Kesaksian Bapak Saija.
Ketika mereka bacok leherku,
dan parang menghunjam ke tubuhku berulang kali,
kemudian mereka rampas kerbauku,
aku agak heran bahwa tubuhku mengucurkan darah.
Sebetulnya sebelum mereka bunuh sudah lama aku mati.
Hidup tanpa pilihan menjadi rakyat Sang Adipati
bagaikan hidup tanpa kesadarana,
sebab kesadaran dianggap tantangan kekuasaan.
Hidup tanpa daya sebab daya ditindih ketakutan.
Setiap hari seperti mati berulang kali.
Setiap saat berharap menjadi semutagar bisa tidak kelihatan.
Sekarang setelah mati baru aku menyadari bahwa ketakutan membantu penindasan,
dan sikap tidak berdaya menyuburkan ketidakadilan.
Aku sesali tatanan hidup yang mengurung rakyat sehingga tak berdaya.
Meski tahu akan dihukum tanpa dosa,
meski merasa akan dibunuh semena-mena,
sampai saat badan meregang melepas nyawa,
aku tak pernah mengangkat tangan untuk menangkis atau melawan.
Pikiran dan batin tidak berani angkat suara karena tidak punya kata-kata.
Baru sekarang setelah mati aku sadar ingin bicara memberikan kesaksian.
O, gunung dan lembah tanah Jawa!
Apakah kamu surga atau kuburan raya?
O, tanah Jawa,bunda yang bunting senantiasa,
ternyata para putramu tak mampu membelamu.
O, kali yang membawa kesuburan,
akhirnya samudera menampung air mata.
panen yang berlimpah setiap tahun bukanlah rezeki petani yang menanamnya.
O, para Adipati Tanah Jawa!
Tatanan hidup yang kalian tegakkan ternyata menjadi tatanan kemandulan.
Tatanan yang tak mampu mencerdaskan bangsa.
Akhirnya kita dijajah oleh Belanda.
Hidup tanpa pilihan adalah hidup penuh sesalam.
Rasa putus asa menjadi bara dendam.
Dendam yang tidak berdaya membusukkan kehidupan
Apa yang seharusnya diucapkan tidak menemukan kata-kata.
Apa yang seharusnya dilakukan tidak mendapat dorongannya.
Kesaksian ini kesaksian orang mati yang terlambat diucapkan.
Hendaknya ia menjadi batu nisan bagi mayatku yang dianggap hilang karena ditendang ke dalam jurang
Depok, 17 Januari 1991
No comments:
Post a Comment