Aku datangi kamu ketika bulan sembunyi di balik kelambu.
Mataku dan matamu bertatapan.
Masuklah jiwaku yang merah menggoda sunyi.
Membelah dadamu dengan jari-jari yang terlatih dulu.
Kita berpelukan dalam bayang-bayang semu.
Beringas bagai serigala yang lapar.
Berburu daging-daging segar dengan darah yang bergolak.
Angin menembus lembut selangkangan.
Berontak menuju pusat kegelapan.
Bau rumputan tanah basah.
Merah merekah di cakrawala.
Sebagai ular aku mendesis.
Mengarungi gelombang tubuhmu yang rawan.
Pemberontakan berkecamuk dalam remang-remang.
Bola matamu berputar-putar di awan.
Menggelepar jiwaku dan jiwamu.
Yang tertinggal hanyalah keletihan.
Keletihan yang mengandung bencana.
Sementara keringat bercucuran.
Bulan jumpalitan masuk ke dalam bumi yang telanjang.
handypranowo
No comments:
Post a Comment