March 20, 2013

Nyanyian Cinta Senja Utama.

10 jam perjalanan
Bawa semua rindu dan cinta
Sepasang manusia di mabuk kasmaran
Duduk bersama di Senja Utama
Menuju Solo Balapan
Deru roda kereta bergerak
Menggilas semua kesal dan jenuh
Di gerbong yang sesak
Penuh dengan ingatan masa kecilku
Berbaringan manusia di lantai kereta
Menunggu pagi sampai kereta ini terkahir berhenti
Kamu duduk dekat jendela
Bahumu kau rapatkan di dadaku
Tatapanmu luas keluar
Menatap  rumah-rumah berbaris dengan lampu-lampu menyala
Kita di kereta
Impianku yang dulu kini sempurna
Kau makin dekatkan tubuhmu
Buah dadamu di lenganku
Dari jauh sirene palang pintu kereta terdengar
Kita lewat dan mereka diam di tempat
Kereta semakin kencang
Tak ada lagi yang ditunggu
Semua sudah di bawa serta
……………………………..

Di tengah perjalanan kereta berjalan pelan
Diantara sawah-sawah yang membentang
Namun gelap
Hanya ada beberapa cahaya kunang-kunang
Yang terbang diantar pematang
Suara jangkrik diantara bunyi besi yang beradu
Langit malam cerah
Angin mendesir kencang dari kaca jendela yang menganga
Matamu terpejam
Gerbong kereta bergoyang pelan lalu berhenti
Suara jangkrik makin keras
Memekikan birahi di nadiku
Bulan Nampak sedikit bersinar
Dibayangi awan hitam
Matamu tetap terpejam
Yang di sampingku ialah istriku
Yang kugauli sebelum aku naiki gerbong ini
Tiba-tiba dari selatan masuk kereta cepat
Engkau tersentak dan terbangun
Aku usap lembut kepalamu dan berkata
Sebentar lagi kita sampai di Cirebon
Bunyi peluit kereta berbunyi
Kereta bergerak perlahan meninggalkan
Nyanyian jangkrik
Dan lampu kunang-kunang
………………………………..

Roda-roda berdecak beradu besi beringas
Menembus malam beradu angin
Kaki-kaki penjaja makanan di kereta
Tetap berjalan tidak diam
Udara semakin dingin
Perempuan disampingku lelap
Tinggal aku dalam kesepian
Dalam gerbong ini semua tidur
Kecuali aku dan lelaki separuh baya
Yang mengepulkan asap dari mulutnya
Rebahlah sayang rebahlah
Jakarta sudah terlampau jauh
Kereta ini telah membawa kita
Sebentar lagi Cirebon lalu Purwokerto
Rinduku sudah tak terbendung
Jembatan-jembatan raksasa dan kali-kali kecil
Sudah di lewati
Kalau kita berjalan siang mungkin kau bisa lihat
Orang-orang yang mandi dan mencuci
Peluit kereta terdengar panjang
Membelah malam sunyi
Rebahlah sayang rebahlah
Aku masih di sampingmu
……………………………

Kini kau sudah terbangun
Kau lewati stasiun Cirebon juga Purwokerto
Engkau tak tergubris dengan nada-nada penjual klanting
Dan kopi panas
Kau begitu lelap
Aku sisakan wingko babat untukmu
Rasa kelapa yang ku beli dari wanita paruh baya
Berkebaya hijau
Tatapan matanya sama jauhnya dengan rindu yang kubawa
Kau tak akan mengerti bagaimana rasa hatiku saat ini
Perjalanan ini tak sekedar bulan madu atau rekreasi biasa
Namun lebih dari itu
Sebentar lagi pagi datang menjemput
Bangunlah
Bangunlah sayang
Kuharap kau tak melewatkan
Hamparan sawah yang hijau
Dengan petani yang bekerja di sana
Bintang fajar terang bersinar
Aku tak pernah Nampak saat ku di lautan
Kereta terus bergerak
Saat pagi nanti kita tiba di Jogya
Kuharap abu merapi tak menutupi pandanganku
Warna merah menyembul di celah khatulistiwa
Bangunlah
Bangunlah sayang
Pagi sebentar lagi datang
…………………………….

Kereta berjalan pelan masuki stasiun Jogya
Tak juga lelah tak juga putus asa
Aku masih di sampingmu
Menemani perjalanan ini
Jantungku berdegup
Ku cium lembut jidatmu
Kau usap wajahmu dengan secarik tissue
Rumah tua impianmu dengan
Pagar bamboo
Sawah hijau
Dengan gunung di baliknya
Kau Nampak jelas tersenyum
Satu jam lagi kita sampai
……………………………

Matahari lembut bersinar
Embun-embun pagi terlihat basah
Menempel di ujung-ujung padi
Deru kereta yang tak lelah
Melewati perbatasan kota
Menuju solo balapan
Kau ambil kaca rias di dalam tasmu
Seperti mengerti sebentar lagi tiba
Kau berdandan aku yang kini lelap
Ada burung terbang
Petani dan sawah yang membentang
Kerbau-kerbau membajak
Anak-anak kecil berlari-larian
Sepeda ontel dan wanita berkebaya
Terlihat jelas dari luar kaca jendela
Wates..gombong
Klaten
Kita kini sampai di solo balapan
Kereta seperti tuntaskan kewajibannya
Kaki-kakinya berdenyit isyaratkan makna
Sang masinis turun dan semua penumpang turun
Aku gandeng tanganmu keluar
Inilah mimpiku di setiap malam saat ku di lautan.


Handy Pranowo

No comments:

Post a Comment