Kita sudah tak punya apa-apa.
Rumah kita tergusur oleh angkuhnya kota.
Kita harus mengungsi tapi dimana.
Wakil rakyat yang kita pilih tak memihak pada kita.
Malah membiarkan kita terlantar.
Anak kita kurang gizi sudah tiga tahun yang lalu.
Padahal aku masih ingat janji mereka pada kita Romlah.
Gerobak gorengan yang menghidupi kita di tahan satpol PP di tanah abang.
Karena aku melanggar tata tertib berjualan.
Padahal aparat-aparat itu juga masih kelaparan.
Kenapa kita yang yang di hajar di seret-seret seperti binatang.
Salah satu dari mereka ada yang masih berhutang.
Tahu isi dan pisang goreng yang di makan bareng bersama penjilat.
Penjilat yang sengaja menempelkan spanduk-spanduk omong kosong di kolong jembatan.
Lalu dengan gagahnya meniduri para wanita dan di rekam.
Apakah karena itu kita memilihnya.
Revolusi yang diajarkan Bung Karno bagai naïf di tangannya.
Tertidur di bangku yang empuk sambil mendengarkan gadget terbaru yang dicurinya dari uang rakyat.
Apakah mereka perduli dengan Negara ini Dengan kita Romlah!!
Dengan anak kita yang kakinya lumpuh sebelah.
Tidak!! sama sekali tidak.
Kita tak bisa berkutik Berkutik dan mengutak-atik nasib.
Nasib kita ya seperti ini.
Tetapi aku tetap akan berjuang Seperti Bung Tomo yang gagah berperang.
Dan aku tak ingin melacur hanya karena uang dan kedudukan.
Sabarlah Romlah Kalau kau sadar Tuhan masih sayang pada kita.
Berdoalah agar rahmatNya di turunkan untuk kita.
Jangan lagi perduli tentang penguasa-penguasa jalanan.
Yang telah menggusur kita dan membiarkan kita terlantar.
Tetaplah berdoa.
handypranowo nov-16-2010
Rumah kita tergusur oleh angkuhnya kota.
Kita harus mengungsi tapi dimana.
Wakil rakyat yang kita pilih tak memihak pada kita.
Malah membiarkan kita terlantar.
Anak kita kurang gizi sudah tiga tahun yang lalu.
Padahal aku masih ingat janji mereka pada kita Romlah.
Gerobak gorengan yang menghidupi kita di tahan satpol PP di tanah abang.
Karena aku melanggar tata tertib berjualan.
Padahal aparat-aparat itu juga masih kelaparan.
Kenapa kita yang yang di hajar di seret-seret seperti binatang.
Salah satu dari mereka ada yang masih berhutang.
Tahu isi dan pisang goreng yang di makan bareng bersama penjilat.
Penjilat yang sengaja menempelkan spanduk-spanduk omong kosong di kolong jembatan.
Lalu dengan gagahnya meniduri para wanita dan di rekam.
Apakah karena itu kita memilihnya.
Revolusi yang diajarkan Bung Karno bagai naïf di tangannya.
Tertidur di bangku yang empuk sambil mendengarkan gadget terbaru yang dicurinya dari uang rakyat.
Apakah mereka perduli dengan Negara ini Dengan kita Romlah!!
Dengan anak kita yang kakinya lumpuh sebelah.
Tidak!! sama sekali tidak.
Kita tak bisa berkutik Berkutik dan mengutak-atik nasib.
Nasib kita ya seperti ini.
Tetapi aku tetap akan berjuang Seperti Bung Tomo yang gagah berperang.
Dan aku tak ingin melacur hanya karena uang dan kedudukan.
Sabarlah Romlah Kalau kau sadar Tuhan masih sayang pada kita.
Berdoalah agar rahmatNya di turunkan untuk kita.
Jangan lagi perduli tentang penguasa-penguasa jalanan.
Yang telah menggusur kita dan membiarkan kita terlantar.
Tetaplah berdoa.
handypranowo nov-16-2010
No comments:
Post a Comment