Malam yang rabun mencekik pikiranku.
Dua linting gelisah dan satu kesunyian membungkam atas langit.
Terpojoklah aku tak berkata apa-apa tak berdaya upaya.
Urat leherku menggantung pada tiang rembulan.
Suaraku terdengar jauh menggema di antara galaksi bintang.
Jiwaku kasak kusuk mencari Tuhan.
Tuhan yang menemaniku bermalam panjang.
Teman setia yang melebihi candu yang ku genggam.
Tuhan yang mengajarkan aku cara memikat perempuan.
Dengan satu tatapan dan belaian lembut di antara selangkangan.
Aku tersiksa Tuhan, aku jatuh dan khilaf.
Lihatlah aku, lihatlah tak berdayanya aku.
Dadaku kosong jantungku entah kemana menghilang.
Pikiranku, ya kemana lagi pikiranku mengembara.
Kecuali membunuh sepi , menulis puisi, mabuk,
Menebak angka atau sebentar lagi mungkin bunuh diri.
Datanglah Tuhan, ribuan Tanya telah terpendam di lautan dalam.
Dan barisan gelisah menggeliat di cakrawala.
Bukankah kita pernah melacur bersama, bernyanyi sambil mabuk di
pinggiran jalan.
Namun kamu juga yang mengantarkan aku pulang meski tertatih
menyeretku di antara jalan-jalan gelap.
Kau juga yang membantuku mengetuk pintu rumahMu.
Lihatlah aku sekali lagi, dengan tetesan air mata yang mulai
menggenangi kalbuku. Dekaplah aku, gemetarkan urat-urat nadiku.
Berilah ribuan kecupan padaku, lihatlah kerinduanku sedemikian
akbar padaMu.
Ya Tuhan aku mencarimu.
20121204.
handypranowo
No comments:
Post a Comment