July 27, 2013

Cirebon ( 27 July 2005 ).

Tepat jam 11 siang setelah usai upacara pemakaman ayahmu aku pamit pulang. Sebenarnya tak kuasa juga meninggalkanmu sendiri di saat seperti ini,  tapi bagaimana pun aku harus kembali ke Jakarta. 

Tatapan matamu tak lagi berair seperti tadi malam atau saat kau lihat jenazah ayahmu masuk ke liang lahat. Wajahmu terlihat semakin cerah di balik kerudung hitammu. Namun tetap kau cengeng kekasihku. Bagiku ini lebih dari tanda kesetiaan cintaku untukmu. Ini adalah penghormatan terakhir kepada ayahmu yang ku kenal baik sebelum aku memacari putri kesayangannya. 

Suara mimi menyadarkan aku kalau waktu sudah bergerak setengah jam dari pukul sebelas tadi. Ia menyarankan untuk segera berangkat sebelum nanti ketinggalan kereta.  Aku harus pergi, jam enam sore nanti aku harus sudah di Jakarta dan masuk kerja.
Dengan menumpang elf kau antarkan aku sampai stasiun. Jam 12 siang tepat kita sudah sampai di stasiun Cirebon. Sebenarnya aku tak ingin kau antarkan aku namun tetap kau memaksa dan mimi menginjinkanmu. Segera ku datangi loket pembelian karcis kereta yang menuju Jakarta (Cirebon Express ). Ternyata menurut informasi petugas tiket kereta berangkat jam dua siang. Masih ada waktu dua jam bersamamu di sini untuk bicara. 

Tadi malam kau menangis hebat saat kau mendengar ayahmu telah tiada. Aku di sampingmu, memegang erat tanganmu. Bulan terlihat cekung malam itu. Kita baru saja selesai bertengkar. Kamu menangis seperti biasa dan memaki diriku kalau aku lelaki yang tak bertanggung jawab dan tak sungguh-sungguh. Namun tetap kau cengeng kekasihku. Bukankah sudah kita tahu kalau perbedaan keyakinan ini akan membuat jurang di antara cinta kita. Tapi inilah cinta. Dan kita sedang menikmatinya. Kedangkalan berfikir untuk bersama dibatasi oleh sebuah perbedaan yang dalam. Nafsu dan amarah sering kita bagi dalam pelukan.

Stasiun ini terlihat begitu lengang. Hanya ada beberapa orang yang menunggu duduk di kursi plastik berwarna merah yang sejajar dengan jalur-jalur sepur. Beberapa pedagang asongan terlihat mengantuk di pojok-pojok bangku stasiun kereta. Kau dekap aku. Kau bisikan padaku. Apakah aku masih sayang padamu. Aku jawab iya. Kini semakin aku tak bisa meninggalkanmu. Aku tak mungkin bisa. Sekeras apapun yang menghantam bagaimana aku bisa meninggalkanmu. Ku alami kelumpuhan di dalam hatiku saat ku lihat wajahmu memelas. Kau ciumi ujung-ujung jariku. Aku menoleh dan memperhatikan kesibukanmu. Kerudung hitam tak lagi kau kenakan. Kesedihan telah pergi bersama dengan malaikat yang datang. Kini iblis merasuki dirimu. Namun tetap kau cengeng kekasihku. 

Bukankah dua tahun kita lewati dengan sembunyi-sembunyi dan menyelinap bersama kecoa dan nyamuk di dalam kamarmu yang sempit. Lalu telanjang dan menari bersama bulan. Meski kita tahu semua hanyalah sekedar nafsu. Gelegak jiwa muda yang mudah oleng bila terbentur peristiwa dan kita telah jauh mengalaminya.

Aku berdiri sejenak meluruskan penatku, tiba-tiba mataku tertuju ke sebuah menara yang tidak begitu jauh dari stasiun ini. Ya itu menara gedung Grage. Setahun yang lalu kita berkunjung ke sana, sambil menyantap masakan khas Cirebon yaitu Empal Gentong. Kau tambah nasimu dan kau terlihat rakus dan gendut saat itu. Kita memang mempunyai hobi yang sama yaitu kuliner ke suatu daerah yang kita kunjungi.
Matamu bulat indah, kulitmu kuning langsat membungkus daging di tubuhmu. Kau memang cantik. Aku sangat mencintaimu. 
Bukan lantaran buah dadamu yang montok atau pantatmu yang gempal seperti biji salak. Namun jujur aku mencintaimu. Saat pertama kali aku melihatmu. Kau terlihat sederhana dari wanita-wanita yang pernah ku pacari. Kau terlihat lugu, polos dan ikhlas. Entah seperti magnet kau menarikku masuk ke dalam keterasingan dirimu. Kamu perawan cantik. 

Tiba-tiba suara mikrofon stasiun terdengar. Pemberitahuan dari kepala stasiun kalau dari arah utara masuk kereta Bima menuju Jakarta. “Abang, kapan abang ajak aku naik kereta? Tiba-tiba terdengar suaramu memecahkan kegaduhan suara mikrofon stasiun. 
“Naik kereta? Mau kemana?. Aku tak tahu. Aku tak punya ide untuk itu. 
Kita diam sejenak sambil terus memperhatikan kereta yang datang. Gemuruh kereta semakin terdengar dan melintas di depan kita duduk. Tanpa permisi menghantam semua keresahan sepasang kekasih. Satu detik, dua detik, tiga detik dan hitungan ke enam kereta mulai menjauh dan gemuruhnya mulai terdengar samar. Pertanyaan mu tak kujawab ku biarkan pergi bersama kereta itu ke Jakarta.

Setelah jauh kereta berjalan kau bicara lagi padaku. Ini terdengar serius. Wajahmu pun terlihat seperti tadi malam saat kau marah padaku. Satu-persatu penumpang kereta yang menuju Jakarta mulai berdatangan. Jam satu kurang sepuluh menit. “Bapak ingin sekali melihat aku menikah. 
Tapi bapak takut, jangan-jangan aku menikah bukan dengan abang”. 
Tiba-tiba detak jangtungku seperti berhenti mendengarkan ucapanmu. Apa yang kamu harapkan dan bapakmu inginkan aku tak tahu. Mulutku terekat. Beberapa kali aku menelan ludahku. Kemudian dingin menggumpal di dalam tubuhku. Bukankah kita sudah tahu setelah setahun berjalan. Kita berbeda keyakinan. Justru belakangan ini, itulah yang membuat kita sering bertengkar. Namun tetap kau cengeng kekasihku. 

Aku memang terburu-buru. Aku memang salah mengawali semua ini. Namun penyesalan ini tidak seperti pasang judi nomor dan melesat tembakannya. Aku sering menghitungnya di tiap malam. Dan tiap malam itu pula kau merobek angka pasangan ku. Aku bilang kamu diam saja. Mending kamu hitung angka kesuburanmu sebelum aku menciummi bulan di perutmu. Kamu menangis. Kamu selalu menangis.

Aku kembali teringat saat terakhir melihat kondisi ayahmu. Setahun yang lalu sebelum penyakit stroke benar-benar melumpuhkan hidupnya. Jalannya tak lagi gagah, kakinya menyeret tanah merah yang kini telah menguburnya dalam-dalam. Aku terharu, pandangan matanya berair saat melihat anaknya bersama pemuda brengsek yang sering mencuri tempat belakang warungnya untuk mabuk-mabukan. Namun ku lihat beliau pasrah. Tak berharap banyak apa yang di lihat. Beliau tersenyum aneh. Aku duduk di samping beliau. Wajahnya lesu dan lelah. Nafasnya tersenggal sesekali terbatuk. Belum juga genap 50 tahun. Beliau sudah letih untuk berjalan. Aku tak menyangka kalau beliau yang seumur ayahku itu mempunyai anak yang cantik. Beliau tak pernah mengenalkan anaknya padaku. Maka dari itu ia terkejut dan semakin lumpuh hidupnya. Ketika beliau tahu anaknya dalam cengkramanku.

Sebentar lagi waktu untuk berangkat. Rangkaian gerbong kereta Cirebon Express terlihat di tarik lokomotif memasuki stasiun. Kehangatan mulai menjalar kembali diantara denyut nadi yang bersentuhan. Di tanganmu kurasakan getaran itu. Pedagang-pedagang asongan mulai bangun dari tidur siangnya. Berjalan kesana kemari menawarkan dagangannya. Jam setengah dua. Suara mikrofon stasiun terdengar kembali. Mengingatkan para penumpang yang menuju Jakarta untuk bersiap-siap. Ku seka butiran keringat di dahimu. Wajahmu seperti enggan ku tinggalkan. Ku perlihatkan kembali lembaran kertas putih kepadamu. Gerbong D.26. Detak jarum jam cepat berlalu tak perduli kegelisahanku saat bersamamu. Sejuta ragu dan pertanyaan menyumbat kepalaku. Aku lalu membanting pertanyaan itu dan menghancurkannya berkeping-keping. 
Di ujung bibirmu yang merah basah keluar suara. “Hati-hati bang.” sambil berdiri pandanganku jauh mencari gerbong yang sesuai tertera di lembaran karcis. Beberapa penumpang sudah berebut naik ke dalam gerbong kereta api. Aku masih di luar berdiri di sampingmu duduk. Lima belas menit lagi perpisahan ini datang. Stop. 

Tak bisakah berhenti waktu ini sejenak. Untukku menyelami kegelisahan dan kesedihan hatinya.
Kurasakan getaran tanganmu makin tegas saat kau bangkit. Sejuta rasa berbaur resah dengan bunyi peluit kereta yang tak ingin menunggu lama untuk bergerak. Meninggalkan stasiun ini dan dirimu yang sedih. Tubuhku limbung. Kau menangkap pinggangku. Aku tersentak lalu mencium jidatmu. Kamu memang cengeng kekasihku. 
Sudahlah jangan terlalu di pikirkan semua. Aku tunggu kamu di Jakarta. Lalu perlahan ku berjalan mendekati pintu gerbong kereta. Bagiku ini adalah keberanian untuk mencintaimu dan juga meninggalkanmu. Seperti apa hukumannya. Kamu dan aku suatu saat akan terpisah. 
Aku tak meyakini apa yang kamu yakinkan begitupun kamu tak meyakini apa yang ku yakinkan.

Aku sudah di dalam gerbong. Kau berdiri dengan wajah yang lemah memandangku dalam. Rasa sakit kembali mengurungku saat meninggalkanmu sendiri. Tuhan aku tak ingin jauh darinya. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkannya. Hasratku adalah dirinya yang setengah telanjang tergeletak di pangkuannya. Kelembutan dan kesabarannya yang menohok tenggorokkanku untuk lepas dari kecanduanku terhadap alkohol dan narkoba. Hingga pernah ku muntah dan tergeletak dan kau yang menolong nyawaku.

Semalam kita bertengkar lagi dan pertengkaran yang paling hebat di antara pertengkaran yang terjadi. Aku menyesal sungguh sangat menyesal. Aku berjanji dirimu tak mungkin pernah ku lupakan meski apapun yang terjadi nanti. Bunyi derit roda besi terdengar. Kereta bergerak perlahan. Aku mulai mengukur jarak tempat dudukku di dalam gerbong ini dengan dirinya yang berdiri di luar. Satu meter, dua meter, tiga meter. Hanya terlihat tangannya terus melambai ke arah tempat dudukku. Sambil pelan langkah kakinya berjalan. Masih dengan senyumnya yang getir. 
Mataku tak lepas melihatnya hingga jauh dan ia tak terlihat lagi. Kereta ini telah menceraikan semua kesedihan dan rasa inginku padanya yang berlebih.

Makasih buat cigarette, my little sweet.






No comments:

Post a Comment