Tepat jam 11 siang
setelah usai upacara pemakaman ayahmu aku pamit pulang. Sebenarnya tak
kuasa juga meninggalkanmu sendiri di saat seperti ini, tapi bagaimana pun aku
harus kembali ke Jakarta.
Tatapan matamu tak lagi berair seperti tadi malam
atau saat kau lihat jenazah ayahmu masuk ke liang lahat. Wajahmu terlihat
semakin cerah di balik kerudung hitammu. Namun tetap kau cengeng kekasihku.
Bagiku ini lebih dari tanda kesetiaan cintaku untukmu. Ini adalah penghormatan
terakhir kepada ayahmu yang ku kenal baik sebelum aku memacari putri
kesayangannya.
Suara mimi menyadarkan aku kalau waktu sudah
bergerak setengah jam dari pukul sebelas tadi. Ia menyarankan untuk segera berangkat sebelum nanti ketinggalan kereta. Aku harus pergi,
jam enam sore nanti aku harus sudah di Jakarta dan masuk kerja.
Dengan menumpang elf kau antarkan aku sampai stasiun. Jam 12 siang tepat kita sudah sampai di stasiun Cirebon. Sebenarnya aku tak ingin kau antarkan aku
namun tetap kau memaksa dan mimi menginjinkanmu. Segera ku datangi loket
pembelian karcis kereta yang menuju Jakarta (Cirebon Express ). Ternyata menurut informasi petugas tiket kereta berangkat jam dua siang. Masih ada waktu dua jam bersamamu di sini untuk
bicara.
Tadi malam kau menangis hebat saat kau mendengar ayahmu telah tiada.
Aku di sampingmu, memegang erat tanganmu. Bulan terlihat cekung malam itu. Kita
baru saja selesai bertengkar. Kamu menangis seperti biasa dan memaki diriku
kalau aku lelaki yang tak bertanggung jawab dan tak sungguh-sungguh. Namun
tetap kau cengeng kekasihku. Bukankah sudah kita tahu kalau perbedaan keyakinan
ini akan membuat jurang di antara cinta kita. Tapi inilah cinta. Dan kita
sedang menikmatinya. Kedangkalan berfikir untuk bersama dibatasi oleh sebuah
perbedaan yang dalam. Nafsu dan amarah sering kita bagi dalam pelukan.
Stasiun ini
terlihat begitu lengang. Hanya ada beberapa orang yang menunggu duduk di
kursi plastik berwarna merah yang sejajar dengan jalur-jalur sepur. Beberapa pedagang asongan terlihat mengantuk di pojok-pojok bangku
stasiun kereta. Kau dekap aku. Kau bisikan padaku. Apakah aku masih sayang
padamu. Aku jawab iya. Kini semakin aku tak bisa meninggalkanmu. Aku tak
mungkin bisa. Sekeras apapun yang menghantam bagaimana aku bisa meninggalkanmu.
Ku alami kelumpuhan di dalam hatiku saat ku lihat wajahmu memelas. Kau ciumi ujung-ujung jariku. Aku menoleh dan memperhatikan kesibukanmu. Kerudung hitam tak lagi kau kenakan. Kesedihan telah pergi bersama dengan
malaikat yang datang. Kini iblis merasuki dirimu. Namun tetap kau cengeng
kekasihku.
Bukankah dua tahun kita lewati dengan sembunyi-sembunyi dan
menyelinap bersama kecoa dan nyamuk di dalam kamarmu yang sempit. Lalu
telanjang dan menari bersama bulan. Meski kita tahu semua hanyalah sekedar nafsu. Gelegak jiwa muda yang mudah oleng bila terbentur peristiwa dan kita telah jauh mengalaminya.
Aku berdiri sejenak meluruskan penatku, tiba-tiba mataku tertuju ke sebuah menara yang tidak begitu jauh dari stasiun ini. Ya itu menara gedung
Grage. Setahun yang lalu kita berkunjung ke sana, sambil menyantap masakan
khas Cirebon yaitu Empal Gentong. Kau tambah nasimu dan kau terlihat rakus dan
gendut saat itu. Kita memang mempunyai hobi yang sama yaitu kuliner ke suatu daerah yang kita kunjungi.
Matamu bulat indah, kulitmu kuning langsat membungkus daging di tubuhmu. Kau memang cantik. Aku sangat mencintaimu.
Bukan lantaran buah dadamu yang montok atau pantatmu yang gempal seperti biji salak. Namun jujur aku mencintaimu. Saat pertama kali aku melihatmu. Kau terlihat sederhana dari wanita-wanita yang pernah ku pacari. Kau terlihat lugu, polos dan ikhlas. Entah seperti magnet kau menarikku masuk ke dalam keterasingan dirimu. Kamu perawan cantik.
Matamu bulat indah, kulitmu kuning langsat membungkus daging di tubuhmu. Kau memang cantik. Aku sangat mencintaimu.
Bukan lantaran buah dadamu yang montok atau pantatmu yang gempal seperti biji salak. Namun jujur aku mencintaimu. Saat pertama kali aku melihatmu. Kau terlihat sederhana dari wanita-wanita yang pernah ku pacari. Kau terlihat lugu, polos dan ikhlas. Entah seperti magnet kau menarikku masuk ke dalam keterasingan dirimu. Kamu perawan cantik.
Tiba-tiba suara mikrofon
stasiun terdengar. Pemberitahuan dari kepala stasiun kalau dari arah utara
masuk kereta Bima menuju Jakarta. “Abang, kapan abang ajak aku naik kereta?
Tiba-tiba terdengar suaramu memecahkan kegaduhan suara mikrofon stasiun.
“Naik
kereta? Mau kemana?. Aku tak tahu. Aku tak punya ide untuk itu.
Kita diam
sejenak sambil terus memperhatikan kereta yang datang. Gemuruh kereta semakin terdengar dan melintas di depan kita duduk.
Tanpa permisi menghantam semua keresahan sepasang kekasih. Satu detik, dua
detik, tiga detik dan hitungan ke enam kereta mulai menjauh dan gemuruhnya
mulai terdengar samar. Pertanyaan mu tak kujawab ku biarkan pergi bersama
kereta itu ke Jakarta.
Setelah jauh kereta
berjalan kau bicara lagi padaku. Ini terdengar serius. Wajahmu pun terlihat
seperti tadi malam saat kau marah padaku. Satu-persatu penumpang kereta yang
menuju Jakarta mulai berdatangan. Jam satu kurang sepuluh menit. “Bapak ingin
sekali melihat aku menikah.
Tapi bapak takut, jangan-jangan aku menikah bukan
dengan abang”.
Tiba-tiba detak jangtungku seperti berhenti mendengarkan
ucapanmu. Apa yang kamu harapkan dan bapakmu inginkan aku tak tahu. Mulutku
terekat. Beberapa kali aku menelan ludahku. Kemudian dingin menggumpal di dalam
tubuhku. Bukankah kita sudah tahu setelah setahun berjalan. Kita berbeda
keyakinan. Justru belakangan ini, itulah yang membuat kita sering bertengkar.
Namun tetap kau cengeng kekasihku.
Aku memang terburu-buru. Aku memang salah mengawali semua ini.
Namun penyesalan ini tidak seperti pasang judi nomor dan melesat tembakannya.
Aku sering menghitungnya di tiap malam. Dan tiap malam itu pula kau merobek
angka pasangan ku. Aku bilang kamu diam saja. Mending kamu hitung angka
kesuburanmu sebelum aku menciummi bulan di perutmu. Kamu menangis. Kamu selalu
menangis.
Aku kembali
teringat saat terakhir melihat kondisi ayahmu. Setahun yang lalu sebelum penyakit
stroke benar-benar melumpuhkan hidupnya. Jalannya tak lagi gagah, kakinya menyeret
tanah merah yang kini telah menguburnya dalam-dalam. Aku terharu, pandangan
matanya berair saat melihat anaknya bersama pemuda brengsek yang sering mencuri
tempat belakang warungnya untuk mabuk-mabukan. Namun ku lihat beliau pasrah.
Tak berharap banyak apa yang di lihat. Beliau tersenyum aneh. Aku duduk di
samping beliau. Wajahnya lesu dan lelah. Nafasnya tersenggal sesekali terbatuk.
Belum juga genap 50 tahun. Beliau sudah letih untuk berjalan. Aku tak menyangka
kalau beliau yang seumur ayahku itu mempunyai anak yang cantik. Beliau tak
pernah mengenalkan anaknya padaku. Maka dari itu ia terkejut dan semakin lumpuh
hidupnya. Ketika beliau tahu anaknya dalam cengkramanku.
Sebentar lagi waktu
untuk berangkat. Rangkaian gerbong kereta Cirebon Express terlihat di tarik
lokomotif memasuki stasiun. Kehangatan mulai menjalar kembali diantara denyut
nadi yang bersentuhan. Di tanganmu kurasakan getaran itu. Pedagang-pedagang
asongan mulai bangun dari tidur siangnya. Berjalan kesana kemari menawarkan
dagangannya. Jam setengah dua. Suara mikrofon stasiun terdengar kembali.
Mengingatkan para penumpang yang menuju Jakarta untuk bersiap-siap. Ku seka
butiran keringat di dahimu. Wajahmu seperti enggan ku tinggalkan. Ku
perlihatkan kembali lembaran kertas putih kepadamu. Gerbong D.26. Detak jarum
jam cepat berlalu tak perduli kegelisahanku saat bersamamu. Sejuta ragu dan
pertanyaan menyumbat kepalaku. Aku lalu membanting pertanyaan itu dan
menghancurkannya berkeping-keping.
Di ujung bibirmu yang merah basah keluar
suara. “Hati-hati bang.” sambil berdiri pandanganku jauh mencari gerbong yang
sesuai tertera di lembaran karcis. Beberapa penumpang sudah berebut naik ke
dalam gerbong kereta api. Aku masih di luar berdiri di sampingmu duduk.
Lima belas menit lagi perpisahan ini datang. Stop.
Tak bisakah berhenti waktu ini sejenak. Untukku
menyelami kegelisahan dan kesedihan hatinya.
Kurasakan getaran tanganmu makin tegas saat kau bangkit. Sejuta rasa berbaur resah dengan bunyi peluit kereta yang tak ingin menunggu lama untuk bergerak. Meninggalkan stasiun ini dan dirimu yang sedih. Tubuhku limbung. Kau menangkap pinggangku. Aku tersentak lalu mencium jidatmu. Kamu memang cengeng kekasihku.
Kurasakan getaran tanganmu makin tegas saat kau bangkit. Sejuta rasa berbaur resah dengan bunyi peluit kereta yang tak ingin menunggu lama untuk bergerak. Meninggalkan stasiun ini dan dirimu yang sedih. Tubuhku limbung. Kau menangkap pinggangku. Aku tersentak lalu mencium jidatmu. Kamu memang cengeng kekasihku.
Sudahlah jangan terlalu di
pikirkan semua. Aku tunggu kamu di Jakarta. Lalu perlahan ku berjalan mendekati
pintu gerbong kereta. Bagiku ini adalah keberanian untuk mencintaimu dan juga
meninggalkanmu. Seperti apa hukumannya. Kamu dan aku suatu saat akan terpisah.
Aku tak meyakini apa yang kamu yakinkan begitupun kamu tak meyakini apa yang ku
yakinkan.
Aku sudah di dalam
gerbong. Kau berdiri dengan wajah yang lemah memandangku dalam. Rasa sakit
kembali mengurungku saat meninggalkanmu sendiri. Tuhan aku tak ingin jauh
darinya. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkannya. Hasratku adalah dirinya
yang setengah telanjang tergeletak di pangkuannya. Kelembutan dan kesabarannya yang
menohok tenggorokkanku untuk lepas dari kecanduanku terhadap alkohol dan narkoba. Hingga pernah ku muntah dan tergeletak dan kau yang menolong nyawaku.
Semalam kita bertengkar lagi dan pertengkaran yang paling hebat
di antara pertengkaran yang terjadi. Aku menyesal sungguh sangat menyesal. Aku berjanji dirimu tak mungkin pernah ku lupakan meski apapun yang terjadi nanti. Bunyi derit roda besi terdengar. Kereta
bergerak perlahan. Aku mulai mengukur jarak tempat dudukku di dalam gerbong ini
dengan dirinya yang berdiri di luar. Satu meter, dua meter, tiga meter. Hanya
terlihat tangannya terus melambai ke arah tempat dudukku. Sambil pelan langkah kakinya berjalan. Masih
dengan senyumnya yang getir.
Mataku tak lepas melihatnya hingga jauh dan ia tak
terlihat lagi. Kereta ini telah menceraikan semua kesedihan dan rasa inginku padanya yang berlebih.
Makasih buat cigarette, my little sweet.
Makasih buat cigarette, my little sweet.
No comments:
Post a Comment