April 10, 2014

1730. Anyer

Senja mengelupas membuka tabir yang koyak serupa luka.
Meregang nyawa cakrawala bermuncratan darah di langit merah delima.
Kelelawar-kelelawar datang melayat keluar dari pohon-pohon besar dan gua-gua pekat.
Lalu angin terbang bersama awan sambil merencanakan mendung nanti malam.

Aku terpaku dalam ruang dan bentuk.
gelombang-gelombang menghantam kebisuan.
Merayapi bibir pantai, menggenangi hatiku
yang lunglai di atas pasir putih yang sekarat.

Sembilan ratus sembilan puluh sembilan malaikat turun dari langit.
Menjilati buih-buih gelombang sambil mengingat masa lalu saat tak punya sayap
untuk terbang.

Mereka berhamburan di cakrawala.
Mengitari warna matahari yang serupa manisan gula-gula, ungu dan jingga.
Yang seringkali di perebutkan anak-anak ingusan bersama iblis sebelum maghrib datang.

Matahari meleleh melambaikan tangannya.
Sejuta pesona tabir riak gelombang memantul menjadi permata.
Aku terkesima, aku terperangah.
Dalam lunglai aku mencoba bangkit.

Menterjemahkan bahasa alam yang gaib.
Semesta hidup dan tak lelah mengungkap segenap misteri.
Bagai lakon drama di sebuah pentas kehidupan.

Aku hisaplah kenangan-kenangan yang di linting dalam pengap.
maka setelah senja pergi dan burung-burung merapikan sarangnya untuk istirahat.
Ku tuang kembali anggur ke dalam gelas kaca yang bertuliskan Maryam.
Aku pergi sayang. Jangan cari lagi di manaku berada.

No comments:

Post a Comment