani.

Selamat tinggal.

Pada bayangmu yang kesepian aku memberanikan diri untuk melangkahkan kaki.
Ku kemas semua rindu pada angin yang berlalu, berharap pergi jauh dan tak akan kembali.
Bukankah itu semua yang kita inginkan, sementara biarlah waktu mencerna akal dan pikiran.
Ternyata, masih banyak ruang yang belum sempat di kunjungi untuk sebuah kehidupan yang sederhana.

Puisi ini hanya beberapa baris sebab kisahku dan kisahmu telah di tulis di atas langit.
Sebuah misteri yang tak mungkin terpecahkan meski kita coba memaksa diri.
Maka merendalah dan menangis pada wujud yang mempertemukan kita di bumi.
Pertemuan dan perpisahan hanyalah bagian kehidupan yang sama sekali tidak berarti.

Senja akan hilang dan fajar akan datang.
Begitulah rotasi hidup yang sederhana namun penuh makna.
Aku yakin dan penuh kesadaran engkau mau mengerti.
Dan biarlah sesuatu yang datang kau ikhlaskan untuk pergi.

Selamat tinggal kasih, selamat menabur sejuta mimpi-mimpi.
Yang pernah kita lukis di atas pelangi yang singgah di belantara hati.







February 25, 2014

Resahku, Tuhan.

Tengok aku Tuhan ke dalam.
Hatiku hangus dan berbau busuk.
Tak tahu lagi aku kiblatMu.
Semua terasa semu.

Satu persatu waktu berlalu.
Angin bertiup dari arah tak tentu.
Menyeret kegamanganku di bumi yang semakin penuh.
Oleh orang-orang yang bersujud menipuMu.

Hamba gundah, hamba terpasung dunia semata.
Hamba khilaf, hamba di perbudak nafsu lencana.
Maka tunjukanlah hamba pada kiblatMu yang hakiki.
Bukan kiblat orang-orang yang di penuhi nafsu dan dengki.

Aku merendah kepadaMu, menyalakan api kecintaan.
Bukan karena harta dan tahta melainkan aku rindu dan cinta kepadaMu semata.

February 22, 2014

Bila kau ada waktu

bila kau ada waktu singgahlah sesekali
nikmati angin dan secangkir teh hangat
serta rokok kecil lintinganku
sebentar saja
sebentar kita duduk dan bicara tentang waktu
yang terus menjalar menempuh akhir hidup
bagai kapal yang berlayar di tengah lautan
gelombang dan bencana silih berganti datang
Duduklah bersamaku temani aku dalam kekosongan, barangkali ada juga hal yang ingin kau bicarakan

aku hanya ingin gairah pemberontakan di hati
tak akan pernah padam
meski telah lewat masa-masa lalu
masa-masa yang nakal dan mengejutkan
masa-masa memperkosa dan membunuh
segala impian di hati kita yang lusuh 

Membuat bayi

Setelah ku buahi kamu.
Aku lelap dan kau di sampingku mendengkur.
Sambil kita berpelukan ku resapi detak jantungmu.
Merayaplah cinta ke pucuk-pucuk rahim.
Telanjang bulat tanpa sepatu.

Wahai langit dengan gemerlap cahaya.
Hidup dan kehidupan adalah milikmu.
Biarkanlah mereka tumbuh.
Seperti apa yang pernah kau buat pada diriku.
Lalu berbaringlah sepi di atas ranjang.
Menanti kehidupan yang tak abadi.

handypranowo

Puisi Jiwa

Diriku kesepian di dalam warna-warni kehidupan.
Meremas segala harap yang datang berhamburan.
Menusuk raga yang kian hilang akal.
Aku raib dan tak sadar hidupku tak kekal.

Isi dunia penuh dengan trik-trik pengkhianatan.
Orang-orang berlomba saling menjegal.
Atas satu kepuasan, atas satu kekuasaan.
Sedang Tuhan tersingkap dari tabir yang seharusnya ada menjadi tiada.
Dan kita terus menganiaya diri sambil congkak membusung dada.

Oh bunga doa yang lembut harum sentosa.
Sampai kapan kupanjatkan agar luka tidak selamanya menganga.
Oh daya akal dan naluri kesadaran yang peka terhadap jiwa.
Di mana seharusnya kuturuti segala kehendak dan kemauan.
Sedang hidupku terus di tikam dan di buru nafsu belaka.
Oleh rupa segala lika-liku dunia.
Mengabaikan isyarat langit yang turun dari Maha Ada.
Dan membiarkan diri dalam kesesatan hingga tak sadar kematian menghadang.

February 19, 2014

Dawai Doa.

Kembali aku terjaga di malam ini.
Malam yang berkabut dengan debu-debu.
Pintu dan jendela sudah tertutup.
Keheningan dan doa merayapi gelisah.

Oh Tuhan, engkau yang berdaulat atas segala.
Ampuni hamba yang telah merusak diri.
Dan yang telah merusak tatanan hidup alam semesta.
Dawai doa dan dzikir ku agungkan bagiMu.
Yang menggenggam erat nyawa dan nafasku.

PadaMulah segala apa-apa berpulang.
PadaMulah seharusnya kerinduan bersandar.
Semua sujud, semua sujud.
Dan Kaulah yang Maha besar yang patut di sembah.

Allahu Akbar.

February 18, 2014

Rindu yang liar.

Aku datang kepadamu membawa belantara rindu yang liar.
Yang sebelumnya tak pernah di bawa oleh lelaki manapun yang kau kenal.
Pemandangan asing dengan jalan-jalan pelangi yang sepi menyeret hatimu untuk memasukinya.
Maka ku ulurkan tanganku.
Dan kau lembut menggenggam.

Kasih, pada jiwa rindu yang terhimpun adalah jejak hatimu yang merimbun.
Menjadi bunga-bunga belukar tempat berbaringnya kupu-kupu.
Tak terawat memang tapi ku ingin kau tahu.
Begitulah cinta dan rindu datang sebagai pewarna hidup yang tak terkirakan.

Maka reguklah madunya bila bunga itu bermekaran.
Sebab akan menjadi daya tahan dalam kau mengarungi kehidupan.
Tak usah kau tangisi dan tak usah kau menyesal.
Kiranya nanti semua itu akan menghilang.

pranowohandy

Kesejatian.

Setelah mengulum waktu di kala sunyi ia kembali melangkahkan kaki.
Membelah langit mencari gumpalan mendung tempat membasuh semua luka diri.
Ia enggan bertemu matahari, ia enggan bertemu bulan
yang ia inginkan hanyalah angin yang akan membawanya terbang.
Lalu duduklah ia di pucuk-pucuk lembah yang gersang di mana angin sering datang berwujud gelombang.

Hanyutlah segala sunyi dalam rasa hati.
Burung-burung berterbangan sambil menggapai tangan-tangan bumi yang telanjang.
Mata Tuhan tak berkedip namun memberi arti pada sebuah jalan yang panjang.
Bagi ia dalam sendiri pengembaraan, lelaki buta yang berharap pada sinar cahaya.
Lalu berbisiklah ia pada telinga langit dan berkata

"Aku milikmu Tuhan, aku ciptaanmu yang purba yang kau panjangkan umurnya dan tak pernah punah.
Yang kamu percaya untuk mengolah bumi yang kau ciptakan dalam bentuk yang sempurna.
Maka beri aku jalan seterang jalan kekasihmu yang setia."

Bergetarlah bumi bulu kuduknya berdiri.
Angin datang kencang membelah lembah sunyi.
Dengan segala hati yang pasrah.
Lelaki diam tetap merendah pada alam kehidupan.





Hai Erwiana.

Hai Erwiana salah apa yang kau perbuat hingga perih dan lebam di sekujur tubuh.
Dosa apa yang kau kandung hingga takdir dan jalan hidup begitu murung.
Bukankah kamu pergi untuk bekerja ke negeri sana, sebab di tanah kelahiranmu tak memberi apa-apa.
Dan orang tua merestuimu agar kau senantiasa menjadi anak yang berguna.

Oh Erwiana saudaraku setanah air, tanah tumpah darah orang-orang yang tak berdaya.
Yang mencoba mensiasati hidup agar bisa berkehidupan layak namun terkoyak.
Engkau mengerang, engkau mengeluh namun jeritanmu bagai halilintar yang bisu.
Di ranjang kamu terkapar penuh luka, dan gigi yang patah sementara Indonesia Raya tertunduk malu, sedih dan pilu.
Seperti di injak-injak kehormatannya, jelas tidak hanya kamu Erwiana.

Tapi kamu tidak sendiri jauh sebelum kamu pun ada.
Ya saudara-saudara kita yang tersayat dan cacat.
Perempuan-perempuan yang mengadu nasib dan kalah pulang tergeletak.
Menjadi buah bibir dan politisasi pejabat murahan.
Kalau mereka perduli TKI kenapa tidak bangun lahan kerja di negara sendiri.
Kenapa segalanya harus orang asing yang menguasai.

Aku tidak tahu bahkan kamu Erwiana.
Di dalam sejarah, orang-orang seperti kita tidak pernah di ingat.
Bahkan sekalipun julukan kita pahlawan devisa bagi mereka bukan apa-apa.
Kita tidak pernah bernilai positif tapi itu tidak penting yang terpenting adalah keluarga bukan nusa dan bangsa.
Sebab nusa dan bangsa lebih banyak di kelola oleh orang-orang yang sukanya bermuka dua.

Kalau begitu istirahatlah Erwiana sebentar pun akan pulih luka lebammu.
Dan segeralah olah jiwamu, andalkan segala kekuatan yang tersisa.
Untuk bangkit dari kesedihan.

handypranowo

February 10, 2014

Waktu Pulang

ketika malam di pagari gerimis wajah langit terlihat redup
angin datang menempuh perjalanan yang jauh
membawa kabut ke dalam jiwa yang penat
perlahan ia tumbuh mekar bagai semak belukar
aku di hampiri kecemasan

lalu keheningan merayap memojokkan lampu-lampu jalan
di tengah-tengah kota yang semakin padat dengan sejuta keluh kesah
gedung-gedung tinggi diam membisu dan menggigil
namun tetap terlihat angkuh sebab mereka tidak memberi nafas pada gubuk-gubuk kota
bias lampunya menyilaukan mata dunia
di sebuah halte aku melihat seorang lelaki kecil terpojok
menyandarkan tubuhnya di antara karung yang berisi rongsokkan
aku terkesima, pandangan matanya memaksa aku untuk berhenti sejenak
seketika aroma kepedihan tercium dari tubuhnya yang lusuh
tak ada kata-kata tak ada tegur sapa
aku menyisihkan lembaran ribuan di genggaman tangannya

kembali aku menyusuri pinggiran jalan yang berlubang
menatap wajah kotaku yang berubah pesat dengan paru-paru yang sesak
orang-orang di sini diperdaya oleh kebutuhan yang mendesak
bahkan kebutuhan yang tidak penting dan sekedar hura-hura belaka
saling menjegal dan menikam menjadi hal yang biasa

gerimis terus turun menggenangi hatiku yang luka
meski aku mencoba berontak namun sia-sia
aku telah menjadi bagian orang-orang di sini





February 08, 2014

Di negeri ngeri-ngeri sedap

Di negeri ngeri-ngeri sedap ketamakan adalah sembahan yang di pertuan agung.
Kekuasaan menjadi liar semena-mena,
saling tipu, saling bertengkar adalah hal biasa.
Dan hukum adalah klentit pelacur yang mudah di jilat dan di perjual belikan.
Kursi-kursi kedudukan bagai jimat saling di perebutkan tanpa tahu makna dan tujuannya.
Tanpa malu-malu pula mereka berkata ini demi bangsa dan negara.

Ah omong kosong berjejal menjadi pembodohan massal.
Dengan uang suap yang di bagi-bagikan dari hasil merampok rakyat.
Sementara orang-orang miskin menggelapar di jalan tanpa rumah sakit tanpa pengobatan.
Sedang pendidikan adalah atap-atap yang rusak tanpa perbaikan.
Tanpa guru dan pendidik yang paham dengan kebudayaan.

Peta negara compang-camping terpecah belah.
Semua saling berperang dan menikam tak perduli satu saudara.
Tak perduli lahir dari rahim yang sama Indonesia Raya.
Sebab kata mereka bersatu adalah revolusi tua yang tak lagi ampuh.
Dan mereka senang saling berkhianat.

Oh, aku lihat di tv banyak bencana, banjir, tanah longsor, gempa, gunung api.
Negeri ini butuh bantuan nyata bukan simpati dan kampanye caleg.
Aku lihat orang-orang desa berpindah tempat menjual tanah menuju kota.
Menjadi makhluk asing membajak aspal dengan keluguan dan kebodohan.

Pada siapa aku berpegangan tangan orang-orang saling melupakan.
Jurang kesenjangan makin dalam menjadi lembah-lembah dengan beragam rintangan.
Tidak ada lagi penggunaan pikiran yang sehat semua saling curiga dan sama-sama jahat.

Tetapi aku yakin suatu saat nanti negeri ini pasti jaya.
Orang-orang akan saling bertegur sapa dan saling bercerita tentang tanah yang subur dan laut yang makmur.
Tetapi aku yakin suatu saat nanti akan ada pemimpin yang baik dan terhormat di mata rakyat.
Pemimpin yang tidak lagi mengeluh dan curhat tetapi pemimpin yang tangguh dan kuat yang akan membawa rakyatnya ke gerbang kehidupan yang layak.
Kekuasaan tidak akan lagi semena-mena.
Dan hukum akan di tegakkan seadil-adilnya.
Dan rakyat seutuhnya mempunyai kedaulatan untuk hidup berkejahteraan.

February 05, 2014

Untuk Para Pemimpin Negeri Ini

Akan kamu bawa kami kemana bila ruang diskusi menjadi komedi dan perdebatan hanya melulu tentang kekuasaan. 
Lihatlah nafas-nafas kami berbenturan dengan birokrasi dan kekuasaan yang sembarang.
Kami terlentang di pinggiran aspal yang penuh lubang
Kepanasan, kedinginan tersapu angin berserakan di pintu gerbang dewan

Kalian sebut kami pemberontak dan pengacau keamanan
Kami di gebuki sampai tidak ada pembelaan
Tapi bila kalian merampok uang rakyat kalian cuma bisa mengelak dan menyewa pengacara dengan bayaran yang mahal 
Sambil tetap asyik tersenyum dan sepertinya tenang saja
Sebab penjara adalah apartemen kecil yang indah
Bagi kalian menghabiskan masa tua

Cobalah untuk kalian berfikir apa arti kalian memimpin
Cobalah untuk renungkan negara ini bukan sejengkal tanah yang dengan mudah di gadaikan
Tidakkah kalian di ajarkan oleh guru dan orang tua kalian kalau mencuri itu perbuatan dosa dan hina
Tidakkah kalian melihat bagaimana orang-orang di sekeliling kalian jumpalitan mengerang bertahan dalam kehidupan

Kami tidak akan banyak menuntut bila kalian benar dalam mengemban amanat
Kami mungkin akan bahu-membahu bila kalian jujur dan tulus dalam tugas
Sebab kami juga bagian dari negeri ini, negeri yang pernah di wariskan oleh nenek moyang kami
Negeri gemah ripah loh jinawi

Biarkanlah kami hidup dan berkehidupan yang layak
Jangan hanya kalian saja yang menikmati kekayaan bumi ini
Kalian tanpa kami bukan apa-apa 
Kami tanpa kalian juga pasti tak punya tujuan
Maka dengan ini kami bicara dan suara kami tolong kalian dengar
Jangan pernah kecewakan kami dan negeri ini.