March 19, 2013

Ballada Sumiati.

Dengan lembut duka menikam dada.
Mencengkeram bagai kuku-kuku garuda.
Engkau berlari membawa dosa ke dalam hutan belantara.
Selagi subuh belum membuka jendela.
Oh, Sumiati tinggalkan tanah tercinta.
Wangi tubuh, kelopak mata yang teduh.
Bunga-bunga ganja yang habis di seduh.
Teratai yang mekar di antara rambut yang terurai.
Dengan hasrat pertama di ladang kenanga tergerai.
Tenggelam dalam satu kali tatapan di ujung jalan temaram.
Meski ayah bunda melarang sebab tatapan seperti ujung senapan.
Ah, sia-sia sudah harapan yang di kandung dalam buaian.
Kemiskinan telah membutakan mata harapan.
Duhai gelisah dalam genggaman mengikuti langkah kaki.
Dengan pagi yang sunyi tersisa dalam mimpi.
Tatapan matanya mematahi ranting-ranting.
Dalam gejolak perut yang bunting.
Oh, Sumiati terus berlari nekat menempuh jalan gelap.
Di hutan belantara yang belum ia kenal dengan serigala-serigala kalap.
Bergumul dengan keterasingan yang membawanya lenyap dalam sekejap.
Mencari lelaki yang merayunya dengan sedap.


handy pranowo

No comments:

Post a Comment