July 10, 2013

Madu Anggraeni.

Perempuan yang terkurung dalam waktu.
Menunggu yang di cinta tak kunjung datang.
Masih sangat muda.
Ia berjalan letih di atas jembatan beton berpagar besi karat. 
Air di bawahnya mengalir hitam dan berserakan sampah.
Perutnya yang mulai membuncit tak kuasa di sembunyikan.

Buah dadanya makin mengeras sekeras saat pertama kali di remas.
Di goda bandar narkoba berkedok pengusaha pasrah di berikan isi selangkangannya.
Matanya yang bulat teduh memandang tepian kali sebentar lagi maghrib datang.
Datang mengunjungi perasaannya yang kelam.
Hampir setahun bertahan di rumah kost temannya untuk sembunyi.
Sembunyi dari malam dan pagi. 
Malam datang temannya pun datang.

Mengetuk pintu kayu yang telah termakan waktu. 
Gadis-gadis kecil di luar bermain dan bernyanyi 
‘Ular naga panjangnya bukan kepalang berjalan-jalan berlalu kian kemari’.
Teringat masa kecilnya yang dulu.
Temannya bertanya sambil membersihkan make up di mukanya ‘bagaimana kandunganmu ’.
Ia tersentak lalu diam matanya belum lepas dari gadis-gadis kecil yang tertawa riang.

Di luar bulan terang mengintip di balik jendela kaca namun udara terasa panas pengap.
Mimpinya telah musnah di racuni hawa nafsunya.
Siapa tak kenal anggraeni wajahnya membuat lumpuh hati pemuda.
Di tempat kerjanya ia sang ratu. 
Tubuhnya sekal dadanya bulat kenyal. 
Bidadari malam julukannya. 
Madu kini habis di hisap di bujuk rayuan kota yang menipu matanya. 
Perempuan yang terkurung dalam waktu. 
Menunggu yang di cinta tak kunjung datang. 
Masih sangat muda.

handypranowo

No comments:

Post a Comment