ketika malam di pagari gerimis wajah langit terlihat redup
angin datang menempuh perjalanan yang jauh
membawa kabut ke dalam jiwa yang penat
perlahan ia tumbuh mekar bagai semak belukar
angin datang menempuh perjalanan yang jauh
membawa kabut ke dalam jiwa yang penat
perlahan ia tumbuh mekar bagai semak belukar
aku di hampiri kecemasan
lalu keheningan merayap memojokkan lampu-lampu jalan
lalu keheningan merayap memojokkan lampu-lampu jalan
di tengah-tengah kota yang semakin padat dengan sejuta keluh kesah
gedung-gedung tinggi diam membisu dan menggigil
gedung-gedung tinggi diam membisu dan menggigil
namun tetap terlihat angkuh sebab mereka tidak memberi nafas pada gubuk-gubuk kota
bias lampunya menyilaukan mata dunia
di sebuah halte aku melihat seorang lelaki kecil terpojok
menyandarkan tubuhnya di antara karung yang berisi rongsokkan
aku terkesima, pandangan matanya memaksa aku untuk berhenti sejenak
seketika aroma kepedihan tercium dari tubuhnya yang lusuh
tak ada kata-kata tak ada tegur sapa
aku menyisihkan lembaran ribuan di genggaman tangannya
kembali aku menyusuri pinggiran jalan yang berlubang
menatap wajah kotaku yang berubah pesat dengan paru-paru yang sesak
orang-orang di sini diperdaya oleh kebutuhan yang mendesak
bahkan kebutuhan yang tidak penting dan sekedar hura-hura belaka
saling menjegal dan menikam menjadi hal yang biasa
gerimis terus turun menggenangi hatiku yang luka
meski aku mencoba berontak namun sia-sia
aku telah menjadi bagian orang-orang di sini
menyandarkan tubuhnya di antara karung yang berisi rongsokkan
aku terkesima, pandangan matanya memaksa aku untuk berhenti sejenak
seketika aroma kepedihan tercium dari tubuhnya yang lusuh
tak ada kata-kata tak ada tegur sapa
aku menyisihkan lembaran ribuan di genggaman tangannya
kembali aku menyusuri pinggiran jalan yang berlubang
menatap wajah kotaku yang berubah pesat dengan paru-paru yang sesak
orang-orang di sini diperdaya oleh kebutuhan yang mendesak
bahkan kebutuhan yang tidak penting dan sekedar hura-hura belaka
saling menjegal dan menikam menjadi hal yang biasa
gerimis terus turun menggenangi hatiku yang luka
meski aku mencoba berontak namun sia-sia
aku telah menjadi bagian orang-orang di sini
No comments:
Post a Comment