Adrian, begitulah orang-orang memanggilmu.
Gadis cantik penuh misteri yang banyak di suka dan banyak di hina.
Kamu tidak tahu di mana bapakmu sampai kamu menginjak remaja.
Kabar burung bersiul di sudut-sudut gang kalau dulu ibumu primadona
malam yang terbiasa menghisap ganja sebelum bekerja.
Adrian, kini ibumu ringkih sebab paru-paru basah dan di rahimnya tumbuh bencana.
Sudah berkali-kali berobat tapi tak kunjung baik malah semakin sekarat.
Ketua rt menyuruh ibumu meminta bantuan ke kelurahan namun di tolak.
Sebab seorang pelacur seperti ibumu memang mesti di laknat,
kata seorang pegawai lurah yang diam-diam juga suka nilep uang rakyat.
Menangislah Adrian di muka rumah.
Jendela pintu yang rusak di hias oleh kaca yang retak.
Seragam sekolahmu terpaksa kamu jual buat makan.
Sejak ibumu sering sakit-sakitan tergeletak.
Orang-orang datang menjenguk sebagian duduk di luar sambil mulutnya bersungut-sungut.
Mereka datang bukan karena ibumu melainkan prihatin karena kamu anak perempuan satu-satunya.
Kamu tidak punya keluarga lagi selain ibumu dan seorang perempun tua yang kamu anggap nenekmu yang bekerja jadi pemungut sampah.
Adrian, cukuplah ibumu yang getir menawar hidup di jalan yang berduri.
Di antara remang-remang jalan yang di setubuhi malam.
Tapi mesti kamu tahu perlawanan ibumu terhadap hidup.
Di belantara kota yang isinya tak masuk akal.
Di negeri yang hingar bingar akan kebusukan.
Kalian termasuk manusia purba yang tak punah dari penggusuran-penggusuran peradaban.
Kalian berhak hidup berkelayakkan seperti para anggota-anggota dewan.
Kalian berhak menghirup udara kemerdekaan tanpa harus di golongkan menjadi sampah.
Kalian mesti lepas dari kunkungan dan penderitaan
Adrian, kamu di beri makan ibumu sampai remaja dan ibumu hanya diam tak ingin anak gadisnya sengsara.
Waktu umur delapan tahun kamu bilang ingin menjadi artis dan terkenal.
Orang-orang bilang itu hayalan yang memuakkan.
Tapi aku bilang itu sebuah peruntungan.
Toh tidak susah-susah juga jadi artis.
Yang penting punya niat dan keberanian.
Modal pantat di goyang dengan baju minim dan dada sedikit terbuka kamu pasti di suka.
Wajahmu cantik, kulitmu mulus, putih dan lembut.
Tenang saja meski suara suaramu serak dikit.
Toh di atas panggung semua bisa lipsinc.
Kamu tidak ingin jadi wakil rakyat.
Sebab wakil rakyat harus mengerti tentang rakyat.
Dan kamu tidak paham soal itu.
Sebab di negara ini rakyat-rakyat di bagi-bagi pada derajat tertentu.
Yang kamu tahu hanya bergoyang dan bernyanyi.
Seperti hobi kamu waktu kecil.
Dan ibumu banyak membelikan koleksi vcd-vcd bajakan penyanyi lokal dan go internasional.
Ibumu juga sering berkaroke di rumah selain di luar.
Adrian, kini lepaslah semua tangismu.
Bagi perempuan seperti mu hidup memang teramat berat dan panjang.
Namun hakikat hidup sebenarnya perjuangan.
Mendaur ulang tenaga dan pikiran menjadi satu kekuatan untuk bertahan adalah cara yang wajar.
Maka relakanlah sang primadona yang terkenal pergi keharibaan.
Untuk sementara waktu mungkin kamu tidak begitu paham.
Namun mengertilah bahwa semuanya itu hanyalah ujian.
Dedicated to Adrian Adriani.
Gadis cantik penuh misteri yang banyak di suka dan banyak di hina.
Kamu tidak tahu di mana bapakmu sampai kamu menginjak remaja.
Kabar burung bersiul di sudut-sudut gang kalau dulu ibumu primadona
malam yang terbiasa menghisap ganja sebelum bekerja.
Adrian, kini ibumu ringkih sebab paru-paru basah dan di rahimnya tumbuh bencana.
Sudah berkali-kali berobat tapi tak kunjung baik malah semakin sekarat.
Ketua rt menyuruh ibumu meminta bantuan ke kelurahan namun di tolak.
Sebab seorang pelacur seperti ibumu memang mesti di laknat,
kata seorang pegawai lurah yang diam-diam juga suka nilep uang rakyat.
Menangislah Adrian di muka rumah.
Jendela pintu yang rusak di hias oleh kaca yang retak.
Seragam sekolahmu terpaksa kamu jual buat makan.
Sejak ibumu sering sakit-sakitan tergeletak.
Orang-orang datang menjenguk sebagian duduk di luar sambil mulutnya bersungut-sungut.
Mereka datang bukan karena ibumu melainkan prihatin karena kamu anak perempuan satu-satunya.
Kamu tidak punya keluarga lagi selain ibumu dan seorang perempun tua yang kamu anggap nenekmu yang bekerja jadi pemungut sampah.
Adrian, cukuplah ibumu yang getir menawar hidup di jalan yang berduri.
Di antara remang-remang jalan yang di setubuhi malam.
Tapi mesti kamu tahu perlawanan ibumu terhadap hidup.
Di belantara kota yang isinya tak masuk akal.
Di negeri yang hingar bingar akan kebusukan.
Kalian termasuk manusia purba yang tak punah dari penggusuran-penggusuran peradaban.
Kalian berhak hidup berkelayakkan seperti para anggota-anggota dewan.
Kalian berhak menghirup udara kemerdekaan tanpa harus di golongkan menjadi sampah.
Kalian mesti lepas dari kunkungan dan penderitaan
Adrian, kamu di beri makan ibumu sampai remaja dan ibumu hanya diam tak ingin anak gadisnya sengsara.
Waktu umur delapan tahun kamu bilang ingin menjadi artis dan terkenal.
Orang-orang bilang itu hayalan yang memuakkan.
Tapi aku bilang itu sebuah peruntungan.
Toh tidak susah-susah juga jadi artis.
Yang penting punya niat dan keberanian.
Modal pantat di goyang dengan baju minim dan dada sedikit terbuka kamu pasti di suka.
Wajahmu cantik, kulitmu mulus, putih dan lembut.
Tenang saja meski suara suaramu serak dikit.
Toh di atas panggung semua bisa lipsinc.
Kamu tidak ingin jadi wakil rakyat.
Sebab wakil rakyat harus mengerti tentang rakyat.
Dan kamu tidak paham soal itu.
Sebab di negara ini rakyat-rakyat di bagi-bagi pada derajat tertentu.
Yang kamu tahu hanya bergoyang dan bernyanyi.
Seperti hobi kamu waktu kecil.
Dan ibumu banyak membelikan koleksi vcd-vcd bajakan penyanyi lokal dan go internasional.
Ibumu juga sering berkaroke di rumah selain di luar.
Adrian, kini lepaslah semua tangismu.
Bagi perempuan seperti mu hidup memang teramat berat dan panjang.
Namun hakikat hidup sebenarnya perjuangan.
Mendaur ulang tenaga dan pikiran menjadi satu kekuatan untuk bertahan adalah cara yang wajar.
Maka relakanlah sang primadona yang terkenal pergi keharibaan.
Untuk sementara waktu mungkin kamu tidak begitu paham.
Namun mengertilah bahwa semuanya itu hanyalah ujian.
Dedicated to Adrian Adriani.