Perempuan yang terkurung dalam waktu.
Menunggu yang di cinta
tak kunjung datang.
Masih sangat muda.
Ia berjalan letih di atas jembatan beton
berpagar besi karat.
Air di bawahnya mengalir hitam dan berserakan sampah.
Perutnya yang mulai membuncit tak kuasa di sembunyikan.
Buah dadanya makin
mengeras sekeras saat pertama kali di remas.
Di goda bandar narkoba berkedok
pengusaha pasrah di berikan isi selangkangannya.
Matanya yang bulat teduh
memandang tepian kali sebentar lagi maghrib datang.
Datang mengunjungi perasaannya
yang kelam.
Hampir setahun bertahan di rumah kost temannya untuk sembunyi.
Sembunyi
dari malam dan pagi.
Malam datang temannya pun datang.
Mengetuk pintu kayu
yang telah termakan waktu.
Gadis-gadis kecil di luar bermain dan bernyanyi
‘Ular
naga panjangnya bukan kepalang berjalan-jalan berlalu kian kemari’.
Teringat
masa kecilnya yang dulu.
Temannya bertanya sambil membersihkan make up di
mukanya ‘bagaimana kandunganmu ’.
Ia tersentak lalu diam matanya belum lepas
dari gadis-gadis kecil yang tertawa riang.
Di luar bulan terang mengintip di
balik jendela kaca namun udara terasa panas pengap.
Mimpinya telah musnah di
racuni hawa nafsunya.
Siapa tak kenal anggraeni wajahnya membuat lumpuh hati
pemuda.
Di tempat kerjanya ia sang ratu.
Tubuhnya sekal dadanya bulat kenyal.
Bidadari
malam julukannya.
Madu kini habis di hisap di bujuk rayuan kota yang menipu
matanya.
Perempuan yang terkurung dalam waktu.
Menunggu yang di cinta tak kunjung
datang.
Masih sangat muda.
handypranowo
No comments:
Post a Comment