July 09, 2013

Sajak Dalam Gelap.

Inilah sajakku.
Aku tulis di malam yang kasar dan angkuh.
Bulan sembunyi, bintang-bintang megap-megap meratap.
Begitu lewat jalan sunyi angin berseliweran.
Bau nafas orang-orang compang-camping berserakan di jalan.
Mengasi mimpi, menebak teka-teki hidup keterbatasan.
Aku terasing, bagai deretan gubug-gubug gelandangan.
Hasratku di jamah, di obrak-abrik tanpa perduli.

Nyala lampu temaram ku bekap.
Paru-paru yang hangus dan kecut terus menghisap udara yang kotor.
Aku mabuk dan jumpalitan.
Resah mengalir dalam sajakku.
Jiwaku terus di buru.
Seperti pelacur yang berlarian setengah telanjang,
Ketika aparat datang.
Sebab kata mereka mengobral nafsu syahwat tak baik bila di jalan.
Merusak norma-norma adab dalam masyarakat.
Tapi bila pejabat datang mereka di sewa menginap di hotel bintang lima.
Di jilat birahinya setelah itu di lemparkan kembali ke jalan.
Aku terus bergerak mengelabui malam yang kosong tanpa kehendak.

Bulan cekung mulai terlihat. cahayanya samar menebas awan.
Bintang-bintang menyala namun gagap.
Seorang lelaki tergeletak di pinggir jalan.
Entah mabuk atau di tikam keadaan.
Lalu dengan payah diriku ku bungkus dengan kesadaran.
Kesadaran akan hidup adalah perjuangan.
Akal sehat mesti di gunakan.
Hati nurani tak boleh di khianati.
Menjelang subuh adzan terdengar gemetar menyayat langit.
Sambil menahan kantuk bulan membangunkan Tuhan.

Bintang-bintang meredup.
Barisan malaikat berjajar di cakrawala menunggu titah penguasa.
Para gelandangan terbangun membereskan kardus dan kain sarungnya.
Para pelacur di lepaskan kembali setelah diinterogasi dan bayar upeti.
Dan lelaki yang tergeletak terus menulis sajak dalam gelap.
Meski sadar hidupnya terus di ancam oleh dunia yang penuh kemunafikkan.

Handy Pranowo. 2013 february.

No comments:

Post a Comment