May 14, 2014

Nonfiksi

Kerinduan itu aku anggap sebuah misteri yang tersembunyi. 
Adapun maknanya ku harap kau telah mengerti.
Sebab aku bukan ahli menduga-duga walau pernah aku rasa kamu pun basah. 
Dengan segala rindu yang tumpah ke dalam celah-celah jiwa yang resah.
Kini aku memandang dirimu lebih dalam.
Sedalam aku menyelami sesuatu yang engkau sembunyikan. 
Di separuh waktu hidupku yang terlunta-lunta memuja dirimu. 
Dengan segala rupa rasa yang menggoda.
Ku seru dirimu dalam kabut bahasa rindu.
Di dalam ketamakanku menelanjangi hasrat ragamu.
Satu persatu terbukalah celah dan kau mempersilahkan aku. 
Adapun akhirnya ku harus melepaskanmu
Maka dengan gerilya aku kembali berontak.
Serabut alang-alang ku lalui di malam penuh koyak. 
Harum tubuhmu binasakan kelumpuhanku.
Dan dua dadamu adalah bunga-bunga riap dosa terselimut.
Aku mencumbuinya, aku menciuminya sore itu.
Ketika senja merapat di dermaga tua cakrawala.
Dan angin mendesah langit pun berubah warna.
Bila mana hari itu di sebut duka ialah karena rinduku.
Duhai kasih duhai pujaanku
Di dalam remang-remang aku bertahan
Sekiranya ada waktu
Di mana kah mesti berlabuh senja yang biru.

No comments:

Post a Comment