March 25, 2014

Lintas membara.

Berhenti di jalan senyap ketika bulan sepenggalan naik ke punggung.
Wajahmu pecah di udara dalam lintas kenangan.
Meninggalkan jejak luka yang tersiram arak.
Bagiku kau dewi dalam gumpalan hitam.
Yang ku jamah dalam ruang yang pengap.

Betapa telah puas ku tiduri ranjang tubuhmu yang berduka.
Berlelehan amis dari koyak yang meronta di paksa.
Bau keringatmu ku jilat bagai anggur di gelas terakhir.
Dari mana kita bertemu kasih.
Dari mata yang hilang kesadaran jiwa.

Kita sembunyi-sembunyi berbagi udara di malam yang rapuh, desahmu membentur kaca jendela.
Asa yang lahir di pucuk-pucuk cinta tumbuh subur menggeliat resah.
Seperti semak belukar di pekarangan basah.
Tanganmu di punggungku melukis bunga.
Dan aku bagai kumbang menghisap dadamu yang menawan.

Pada apa yang terjadi mengalirlah.
Sebab mendung masih melahirkan tanya.
Apa hujan atau tidak.
Dan di tanah yang becek kau lumuri aku dengan gegap gempita.
Nafasmu berserakan menjadi lumpur-lumpur yang liat susah di terka.

Hingga akhirnya kita diam dan terhentak di persimpangan jalan yang senyap.
Saat hujan mulai reda dan hanya rintik-rintik yang tersisa.
Lalu kata perpisahan bagai ajimat ampuh tak berkarat.
Ku gosok-gosokkan dalam hati.
Semoga segala kecewa terpisah di sini.










No comments:

Post a Comment