Kemarin kawasan kumuh itu kebakaran entah kenapa tak ada yang mengetahui tak lama kemudian di bangun perumahan yang tak mampu nyicil di usir dan pindah ke daerah pinggiran.
Tak lama kemudian pasar tradisional itu juga kebakaran entah kenapa tak ada yang mengetahui selang beberapa bulan di bangun plaza yang tak mampu nyicil di usir dan pindah ke pinggiran.
Setelah itu rumah-rumah padat dan kumuh di pinggiran kota di sana juga kebakaran entah kenapa tak ada yang mengetahui semuanya diam dan bungkam tak lama kemudian berselang kabar rumah-rumah itu berdiri di atas tanah seorang pembesar.
Dari dulu kita paling suka membakar
Membakar barang bukti,membakar hutan,membakar amarah orang
Membakar masjid dan mimbar
Tak sadarkah kalian begitu banyak korban akibat bakar membakar. Menyulut api amarah dan serakah hanya untuk kepentingan pribadi semata tak perduli teman,sahabat atau keluarga sekalipun. Bahkan yang lebih parahnya atas nama agamapun sesama umat rela berseteru dan saling membakar
Apa sih enaknya hidup seperti ini tak bisakah kita bicara dan mencari jalan keluar atas segala masalah.
Coba lihat mereka menangis dan tak tahu harus bagaimana karena semua harta yang ia punya hangus terbakar dan ganti rugi pun hanya omong besar.
Siapa yang salah dan siapa yang harus bertanggung jawab? Pertanyaan itu seperti terbungkus dan sulit di terka.
Hidup di negeri yang kaya kenapa menjadi miskin?
Hidup di negeri yang toleran kenapa menjadi egois?
Hidup di negeri yang subur kenapa menjadi gersang?
Hidup di negeri yang aman kenapa menjadi mencekam?
Saling sikat saling hantam tak perduli teman,sahabat atau keluarga sekalipun.
Ps. Sejenak aku terdiam dan tak memahami apa yang akan terjadi nanti
Buat anak cucuku di kemudian hari yang kelak lahir di negeri ini.
No comments:
Post a Comment