Mungkin karena tanah-tanah yang retak, atau
bukit-bukit tanpa hijauan membungkam mulut kita.
Sementara tanah kering karena kemarau haus akan hujan.
Kita tak saling berpandangan pula, kecuali gelisah
memberi pemandangan,
bak urutan cerita yang tak pernah selesai tak pernah
terungkap.
Udara panas menguap, debu-debu lincah berterbangan.
Warna langit biru dan matahari terik memanggang.
Sesekali ku lihat kau reguk air dari dalam botol bekas
anggur murahan.
Bangau-bangau putih terbang melayang lalu menukik
menyayat gelisah alam.
Sementara di dalam gerbong yang kusam kami mulai
belingsatan,
bertanya kapan sampai tujuan.
Dada seorang wanita penjual kopi membelah diantara
sesaknya penumpang.
Seorang lelaki dari dekat memanggilnya. “ Mbak, Kopi
susunya dua ”.
Debu-debu terus berterbangan sesekali singgah di wajah
dan rambut.
Keringat mulai mengucur membasahi punggung turun ke
bokong.
Angin menerobos ke dalam baju merambat ke ketiak, dan
angin memberinya kesegaran meski tanpa deodoran.
Seorang bocah duduk termenung di anak tangga di
biarkan rambutnya di belai angin.
Merampungkan lamunannya pada harapannya yang panjang
di depan.
Lewatlah lelaki buta menggandeng wanita tua.
Dan kita mengumpat, potret ketidakseimbangan terasa
lekat.
Kereta tak mengantuk dan terus berjalan.
Orang-orang lelah menundukan kepala.
Kemudian nampak pemandangan laut di kejauhan.
Dengan puluhan kapal yang terlihat diam.
Seorang lelaki gelandangan terbangun dari tidurnya.
Tangannya menggapai puntung dan menghisapnya.
Sambil berkata, ‘sebentar lagi sampai di merak’
Ya merak akhir dari perjalanan.
Lalu di dalam letih dan kepanasan kurasakan sebuah
perjuangan.
Meskipun hendak kucari di mana makna perjalanan.
Namun kubiarkan itu berlalu.
Maturnuwun kanggo, Den Rahmat Ali.
No comments:
Post a Comment