Bau dan beracun udara yang ku hirup.
Karena ada bangkai dan tumpukan sampah.
Tersangkut di tiang bambu penyangga rumahku di bantaran kali di pinggiran kota yang kumuh.
Limbah manusia, limbah pabrik mengalir menjadi busa-busa kita mandi dan mencuci.
Airnya ku minum dan kumuntahkan pada penguasa.
Botol-botol plastik yang terkumpul mengambang.
Di pungut di masukan dan di timbang.
Di timbang pada busuknya kenyataan yang mereka terima.
Karena tak ada lagi tempat berteduh.
Wanita setengah telanjang yang mandi.
Sementara lelaki tua asyik menarik rakit.
Menyeberangi anak-anak bangsa bersekolah.
Merdeka…..
Mereka tutup hidung, tutup telinga.
Namun bau semerbak kali kotor.
Tidak sewangi di gedung si penguasa.
Tiang-tiang bambu jemuran melintasi kali.
Ada kutang, baju dan celana dalam.
Merah putih berkibar di antaranya.
Sementara lelaki tua asyik menarik rakit.
Menyeberangi para karyawan bekerja di pabrik.
Si pemabuk baru saja terbangun.
Lalu muntah di pinggiran kali.
Tak menghiraukan anaknya yang menangis.
Ibunya baru saja selesai mandi.
Tadi malam nafsunya habis di jual…
Letih, terkapar , mabuk.
Ia juga tak menghiraukan anaknya yang menangis.
Di pinggiran kali kotor.
Di bawah jemuran kutang,baju dan celana dalam.
Merah putih masih berkibar setengah tiang.
Namun apa perdulinya.
Mereka tetap mencuci, kutang, baju, dan celana dalam.
Mereka mandi dan berenang di kali yang kotor.
Sementara lelaki tua asyik menghisap rokoknya.
Si pemabuk tertidur lagi.
Si anak sudah diam tak menangis.
Bermain air di pinggiran kali sambil telanjang.
Perutnya buncit hidungnya di kelilingi lalat.
Ibunya sudah selesai mandi.
Di keringkan rambutnya sambil ngopi.
Tadi malam nafsunya habis di jual.
Di pinggiran kali kotor beralas tikar.
Sementara tumpukan botol plastik tetap di pungut lalu di timbang.
Bangkai-bangkai di singkirkan.
Sampah-sampah di angkut di masukan dalam gerobak.
Lalu di buang lagi di pinggiran kali.
Dari dulu hingga kini sampai nanti.
handypranowo
Karena ada bangkai dan tumpukan sampah.
Tersangkut di tiang bambu penyangga rumahku di bantaran kali di pinggiran kota yang kumuh.
Limbah manusia, limbah pabrik mengalir menjadi busa-busa kita mandi dan mencuci.
Airnya ku minum dan kumuntahkan pada penguasa.
Botol-botol plastik yang terkumpul mengambang.
Di pungut di masukan dan di timbang.
Di timbang pada busuknya kenyataan yang mereka terima.
Karena tak ada lagi tempat berteduh.
Wanita setengah telanjang yang mandi.
Sementara lelaki tua asyik menarik rakit.
Menyeberangi anak-anak bangsa bersekolah.
Merdeka…..
Mereka tutup hidung, tutup telinga.
Namun bau semerbak kali kotor.
Tidak sewangi di gedung si penguasa.
Tiang-tiang bambu jemuran melintasi kali.
Ada kutang, baju dan celana dalam.
Merah putih berkibar di antaranya.
Sementara lelaki tua asyik menarik rakit.
Menyeberangi para karyawan bekerja di pabrik.
Si pemabuk baru saja terbangun.
Lalu muntah di pinggiran kali.
Tak menghiraukan anaknya yang menangis.
Ibunya baru saja selesai mandi.
Tadi malam nafsunya habis di jual…
Letih, terkapar , mabuk.
Ia juga tak menghiraukan anaknya yang menangis.
Di pinggiran kali kotor.
Di bawah jemuran kutang,baju dan celana dalam.
Merah putih masih berkibar setengah tiang.
Namun apa perdulinya.
Mereka tetap mencuci, kutang, baju, dan celana dalam.
Mereka mandi dan berenang di kali yang kotor.
Sementara lelaki tua asyik menghisap rokoknya.
Si pemabuk tertidur lagi.
Si anak sudah diam tak menangis.
Bermain air di pinggiran kali sambil telanjang.
Perutnya buncit hidungnya di kelilingi lalat.
Ibunya sudah selesai mandi.
Di keringkan rambutnya sambil ngopi.
Tadi malam nafsunya habis di jual.
Di pinggiran kali kotor beralas tikar.
Sementara tumpukan botol plastik tetap di pungut lalu di timbang.
Bangkai-bangkai di singkirkan.
Sampah-sampah di angkut di masukan dalam gerobak.
Lalu di buang lagi di pinggiran kali.
Dari dulu hingga kini sampai nanti.
handypranowo
No comments:
Post a Comment