March 15, 2014

Di dalam kamar kesendirian.

Lampu kamarku terlihat buram dan nampak bosan.
Dinding kamarku meriang dan batuk terkena angin malam.
Kabut asap dari mulutku berputar-putar, mabuk dan terkapar.
Aku rebahkan tubuhku.
Aku di cekik dalam kesendirian.

Nyanyian burung malam melengking menyayat kepedihan bagi mereka yang tertidur di trotoar, di kolong jembatan.
Sementara hura-hura muncul dari orang-orang yang terbiasa memperkosa.
Yang tidak pernah berbagi atas sesama.
Aku di tengah jaman yang semakin pudar rasa keimanan.
Hati nurani tidak ada lagi kecuali kalah dan menang.

Lampu kamarku semakin buram.
Dinding-dinding kamarku beku.
Bola mataku pecah dan berair.
Di mana mesti ku sandarkan mimpi.

Orang-orang di luar sana ramai bicara politik, bicara kesejahteraan.
Orang-orang di luar sana saling menggugat meminta keadilan.
Mereka saling bertengkar, saling berdebat.
Sementara waktu di ujung mulai bergeser kepada kepunahan.
Masih adakah dalam pikiran mereka untuk saling berpegangan tangan.

Entah apa yang ada dalam benakku saat ini.
Aku amati misteri hidup pelan-pelan mulai terkuak.
Bagai bongkahan batu-batu letusan gunung yang tergerus lahar.
Pecah terbelah dua dan terlihat dalamnya.

Ketakutan muncul meski jiwa harusnya tegar.
Rasa kalut dan bingung tak mungkin di pungkiri.
Di tengah euforia dunia yang menggebu-gebu kepada kuasa dan materi.
Aku ada di pihak mana, aku harus memilih apa.

Sementara Tuhan di jalan becek menunggu sambil menggigil.
Tak ada yang memberi santunan, tak ada belas kasihan.
Oh malapetaka, kacau balau isi dunia.
Dan aku bersaksi di dalam kesendirian pada mata hati yang mulai goyah.
Sebentar saja semua angan-angan dan kesombongan akan di luluh lantahkan.








No comments:

Post a Comment