May 14, 2014

Nonfiksi II

Kita putuskan untuk berpisah di hari ini.
Segala sesuatu yang mengenai kamu atau aku harap maklum adanya.
Tak ada sesuatu pun yang harus di ingat meski kata-kataku sedikit merayu.
Sebab apalagi kalau bukan karena matamu yang memancarkan cahaya teduh.
Perkenalan kita yang singkat menjadi sebuah rahasia yang keramat.
Dan kuharap kamu tahu bagaimana rahasia kau genggam erat.
Meskipun semua tanpa makna dan arti namun di dalam gerimis yang terakhir
kau undang kerinduan masuk ke dalam selimut.
Di situlah baru aku paham bahwa rindu semacam kabut yang menyesatkan pandangan mata.
Aku harap kita tidak menyesal
meski akhirnya kita sadar bahwa kabut dan rindu yang kita bina
sama dengan pengkhianatan
Dan kini bangkitlah lalu katakan bahwa perpisahan adalah
hal yang terindah yang harus di ucapkan.
Walaupun kata itu sangat sederhana
di bandingkan dengan sejuta rindu dan rayu yang kau puja.
Aku kini mengerti apa arti setia sesungguhnya
yaitu bila berjumpa pada pandangan pertama jangan lalu kau berubah dan menafikan yang lama
maka setelah rindu dalam selimut terakhir terlampiaskan
semoga tak ada lagi yang tersisa kata kata cinta dan desah di setiap jengkal yang terasa

No comments:

Post a Comment