Dapat ku cium aroma nafasmu seperti ranting-ranting yang pernah terbakar.
Menguap menjelaskan segala bencana yang singgah di belantara bukit terjal.
Burung-burung melompat di antara dedaunan sambil bernyanyi tentang gelisah alam.
Hingga gerombolan kabut datang merusak jarak pandang antara aku dan kamu.
Di sini di Kaliurang.
Menjejak gelisah kaki kita memadati ruang terbuka dengan lumutan basah, tanah merah.
Di sini di Kaliurang.
Tuhan kabarkan tentang mendung dan asap di puncak jauh Merapi.
Di sini di Kaliurang.
Berbungalah kabut-kabut meneteskan sepi.
Mengalir dan terus mengalir ke dalam hati.
Di sini di Kaliurang.
Antara hidup dan mati.
Di sini di Kaliurang
Akankah terjaga selalu hidup bila saja luput
Menguap menjelaskan segala bencana yang singgah di belantara bukit terjal.
Burung-burung melompat di antara dedaunan sambil bernyanyi tentang gelisah alam.
Hingga gerombolan kabut datang merusak jarak pandang antara aku dan kamu.
Di sini di Kaliurang.
Menjejak gelisah kaki kita memadati ruang terbuka dengan lumutan basah, tanah merah.
Di sini di Kaliurang.
Tuhan kabarkan tentang mendung dan asap di puncak jauh Merapi.
Di sini di Kaliurang.
Berbungalah kabut-kabut meneteskan sepi.
Mengalir dan terus mengalir ke dalam hati.
Di sini di Kaliurang.
Antara hidup dan mati.
Di sini di Kaliurang
Akankah terjaga selalu hidup bila saja luput
No comments:
Post a Comment