Malam diam, orang-orang menepi di perlintasan kehidupan.
Menunggu perputaran waktu tuk sekedar bertahan.
Dari apa? untuk apa? bagaimana?
Tiba-tiba angin lewat berjalan timpang.
Bau nafas manusia tercium memburu kegelapan.
Berhamburan berbau amis dan busuk.
Menyelimuti langit, menusuk hidung malaikat Malik.
Lidah bulan keluar menjilati awan.
Sementara aku sibuk meramu kejenuhan.
Sambil melubangi dinding langit menusuk mata Tuhan.
Maka jiwaku berterbangan badai daun yang lepas dari dahan.
Bagai ikan tanpa air aku menggelepar.
Bagai burung tanpa sayap aku di bibir kematian.
Bersandarlah duka.
Bersandarlah luka.
Pada bahuku yang terkoyak meneteslah darah.
handypranowo.
Menunggu perputaran waktu tuk sekedar bertahan.
Dari apa? untuk apa? bagaimana?
Tiba-tiba angin lewat berjalan timpang.
Bau nafas manusia tercium memburu kegelapan.
Berhamburan berbau amis dan busuk.
Menyelimuti langit, menusuk hidung malaikat Malik.
Lidah bulan keluar menjilati awan.
Sementara aku sibuk meramu kejenuhan.
Sambil melubangi dinding langit menusuk mata Tuhan.
Maka jiwaku berterbangan badai daun yang lepas dari dahan.
Bagai ikan tanpa air aku menggelepar.
Bagai burung tanpa sayap aku di bibir kematian.
Bersandarlah duka.
Bersandarlah luka.
Pada bahuku yang terkoyak meneteslah darah.
handypranowo.
No comments:
Post a Comment