Waktu merambat bagai pagar hidup.
Melilit manusia dengan segala rupa bentuk.
Berdesakan berebut nafas dan tak sadar kematian menjemput.
Dari mula kita tak punya apa-apa.
Kosong dan telanjang.
Setelah tumbuh lalu mekarlah keinginan.
Segala nafsu di bentuk di paksakan dalam hidup.
Untuk apa? Sejatinya insan mesti kosong dan telanjang.
Yang harus di penuhi adalah keimanan.
Racun dusta, nafsu menggelegak dalam jiwa.
Begitulah manusia bercengkrama.
Pengkhianatan jadi slogan dan selalu di kabarkan.
Kemunafikan bagai bara dalam jiwa.
Kemenangan dan kekuasaan adalah sembahan.
Sementara Tuhan di pojokan dan di bakar dalam rumah-rumah ibadah.
Tanpa mereka perduli tentang pembalasan.
Aku terkesima.
Terbayang amarah langit ketika nanti semesta di goncangkan.
handypranowo
Melilit manusia dengan segala rupa bentuk.
Berdesakan berebut nafas dan tak sadar kematian menjemput.
Dari mula kita tak punya apa-apa.
Kosong dan telanjang.
Setelah tumbuh lalu mekarlah keinginan.
Segala nafsu di bentuk di paksakan dalam hidup.
Untuk apa? Sejatinya insan mesti kosong dan telanjang.
Yang harus di penuhi adalah keimanan.
Racun dusta, nafsu menggelegak dalam jiwa.
Begitulah manusia bercengkrama.
Pengkhianatan jadi slogan dan selalu di kabarkan.
Kemunafikan bagai bara dalam jiwa.
Kemenangan dan kekuasaan adalah sembahan.
Sementara Tuhan di pojokan dan di bakar dalam rumah-rumah ibadah.
Tanpa mereka perduli tentang pembalasan.
Aku terkesima.
Terbayang amarah langit ketika nanti semesta di goncangkan.
handypranowo
No comments:
Post a Comment