bulan naik perlahan
menjelang malam di Jatinegara
minuman cap tikus di tuang ke dalam gelas
beraroma resah menusuk malam
duduk di warung kaki lima pinggir rel kereta
wanita-wanita muda dengan wangi parfum murahan merebak
wajahnya sumringah rambutnya masih basah tergerai
keluar dari gubug-gubug berjalan menyebar
menyebar iklan dari mulut-mulut yang manis
tubuhnya kini milik sang serigala
malam yang cerah
para pemabuk mulai memetik gitar
nyanyikan kesombongan kota
dan gelandangan masih memunguti sisa-sisa plastik botol minuman
waktu berjalan lamban namun pasti
gerobak-gerobak asongan mulai padat
nyalakan lampu petromak
waktunya mengais rejeki
bulan semakin jelas
tenang tak banyak bergerak
hanya birahi yang menggelinjang
tak sabar menjilati malam
raung serigala mulai terdengar panjang
seiring musik dan tawa riang
malam di jatinegara
minuman cap tikus kembali di tuangkan
masuk melalui rongga kerongkongan dan meledak
sambil melemparkan dadu
para penjudi tertawa terbahak
lelaki kecil terpojok di sudut gerbong
angannya mendekati bulan
kakinya yang korengan di garuk-garuk pelan
pelan sambil menghisap perekat
perekat sepatu cukong-cukong kota yang rusak
tak perduli korengnya yang di garuk mulai berdarah
pelan ia terus menghisapnya
handypranowo
2/15/13
2/15/13
No comments:
Post a Comment